Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Rindu Untuk Ibu


__ADS_3

POV Gus Hafidz


saya memeluk nurain dari belakang saat dia sedang berdiri di depan cermin menyisir rambut nya yang panjang.


"rambut mu selalu harum, dan itu selalu berhasil membuat Abang terhipnotis"


dengan lembut saya membelai rambut dan leher nurain yang begitu putih dan bersih.


"masih siang bang, takut ada yang masuk gak enak"


"enggak akan ada yang masuk, pintu nya sudah Abang kunci"


"tapi bang__"


dengan segera saya membungkam mulut nurain dengan bibir saya. tak ada lagi kata yang keluar, hanya keheningan dalam nafas yang mulai tersengal di antara kami.


yah, siang ini saya melihat istri saya begitu menggoda. dan jujur saya tidak bisa menahan diri jika nurain sudah menyibakkan rambut nya dan memperlihat kan leher nya yang putih bersih.


mungkin saya seperti egois, karna tidak bisa menahan diri saya di saat nurain dilanda sebuah masalah yang belum saya ketahui.


tapi di sini saya ingin membuat nya sejenak melupakan tentang apa yang ada di pikirannya, setelah itu baru lah saya ingin mengajak nya bicara agar mau bercerita tentang siapa lelaki yang menemui nya di mall waktu itu.


saya semakin hanyut dengan indah nya kenikmatan dunia, begitupun nurain yang mulai terdengar sedikit mengerang saat saya mencoba menyentuh nya lebih dalam.


tak ada obrolan lagi di antara kami, hanya ada deru nafas yang saling memburu satu sama lain. saling menyentuh, saling merasakan, dan saling menikmati satu sama lain.


begitulah indah nya sepasang kekasih yang sudah halal. setiap sentuhan nya menjadi ladang pahala bagi kedua nya, setiap sentuhan nya menjadikan kedua nya semakin saling sayang dan saling mencintai.


"Syukron karna kamu selalu ridho melayani Abang"


saya mengecup kening nya saat nurain sedang berbaring di atas dada saya, setelah kami melaksanakan ritual ibadah kami.


"nur mau mandi dulu yah bang"


"jangan, Abang masih mau memeluk kamu"


"tapi nur berkeringat, nanti Abang bau nyium nya"


"justru Abang suka dengan bau keringat kamu. apalagi keringat itu muncul karna ulah Abang, Abang semakin candu dengan bau keringat mu"


saya mencoba menggoda nya dengan meniup bagian belakang telinga nya.


"Abang, geli ih"


"geli apa tergoda"


"apaan sih, udah ah nur mau mandi"


nurain mulai bangun namun dengan segera saya langsung menarik tangan nya dan tubuh nya pun terjatuh tepat di dada bidang saya.


"Abang bilang nanti mandi nya, kalau kamu masih kekeuh Abang lanjut ronde kedua nih"


"Abang nih"

__ADS_1


"maka nya nurut sama Abang yah"


sekali lagi saya memeluk nurain dengan penuh kasih sayang.


"sayang, Abang boleh tanya sesuatu?"


nurain menganggukkan kepala nya yang berada di bawah dagu saya.


"kenapa akhir-akhir ini kamu lebih pendiam, apa ada yang kamu pikirkan?"


nurain tidak menjawab langsung, dia hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan


"apa ada seseorang yang menyakiti hati kamu?"


saya menatap wajah nya yang berada tepat di hadapan saya


"kamu kenapa menangis? apa Abang menyakiti mu?"


tiba-tiba air mata keluar dari mata istri ku, yang membuat ku semakin merasa hawatir jika dia menyimpan kesedihan nya seorang diri


"nur kangen ibu"


kata nya dengan suara serak yang seolah mencoba menahan kesedihannya.


"besok ku ziarah ke makam nya yah, kamu jangan nangis ada Abang di sini"


saya kembali memeluk nurain untuk mencoba menenangkan hati nya.


padahal dia di sini hanya sendiri, tanpa ibu, ayah atau pun kakak nya. tapi kemarin dengan mudah nya saya membuat dia semakin merasa sendiri.


'maafkan Abang, yang belum bisa sepenuhnya mengerti kamu nur'


~


"hari ini kalian jadi pergi?"


tanya umma saat melihat saya dan nurain sudah siap-siap hendak keluar


"iya umma, tapi kaya nya hafidz dan nurain pulang nya besok karna mau ziarah ke makam ibu dulu dan nginep di rumah nurain"


"iya gak papa, sekalian kamu ajak nurain jalan-jalan biar gak jenuh di rumah terus"


"iya umma insyaallah, ya udah kita berangkat dulu yah, assalamualaikum"


"waalaikumsalam wr wb"


"sayang, kita beli sesuatu dulu yah buat mamang dan bibi"


"iya bang"


kami pun berhenti di sebuah toko kue dan toko oleh-oleh untuk membeli buah tangan.


"hafid__ bener kan hafidz?"

__ADS_1


seorang perempuan berhijab menyapa saya saat kami sedang sibuk memilih oleh-oleh yang akan di beli


"yaa Allah, apa kabar? inget gak, aku Mia teman satu kelas waktu di tempat les dulu"


saya hanya tersenyum menanggapi dan mencoba mengingat-ingat perempuan yang ada di hadapan saya sekarang


"pasti kamu lupa yah? wajar sih kita udah berapa tahun gak ketemu. Oia ini Aisyah kan? kalian udah nikah? wah,, gak nyangka yah ternyata kalian berjodoh. kalian emang serasi sih dari dulu. satu cantik satu ganteng, sama-sama pintar, sama-sama anak dari keluarga yang hebat juga. hmmm orang-orang pasti iri lihat kalian, apalagi teman-teman alumni waktu zaman les dulu. tapi ko gak ada undangan pernikahan kalian di grup?"


"maaf Mia, ini bukan Aisyah tapi ini nurain istri saya"


"oh,, maaf. aku kira Aisyah, karna terakhir lihat Aisyah juga bercadar"


"iya gak papa. saya memang belum mengundang semua teman-teman saya karna kami menikah baru ijab dulu. nanti insyaallah saat resepsi undangan nya saya sebar"


"oh iya ditunggu yah undangan nya. kalau gitu aku permisi dulu, assalamualaikum"


"waalaikumsalam wr wb"


"kamu kalau ngomong gak pake rem, gak enak kan sama istri nya tadi"


"iya, aku gak tahu"


terdengar bisikkan teman Mia saat mereka berjalan di belakang meninggalkan saya dan nurain.


sekilas saya melihat nurain, mudah-mudahan dia tidak tersinggung dengan perkataan Mia tadi.


"masih ada yang mau di beli sayang?"


"enggak bang, udah cukup"


"ya udah kita bayar sekarang"


~


setelah sampai rumah orangtua nurain, kami di sambut oleh mamang dan bibi nya yang tinggal di rumah nurain.


kami melepas rindu dengan mengobrol dan makan bersama-sama. setelah selesai kami pun langsung pergi ke makam ibu yang letak nya tidak terlalu jauh dari rumah.


nurain memeluk batu nisan seolah dia sedang memeluk ibu nya.


saya biarkan dia menangis untuk meluapkan rasa rindu nya pada ibu yang tak bisa di lihat nya lagi.


tanpa terasa air mata ini pun ikut terjatuh, karna ikut merasakan bagai mana kesedihan yang di rasakan oleh istri saya.


'ibu, raga mu sudah tak dapat kami lihat namun hafidz yakin ibu selalu melihat kami dari sana.


kini anak ibu sedang menangis menumpahkan semua rindu nya pada ibu,


do'akan hafidz agar bisa menjadi sandaran untuk kesedihannya,


do'akan hafidz agar bisa selalu membuat nya tersenyum,


do'akan hafidz agar bisa menjalankan amanah dari ibu untuk selalu menjaganya'

__ADS_1


__ADS_2