
POP Gus hafidz
hari yang di tunggu telah tiba. umma sedang sibuk menyiapkan segala sesuatunya yang akan di bawa sebagai hantaran untuk calon menantunya.
sedangkan Babah sedang sibuk menerima telpon dari sanak saudara yang ingin ikut mengantar saya menuju halal.
sebenarnya ini hanya acara sederhana yang di ketahui oleh keluarga inti saja, namun dengan cepat berita ini menyebar di keluarga besar umma dan Babah.
jadilah keluarga besar ingin ikut menyaksikan nya, kecuali sanak saudara yang tinggal jauh di luar pulau atau di luar negri tidak ikut menyaksikan. hanya mengucapkan selamat dan nanti jika sudah di gelar acara walimah nya baru lah akan hadir semua nya, insyaallah.
"assalamualaikum,,, de Abang boleh masuk?"
saya mengetuk pintu kamar Farah, namun tak ada jawaban dari nya maka saya putuskan untuk masuk tanpa ijin dari nya.
saya duduk di tepi ranjang, sedangkan Farah hanya sibuk membetulkan hijab yang hendak dipakainya.
"de,,, hari ini mungkin akan jadi awal kehidupan Abang yang baru. Abang berharap semuanya di mulai dengan hal yang baik agar berjalan dengan baik pula. maaf jika jalan yang Abang pilih tidak sesuai dengan harapan Farah. tapi Abang yakin jika pilihan Allah adalah yang paling baik"
saya berdiri lalu meninggalkan Farah yang masih diam tanpa memberi tanggapan ataupun ekspresi atas apa yang saya katakan padanya.
sebenarnya saya merasa bersedih, karna ini pertama kali nya Farah marah pada saya sampai tidak mau bicara dengan saya, bahkan di hari bahagia saya pun dia masih tidak mau bicara dengan saya.
'maafin Abang ya de, mudah-mudahan setelah Abang menikahi nurain kamu bisa dekat dengan nurain dan melupakan amarah mu'. do'a ku dalam hati.
"nak gimana udah siap?"
ternyata itu adalah Babah, yang datang ke kamar saya dan menepuk pundak saya dari belakang
"sangat siap bah insyaallah"
jawab saya yang sebenarnya sedang berusaha mengendalikan hati yang dari tadi malam terus menerus deg-degan tanpa henti
"kamu tenang nak, sebentar lagi kamu akan melewati ini semua"
Babah tertawa sambil memegang telapak tangan saya yang memang terasa dingin karna rasa nervous yang menguasai perasaan ini.
__ADS_1
"iya bah, insyaallah"
saya tersenyum kecil karna malu ketahuan oleh Babah bahwa saya sedang menyembunyikan perasaan nervous saya
"babah juga pernah ada di posisi mu, bahkan mau mau makan saja rasanya tidak bisa. tapi setelah kata sah terucap dari para saksi perasaan itu berangsur normal kembali"
saya hanya mengangguk dan tersenyum simpul.
"ya udah babah tunggu di depan ya, semua nya sudah hampir siap. sepuluh menit lagi kita berangkat"
"iya bah"
Babah pun keluar meninggalkan saya sendiri dalam kamar.
~
tiba di depan halaman rumah nurain, saya dan keluarga di sambut dengan cukup meriah oleh keluarga nya nurain.
tak lupa sholawat yang diiringi dengan pukulan rebana mengiringi langkah saya dan keluarga yang masuk ke rumah nurain satu persatu.
saya dipersilahkan duduk di depan meja yang telah di sediakan. tangan ini tiada henti-hentinya menghitung bilangan dzikir yang dibaca di dalam hati. tapi hati ini semakin tidak bisa dikendalikan dari rasa deg-degan dan nervous yang melanda.
"ya Muhammad hafidz athary, ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka bintii syafina Shidqiya Nurain 'alal mahri miah wa khomsatu wa sab'uuna jiram dzahab haalan"
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq"
"bagaimana para saksi? sah?"
SAH
semua menjawab dengan kompak saat penghulu mengatakan kata sah dihadapan para saksi dan seluruh yang hadir ditempat ini.
alhamdulillah saya bisa melafalkan ijab qobul dengan sangat lancar, dan sungguh ini adalah momen yang sangat menegangkan namun penuh haru dan kebahagiaan
tanpa terasa air mata ini mengalir dari sudut mata saya. bahagia, haru bercampur jadi satu. akhirnya saya bisa memiliki orang yang saya cintai seutuh nya tanpa ada batasan diantara kami.
__ADS_1
"silahkan mempelai wanita nya di bawa untuk duduk di samping suami nya"
kata pak penghulu kepada pihak keluarga wanita.
dan tak lama nurain datang dengan di gandeng oleh keluarganya yang sesama wanita.
aku menatap nya dengan malu, dia mengenakan gamis putih yang dipadukan dengan kain brokat, sungguh anggun penampilan nya.
namun yang membuat mata ini terpana adalah niqob putih yang ia gunakan sebagai penutup riasan di wajahnya. subhanallah walhamdulillah betapa cantik nya istriku yang kini tepat berada dihadapan saya.
kemudian nurain di arahkan untuk mencium tangan saya, ada desiran yang begitu sejuk menelusup ke dalam hati ini saat untuk pertama kalinya tangan ini menyentuh seorang perempuan yang kini halal untuk saya.
kemudian tangan ini menyentuh kepala nya sambil membaca do'a yang diajarkan oleh Rasulullah SAW
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.
ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya, amin"
do'a itu saya ucapkan dengan sekhusyu-khusyu nya. berharap ini adalah awal dari segala kebaikan dan kebahagiaan untuk kami.
nurain memejamkan matanya dengan terus mengucap kata amin saat do'a itu terucap dari lisan ini. setelah do'a selesai terucap, saya mengecup kepala nurain yang tertutup oleh hijab.
sungguh ini adalah momen yang paling bahagia dalam hidup saya. benar kata agama, jika kita menyentuh orang yang halal bagi kita maka rasa nya tak bisa dijabarkan dengan kata-kata karna terlalu bahagia yang dirasa.
"selamat ya nak, semoga kalian bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. ingat sekarang nurain adalah tanggungjawab mu. kebaikannya adalah kebaikan mu, sakitnya adalah sakit mu, aib nya adalah aib mu. maka jagalah dan didik lah dia sebaik-baiknya. karna tanggung jawab mu bukan hanya di dunia ini tapi juga kelak di akhirat"
Babah memberikan wejangan dan nasehat pada saya agar bisa menjadi imam yang Sholeh yang bisa membawa istri nya dalam kebaikan hingga kelak menuju Jannah-Nya.
"nak, ayah titipkan putri ayah satu-satunya. dia kami rawat dengan penuh kasih sayang, maka ayah pun berharap demikian dari mu. kini ayah serahkan seluruh tanggung jawab ayah atas nurain kepada mu. bawalah dia kemanapun kamu pergi, didik lah dia sebaik-baiknya didikan. jangan pernah membentaknya apalagi mengangkat tangan mu tak kala melihat kekurangan atas dirinya. tegur lah dia dengan lemah lembut jika suatu saat dia melakukan kesalahan, dan bimbing lah dia dengan penuh kesabaran dari segala sesuatu yang belum dia mengerti"
"insyaallah yah, semua amanat ayah akan hafidz jalan kan sebaik mungkin yang bisa hafidz lakukan"
sekilas ku lihat nurain yang ada di samping saya, dia menunduk dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi nya.
kamu lah istri ku, wanita pilihanku, dan kamulah sebaik-baik wanita yang akan menemani hidupku hingga ajal memisahkan, amin
__ADS_1