Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Perubahan sikap Naura


__ADS_3

AUTHOR


setelah pertemuan tidak sengaja antara nurain dan Aisyah di restauran, Naura menjadi lebih pendiam. dia tidak seceria lagi seperti sebelumnya.


"umi, naula kangen mama aisy, naula mau main lagi sama mama aisy"


kata Naura di suatu waktu


"Tante aisy nya sibuk sayang jadi Naura gak boleh ganggu dulu"


kata nurain sambil membelai rambut putri nya yang hitam legam.


"kalau sibuk, kenapa waktu itu mama aisy bisa main sama om Alfan tapi sama naula enggak"


"umi juga gak tahu sayang, dan umi mau mulai sekarang Naura panggil mama Aisyah Tante aja yah, karna nanti kalau Tante aisy punya anak yang boleh manggil mama hanya anak nya"


kata nurain dengan lembut namun tegas.


Naura hanya diam seolah dia mengerti jika umi nya tidak menyukai panggilan mama yang di sematkan pada Aisyah.


menjelang siang, nurain tengah sibuk di dalam dapurnya memasak makanan kesukaan suami dan putri nya.


dia begitu semangat menyiapkan semuanya, karna dari dulu nurain memang senang bergelut dengan yang nama nya masakan. bahkan saat masih menjadi santri di pondok nya Gus hafid, nurain lah yang paling sering membantu ibu nya Gus hafidz memasak jika kunjungan dari para kiai-kiai yang sengaja sowan ke pondok nya.


"masyaallah harum banget bumbu nya, masak apa sayang"


tiba-tiba seseorang yang tak lain adalah Gus hafidz memeluk nurain dari belakang


"jadi mendadak laper banget Abang"


lanjut Gus hafidz sambil memegang perut nya, seolah benar-benar merasakan lapar.


nurain hanya nyengir saat mendengar pujian dari suami nya.


"sayang, Naura kemana?"


tanya Gus hafidz yang mulai duduk di atas kursi meja makan.


"main sama ateu nya bang"


Gus hafidz hanya mengangguk faham, sebenarnya ada yang ingin dia bicarakan dengan istri nya mengenai perubahan Naura yang menjadi sedikit murung setelah pertemuan dengan Aisyah dan Alfan waktu di restauran beberapa hari yang lalu, tapi Gus hafidz seolah ragu karna takut menyinggung hati istri nya.


"Abang? ada yang dipikirkan ya?"

__ADS_1


tanya nurain sambil menyimpan hidangan yang barusan di masak nya di atas meja makan.


"enggak ko, Abang lagi gak mikirin sesuatu. ya udah kita makan yuk"


ajak Gus hafidz setelah melihat semuanya terhidang di atas meja makan


"sebentar, nur mau ambil Naura dulu biar bareng makan nya sama kita"


"gak usah sayang, di rumah umma juga Naura pasti udah disuapin"


"tapi bang,,,"


"udah, kita makan nya berdua aja. lagian kasian takut nya lagi asik main juga sama Farah atau sama umma"


"oh,, ya udah"


nurain pun menurut dan kembali duduk di kursi sebelah suami nya.


mereka pun mulai makan bersama, tanpa mengeluarkan suara hingga makanannya benar selesai di habiskan. dan itu merupakan kebiasaan mereka, yang juga mereka pelajari dari orangtua masing-masing.


~~


di satu sisi, Farah dan umma nya sedang sibuk membujuk agar Naura mau makan di rumah nenek nya.


kata farah sambil mengelus lembut rambut Naura, sedangkan yang di ajak bicara hanya menggelengkan kepala tanpa bersuara seolah enggan untuk bicara.


"atau ponakan ateu yang cantik ini mau makan masakan umi?"


sekali lagi Naura hanya menggeleng kan kepala sebagai jawaban


"kalau Naura gak mau makan ateu sama ammah juga gak mau makan kalau gitu"


sekali lagi Farah mencoba membujuk keponakan nya, tapi Naura malah menunduk sambil memainkan boneka Barbie yang dipegang nya.


"coba sini, Naura duduk di pangkuan ammah"


kini giliran umma nya Farah yang mengambil alih bicara pada cucu nya.


"Naura kenapa gak mau makan? ini kan makanan kesukaan cucu ammah. tadi ateu Farah sengaja masakin buat Naura, kalau gak dimakan kasian dong ateu nya. terus nanti makanan nya mubazir karna gak ada yang makan, nanti Allah marah gimana?"


dengan lembut umma mencoba berbicara pada cucu nya yang masih balita.


"Naura gak mau kan Allah marah sama Naura?"

__ADS_1


sekali lagi anak kecil itu hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban nya


"kalau begitu, makanannya di makan yah? biar gak mubazir juga biar cucu ammah nya cepat tumbuh dan sehat"


akhirnya setelah beberapa kali dibujuk, Naura pun mau makan walaupun hanya beberapa suap. tapi setidak nya itu sudah cukup membuat nenek dan dan tantenya merasa lega.


~~


menjelang sore, hafidz ke rumah umma nya untuk menjemput putrinya, namun entah kenapa kali ini Naura tidak mau di ajak pulang, dia masih mau tinggal di rumah neneknya.


"udah biarin fidz kalau naura masih mau main di sini, kasian kalau di paksa pulang. biar nanti Farah yang mandiin Naura, bahkan kalaupun Naura menginap disini umma malah seneng"


kata umma yang melihat anak nya seolah sudah kehabisan akal untuk membujuk cucu nya pulang, walaupun sebenarnya umma juga merasa heran dengan sikap Naura seharian ini.


dia terlihat lebih murung, gak makan dan sekarang malah gak mau di ajak pulang sama Abi nya.


"ya sudah kalau putri Abi masih mau main disini Abi ijinkan. tapi inget yah jangan buat ammah repot, harus nurut sama ammah, sama ateu sama semua yang ada di rumah ini ya sayang"


"iya Abi"


jawab Naura dengan suara pelan, atau mungkin lebih tepat nya dengan nada yang lesu.


hafidz menatap Farah yang berdiri tepat di belakang Naura, seolah meminta jawaban dengan sikap putri nya yang terlihat lebih diam tidak seperti biasanya. namun Farah hanya mengangkat kedua bahu nya, menandakan dia pun tidak tahu dengan perubahan sikap Naura.


"fidz, duduk sebentar umma mau ngobrol"


titah umma setelah Naura di bawa oleh Farah masuk ke dalam ruangan lainnya.


"sebenarnya kenapa dengan anakmu? ko umma merasa Naura seharian ini sikap nya aneh. dia tidak seceria biasanya, bahkan tadi pas mau makan pun umma dan Farah sampai harus membujuk nya berkali-kali agar dia mau makan, terus sekarang Naura juga gak mau di ajak pulang. kenapa? apa kamu atau nurain memarahi nya? atau ada sebab lain? ko perasaan umma gak enak gitu"


seperti biasa, dengan suara yang lembut umma bertanya pada hafidz mengenai perubahan sikap cucu semata wayangnya.


"hafidz, juga gak tahu umma. gak ada yang memarahi Naura baik hafidz maupun nurain, hafidz juga aneh. gak biar nya Naura bersikap kaya gitu"


"hemmm,,, menjadi orangtua itu memang tidak mudah nak. apalagi sebagai seorang ayah, selain kamu belajar memahami istri mu, kamu juga harus belajar memahami anak-anak mu. kamu harus berusaha dekati, berusaha untuk tahu apa yang sedang dialami atau di rasakan oleh anak-anak mu, terutama anak perempuan. karna biasanya sifat perempuan itu lebih rumit dari pada laki-laki. kamu mengerti kan maksud umma nak?"


"iya umma, insyaallah hafidz akan berusaha untuk jadi ayah yang baik buat anak-anak hafidz"


sebenarnya, bukan hafidz tidak tahu mengenai penyebab perubahan sikap putri nya. hafidz yakin, sebabnya itu adalah waktu mereka berpapasan dengan Aisyah.


Naura pasti sangat merindukan Aisyah, tapi anak itu tidak berani mengatakannya.


hafidz pun menjadi serba salah, bingung apa yang harus dilakukannya agar masalah ini cepat ada solusinya.

__ADS_1


__ADS_2