Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Menolak untuk berharap


__ADS_3

"tapi ko isi surat nya kaya yang belum beres" sambung Maryam


"may be" jawabku simpel


"terus gimana dong nur?" tanya asyila


"apanya yang gimana" aku balik bertanya


"yah kelanjutannya"


"end" jawabku lagi

__ADS_1


"anti jangan gitu dong, yakin anti gak butuh jawaban dari semua ini?"


aku hanya diam mendengar pertanyaan asyila, jujur ada rasa sedikit penasaran mengenai kelanjutan isi surat itu, aku juga sebenarnya butuh jawaban langsung dari Gus hafidz kenapa dia nulis seperti itu. tapi itu gak mungkin karna dia udah gak disini lagi, bahkan mungkin saat aku lulus pun dia masih diturki dan saat itu aku tidak akan bertemu dia lagi, kecuali jika aku menyempatkan diri sesekali mengunjungi pondok ini itupun belum tentu bertemu dia lagi.


"nur, ko malah bengong sih?" Maryam menepuk pelan pundak ku


"eh, iya itu sih,_"


"itu apa? jawab serius dong nur kita kan juga pengen tau" asyila langsung memotong perkataan ku


"apa sih, asli ana gak faham sama maksud anti" tanya Maryam, karna memang mereka belum tahu benar awal mula surat itu bisa ada padaku

__ADS_1


"iya ih, ko jawabannya malah bikin rumit" asyila menimpali


"jadi, itu surat yang bawa Gus Luthfi tapi bukan dikasih langsung sama yang nulisnya. Gus luthfi nemuin itu dikamar Abang nya pas masuk ke kamar nya, maka nya dia kesini buat ngasihin itu ke ana, soalnya Gus Luthfi liat ada nama ana disitu jadi dia mikir mungkin itu buat ana atau milik ana, dan Abang nya lupa buat ngasihin ke ana karna keburu berangkat ke Turki. gitu lho asinan, markonah faham?" kataku sambil memegang pipi mereka berdua dan mendekatkan wajahku ke wajah mereka sambil tersenyum manis


"enak aja ganti nama orang sembarangan" Maryam menjitak keningku dengan kencang


"aw,, sakit Iam" aku meringis sakit dan memegang keningku


"haha emang enak" Maryam tertawa puas melihatku kesakitan karna ulahnya


"oh, maksud anti Gus hafidz belum beres nulis ini dan dia keburu balik ke Turki?" asyila bertanya dengan serius

__ADS_1


"mungkin, ana juga gak tahu" aku mengangkat kedua bahu ku


"yaaahhhh,,, kalo gini harus nunggu lama dong kelanjutannya. keburu kita lulus" asyila seolah tak sabar ingin segera tahu seperti apa kelanjutan dari suratnya, begitu lah dia paling gak sabaran kalo sesuatu belum beres atau belum ada kejelasannya. kalo dipikir-pikir lucu juga, yang dapet surat siapa yang geregetan siap hehe, aku sih mungkin gak ingin terlalu berharap mengenai surat itu, apalagi sama Gus hafidz yang menurutku terlalu berbeda segalanya denganku. jadi aku memilih untuk tidak berharap pada kelanjutan surat itu karna aku takut jika aku harus kecewa pada ahirnya. toh sebentar lagi aku lulus, dan akan meninggalkan pondok pesantren ini.


__ADS_2