
Pov Aisyah
rasanya aku masih tidak percaya jika nurain akan mengalami hal seperti ini dalam kehamilannya, dan itu di sebab kan oleh ku.
aku bisa melihat dari tatapan nya yang teduh, ada sebuah kekecewaan terhadap ku karna kejadian saat hafidz menyelamatkan ku dari musibah itu.
walaupun sebenarnya itu adalah mutlak ketidaksengajaan, tapi entah kenapa aku sangat merasa bersalah pada nya.
"ka aisy, Farah ke toilet dulu yah. ka aisy duluan aja masuk masjid"
kata Farah saat kami masih berdiri di depan mesjid rumah sakit. aku hanya mengangguk.
"Aisyah,,"
sebuah panggilan membuat ku harus membalikan badan untuk melihat siapa yang memanggil. ternyata Nilam.
"gimana keadaan nurain sekarang? apa sudah ada tindakan?"
tanya Nilam dengan nada yang begitu hawatir
"lam, dokter Rini bilang kemungkinan selamat untuk nurain hanya 20%. aku__aku gak bisa ngebayangin bagaimana jika nurain gak selamat, bagaimana dengan anak nya,,,hiks,,,ini semua salah aku,,,,salah aku"
tangis yang dari tadi aku tahan, kini keluar dengan isakan yang tak bisa ku bendung lagi.
"isy, kalau pun ada yang harus di salah kan itu aku bukan kamu"
Nilam memelukku di sertai dengan tangisan yang tak kalah pilu seperti ku.
"sekarang, kita ke dalam yuk. kita do'akan agar nurain dan anak nya sama-sama selamat. kita serah kan semuanya kepada Allah"
aku pun mengangguk dan mengikuti langkah nilam masuk ke dalam masjid.
DRRTT DRRTT
sebuah panggilan masuk saat aku baru keluar dari masjid. dan itu ternyata dari ibu.
"ya Allah nak, kamu dari mana aja. ibu beberapa kali menghubungi kamu tapi gak di angkat-angkat"
suara ibu dari sebrang yang langsung menghujani ku dengan pertanyaan saat aku baru menerima panggilan nya.
memang benar, dari tadi hp ku tak henti-hentinya nya berbunyi, namun aku abaikan. bahkan beberapa pesan yang masuk pun, belum aku baca satu pun. karna terlalu fokus pada nurain, yang sekarang belum ada kejelasan atas keadaannya.
"iya Bu maaf, aisy belum sempat mengangkat panggilan telepon dari siapa pun"
"kenapa? kamu masih ada praktek? bukan nya kamu bilang hari ini kamu mau nyamperin Nilam?"
"iya, ini aku sama Nilam"
__ADS_1
"ya udah, sekarang kamu pulang ya. tadi nak Alfan ke sini, nganterin dress buat acara kalian besok, karna aisy susah dihubungi kata nya"
"aisy, belum bisa pulang Bu. aisy__aisy"
"aisy kenapa nak? apa sesuatu terjadi sama aisy ? ko suara sisy seperti abis nangis?"
"istri nya hafidz Bu__hiks"
"ko kamu malah nangis nak? kenapa sama istri nya nak hafidz?"
tanya ibu yang terdengar mulai hawatir dari suara nya
"istri nya hafidz,,, kecelakaan. dan itu gara-gara aisy__hiks,,hiks,,"
"innalilahi, sekarang aisy dimana? biar ibu samperin aisy"
aku pun menyebutkan alamat rumah sakit yang merawat nurain. aku harap dengan kehadiran ibu di sini, bisa memberikan sedikit ketenangan untuk ku, agar tidak terlalu kalut dalam kesedihan dan rasa bersalah.
~
"gimana umma? operasi nya udah di mulai?"
tanya Farah, saat aku dan dia sudah kembali ke ruang tunggu dimana nurain dirawat. sedangkan Nilam, harus kembali ke ruangan nya karna masih ada jadwal praktek.
"sudah nak, kita do'akan agar semua nya lancar dan selamat kedua nya"
kata umma sambil memeluk Farah.
sedangkan hafidz,,,,
ah, rasa nya aku belum pernah melihat dia sekhawatir ini, raut wajah nya menggambarkan betapa hancur perasaannya sekarang.
aku mengerti, hafidz pasti sangat takut kehilangan istri nya. karna dia sangat mencintai nurain, seperti aku yang,,,
"sini nak,, duduk sama umma"
aku pun mengangguk dan duduk di sebelah kanan umma, sedangkan Farah di sebelah kirinya.
"kamu jangan terlalu menyalahkan diri kamu. umma yakin, kalian tidak sengaja melakukan itu. karna umma tahu kalian sejak dari kecil"
"tapi umma, karna kejadian itu nurain harus mengalami semua ini. aisy,,,aisy sangat menyesal"
kembali, mata ini mengeluarkan tetesan bening nya, karna penyesalan ini tak bisa ku gambarkan dengan kata-kata.
"tidak sayang, semua sudah ada yang mengatur. hidup, mati, musibah, semua Allah yang menentukan. kita manusia hanya bisa sabar dan tawakal pada-Nya"
sekali lagi, umma mencoba menguatkan hati ku agar tidak terlalu terlena pada penyesalan diriku.
__ADS_1
hampir dua jam sudah, kami menunggu proses operasi nurain. tapi belum ada tanda-tanda operasi akan segera selesai.
kami semua menunggu dalam keadaan diam, dengan pemikiran masing-masing yang pasti nya sama-sama merasakan kesedihan dan harapan atas keselamatan kedua nya. Tak terkecuali ibu ku yang tadi datang untuk menyusul ku namun kini ikut menunggu bersama kami.
sesekali mata ku melihat ke arah hafidz yang terdiam sambil menunduk. mata nya merah di sertai air mata yang seolah di tahan nya agar tidak keluar.
bibir nya terus melafalkan dzikir tanpa henti seolah mencoba meminta kekuatan dan belas kasih-NYA agar mau memberikan kesempatan pada istri nya untuk bisa berkumpul lagi bersama kami.
kini dalam hati ku bukan hanya tentang rasa bersalah, tapi juga rasa cemburu yang tak bisa ku pungkiri.
cemburu melihat hafidz begitu menghawatirkan istri nya,
cemburu pada cinta hafidz yang begitu dalam untuk nurain,
cemburu pada posisi yang dulu aku dambakan namun tak bisa ku dapatkan.
TING
suara lampu ruang operasi telah berubah menjadi hijau, itu arti nya operasi telah selesai. pandangan kami semua tertuju pada pintu ruangan tersebut, saat dokter Rini mulai keluar dengan rekan-rekan nya.
"bagaimana dok keadaan istri dan anak saya?"
dengan cepat hafidz menghampiri dokter Rini, yang baru membuka masker dari wajah nya.
"hmmm, bayi nya Alhamdulillah selamat, dan dia perempuan"
"Alhamdulillah"
ucap kami serentak mengucap kan syukur
"lalu istri saya?"
"hmmm,,, dengan berat hati Tante mengatakan semua ini pada nak hafidz bahwa nurain___dia__dia mengalami koma nak"
dengan nafas yang berat dokter Rini mengatakan bagaimana keadaan nurain sekarang.
kami semua yang ada di sini, terdiam seketika. begitu pun hafidz, yang langsung menjatuhkan diri nya di atas lantai dengan air mata yang mengalir deras.
aku tahu betapa hancur perasaannya mengetahui kenyataan pahit ini. bahkan, hati ku pun sakit melihat nya seperti ini.
"kamu, harus kuat nak"
kata babah sambil merangkul putra nya yang seperti kehilangan kendali atas diri nya
"nur,,, maafin Abang,,,maafin Abang sayang,,, hiks"
tangis nya pecah, seiring tangis kami yang juga ikut merasakan kesedihannya.
__ADS_1
umma, Farah dan Babah mencoba menenangkan hafidz. namun dia masih hanyut dalam tangis nya dengan menenggelamkan kepala nya pada lutut nya, seolah penyesalan itu teramat dalam ia rasakan.
maafkan aku Hafidz, karna aku kamu harus melihat orang yang kamu cintai terbaring lemah tak sadarkan diri. maafkan aku,,, maaf hafidz