Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
senyumnya


__ADS_3

empat hari berlalu, dan hari ini adalah hari ujian terakhir ku. Hanya satu pelajaran saja jadi bisa selesai dengan cepat.


"Alhamdulillah selesai sudah masa ujian otak di pondok ini" kata asyila sambil rebahan di atas karpet yang memang sudah biasa tergelar di dalam kamar


"hari ini ke rumah ibu yuk, siapa tahu Bi Nani butuh bantuan kita" kata asyila mengajakku


"ayok" jawab ku semangat


aku segera mengganti baju seragam ku dengan pakaian sehari-hari begitu pun asyila.


"yuk nur, udah siap?" tanya asyila dan aku menjawab nya dengan anggukan kepala, kami pun melangkah bersama. namun saat di ambang pintu aku teringat kalau aku masih punya salah sama Gus hafidz dan aku belum meminta maaf. nanti kalau ketemu sama Gus hafidz gimana? padahal selama empat hari ini aku sudah sangat berusaha untuk tidak bertemu dengan nya, bahkan kalo kami akan berpapasan pun aku selalu menghindar dari nya, masa sekarang malah aku yang tiba-tiba kesannya yang nyamperin.


"nur,, ko berhenti? ayok" asyila meraih tangan ku


"eummm,,, kaya nya ana enggak ikut deh. anti aja ya yang ke sana"


"kenapa? takut ketemu sama Gus hafidz?" tanya asyila yang memang sudah mengetahui kejadian waktu itu dari Maryam dan Widia.


"udah gak usah malu atau takut, kalau ketemu yah bagus anti bisa minta maaf langsung sama orang nya"


"tapi syil, ana belum siap" kata ku ragu


"ya udah berarti jangan, lagian kan hari ini bukan nya keluarga ibu pada pergi ke Tasik, jadi insyaallah anti gak bakalan ketemu dulu sama Gus hafidz"


"gitu yah,,, ya udah deh ayo" kami kembali melanjutkan langkah kami menuju rumah ibu pengasuh


kami masuk melalui pintu belakang, ternyata tidak ada siapa-siapa di dapur. kami memanggil BI Nani tapi tidak ada jawaban.


"bibi kemana yah syil, ko gak ada siapa-siapa kaya nya. tapi pintu rumah gak di kunci" kata ku pada asyila yang sibuk celingukan sana sini mencari keberadaan BI Nani


"gak tahu ana juga"


"ya udah gini aja, anti cari BI Nani mungkin lagi ke kantin, ana mau cuci piring dulu, biar mempersingkat waktu" kata ku sambil membereskan piring dan gelas yang kotor dalam wastafel tempat mencuci piring

__ADS_1


"oke deh,, tapi anti gak papa kan ditinggal sendiri?"


"gak papa lah, kaya di tinggal kemana aja" aku pun mulai mencuci piring sedangkan asyila pergi ke luar untuk mencari bibi


lima belas menit, asyila atau pun bibi masih belum ada yang datang dan aku baru saja selesai mencuci piring. tadi nya ingin menyusul, tapi kulihat seperti nya lantai juga belum di sapu maka aku pun memutuskan untuk menyapu rumah terlebih dahulu


"BI,,, hafidz boleh minta tolong buat,,,,"


DEG


mata kami bertemu, Gus hafidz keluar membuka pintu kamar nya dengan memakai sarung dan kaos oblong berwarna putih serta handuk dilehernya yang dia gunakan untuk mengelap rambutnya yang basah.


"Afwan,, ana kira gak ada orang" kata ku sambil membalikkan badan ingin kembali melangkah ke dapur


"tunggu nur,," Gus hafidz menghentikan langkahku


"kalo boleh ana mau bicara sebentar" lanjut nya namun dengan nada yang seolah ragu, aku hanya diam tanpa berbalik ke arah nya


"apa tidak ada maaf untuk ana di hati anti?"


aku diam, begitupun Gus hafidz. dia tidak bertanya kembali, mungkin masih menunggu jawaban dari ku.


"Afwan gus,,, jika kata-kata ana kemarin begitu lancang dan menyinggung perasaan antum. ana tidak bermaksud,,,"


"bukan,,,ini bukan ana tersinggung dengan ucapan anti waktu itu. justru ana mau minta maaf tentang surat yang pernah ana tulis sehingga membuat kekacauan di hidup anti, dan membuat anti begitu benci pada ana" ku dengar dari nada nya, Gus hafidz benar-benar merasa bersalah atas apa yang terjadi waktu itu, waktu aku di hukum atas kesalahpahaman yang tidak bisa aku luruskan selain hanya bisa diam sebagai jawaban.


"iya Gus tidak apa-apa, ana udah mafin antum juga lagian"


"Syukron,," kata nya, aku hanya menganggukkan kepala dan bersiap hendak melangkah kembali ke dapur


"tunggu,,, ana,,, ana ,,,mau tanya satu hal lagi. eummm,,,setelah anti membaca apa yang ana tulis, kira-kira apa tanggapan anti?"


"tanggapan?" aku sedikit bingung dengan pertanyaan Gus hafidz lontarkan

__ADS_1


"iya maksudnya,, apa anti juga,,,eumm,,,itu,,jadi,,eeuuummm,,, astaghfirullah" dia seolah sangat sulit untuk mengatakannya, hingga berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar. aku tersenyum melihat tingkah nya yang menurutku itu sesuatu yang sangat langka aku lihat dari seorang Gus hafidz yang begitu dingin dan acuh pada orang lain.


"Gus,,, kalo antum tidak bisa melanjutkan perkataan antum alangkah baik nya tidak usah dipaksakan" kata ku masih dengan posisi membelakanginya. bukan bermaksud tidak sopan hanya saja aku masih belum berani jika harus bertatap muka dengannya, aku malu apalagi di sini hanya ada aku dan Gus hafidz.


"Afwan,, mungkin ini bukan waktu yang tepat buat ana menanyakan nya langsung kepada anti" kata nya lagi dengan nada seolah menyesal


"kalo memang tidak ada lagi yang mau di katakan, ana pamit ke belakang, assalamualaikum" aku melangkah ke dapur, namun saat sampai di ambang pintu ku hentikan langkah ku


"Gus,,"


"ya" jawab Gus hafidz spontan dengan langsung melihat ke arah ku dari pintu kamar nya


"Afwan, waktu itu perkataan ana begitu lancang dan keterlaluan. ana hanya masih kesal karna antum tiba-tiba ada dihadapan ana sebagai penguji, yang membuat konsentrasi ana sedikit buyar. mengenai surat itu ana sudah memaafkan antum, ana ikhlas karna itu bukan sepenuhnya salah antum. kalau pun ana tidak di hukum karna alasan risalah dari antum, mungkin ana juga akan mendapat hukuman karna alasan lainnya. jika memang Allah sudah menggariskan itu untuk ana. tidak ada yang ana sesalkan karna ana yakin pada hakikatnya semua takdir Allah itu indah, selama kita bisa mengambil hikmah di setiap peristiwa. assalamualaikum"


"waalaikumsalam" jawab nya pelan disertai dengan senyuman yang mengembang. jujur aku terpesona oleh senyumnya karna baru kali ini dia tersenyum dengan tulus dihadapan ku.


"assalamualaikum" pintu dapur terbuka, ternyata itu BI Nani


"waalaikumsalam,,, BI mana asyila?" tanya ku saat melihat hanya bibi yang datang


"neng asyila? bibi gak tahu neng, bibi ke sini sendiri ko" jawab bibi seperti bingung dengan pertanyaan ku


"tadi asyila ke luar buat nyari bibi, tapi kaya nya gak ketemu yah"


"oh,, kirain apa. iya kaya nya gak ketemu sama bibi nya"


"emang bibi habis dari mana?"


"bibi habis dari kantin putra buat ngasih tahu mang Udin kalo besok bapa nyuruh buat ngambil durian di kebun belakang pesantren"


"ohh,,,pantes gak ketemu"


tapi kemana asyila ya, ko masih belum kembali juga.,,,,

__ADS_1


__ADS_2