Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Hanya Dia


__ADS_3

POV Gus hafidz


Hari ini seharusnya saya berangkat ke Tasik menemui Abah dari umma, tapi saat ke kantor bertemu dengan ustadz Hambal dan beliau meminta saya untuk menjadi penguji di ruang dua putri, rasanya tidak enak jika menolak. maka saya putuskan untuk mengundur kepergian saya ke Tasik satu atau dua hari saja.


"tapi tadz saya boleh minta tolong, kalo bisa nama saya di papan nama pake nama ini aja" kata saya menyerahkan satu nama yang sudah saya tulis


"lho,,, kenapa gak nama antum aja Gus?"


"ya,,, ini kan juga sama nama saya. Gus hafidz athary tapi nama hafidz nya jangan ditulis. untuk sekarang cukup Agus athary aja" kata saya menjelaskan, namun ustadz Hambali hanya menjawab dengan anggukan disertai senyum yang seolah dipaksakan. mungkin beliau merasa aneh pada permintaan saya. tapi gak papa ini semua demi melihat dia,,,nurain.


~


menuju ruangan dua, santri putri yang hadir langsung berdiri tak kala saya melewati mereka. tapi saya sepertinya tidak melihat nurain diantara mereka, apa mungkin saya salah baca tadi waktu melihat map yang berisi absensi nama-nama peserta ujian di ruang dua? tapi masa iya salah? walau begitu saya terus melangkah menuju ruangan dan duduk di bangku yang bertuliskan ustadz Agus athary. gak papa lah sama aja ini juga nama saya. saya tersenyum sendiri kalau ingat nama Agus. nurain,,, lagi-lagi dia selalu memberikan senyuman yang berbeda untuk saya.


bel masuk berbunyi, pertanda ujian akan segera di mulai. untuk urutan absensi ustadzah Mila yang akan memanggilnya. dimulai dari yang pertama bernama widia. tidak butuh waktu lama hanya dua puluh lima menit semua pertanyaan sudah selesai di berikan. selanjutnya nomor urutan ke dua, dan ternyata itu,,,nama Nurain yang di panggil. saya bersiap dengan membetulkan posisi duduk saya, menetralkan perasaan saya agar tidak terlihat salting di hadapannya.


"assalamualaikum" kata seseorang yang tak lain adalah nurain. dia masuk dengan kepala yang terus menunduk. saya melihat nya dengan leluasa dari ambang pintu hingga dia duduk di atas kursi nya. ahhh,,, rasa nya senang sekali melihat seseorang yang kita suka ada di hadapan kita. tapi saya tidak bisa mengekspresikan perasaan itu. karna saya bukan mahrom nya.


dia duduk dengan begitu anggun, saat hendak mengangkat wajahnya saya buru-buru mengalihkan perhatian saya dari nya. bismillah,, untuk ujian lisannya saya lah yang akan memberikan soal pertamanya. semoga dia diberi kelancaran untuk bisa menjawab setiap soal yang diberikan oleh para penguji khususnya saya. saya mulai membacakan soal pertama namun dia tidak langsung menjawab nya, dia diam dengan wajah yang tidak bisa saya mengerti apa dia lupa? atau kehadiran saya membuat konsentrasi nya buyar. saya tidak tahu tapi yang jelas entah mengapa saya merasa bersalah atas hal itu. afwan nur,,, mudah-mudahan lupa nya anti bukan karna adanya saya.

__ADS_1


~


beberapa jam berlalu, semua satri putri diruang dua khususnya sudah selesai mengikuti ujian lisan. ustadzah Mila pamit lebih dulu untuk meninggalkan kelas, sedangkan saya dan ustadz Hambal menyusul setelah ustadzah Mila. saya berjalan sambil mengobrol dengan ustadz Hambal dan saya dengar seseorang yang menyebut saya dalam obrolannya. awalnya saya cuek dan tidak ingin tahu sampai saya mendengar seseorang mengatakan,,,,


"mau tau anti orang nya? biar ana yang jawab. orang nya tuh yang nyebelin, sok jutek, sok dingin, sok cool, suka tebar pesona, pokoknya orang nya nyebelin banget dan ana gak suka lihat dia. apalagi gara-gara dia ana jadi,," teman di samping nya menghentikan perkataan nya setelah menyadari kehadiran saya


"enggak,, ana belum beres. pokok nya ana sebel,,, sebel banget sama dia, keseeellll,,, dasar Agus" dia masih bersikeras mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dengan begitu semangat. ustadz Hambal ingin menegur nya namun saya melarang nya dengan isyarat. hingga teman nya menyapa saya dan itu berhasil membuat nya terdiam, saya penasaran apa yang akan di lakukan ya setelah mengetahui bahwa orang yang dia bicarakan ternyata berada tepat dibelakang nya.


tak ada teguran dari saya, dia masih diam dengan mematung entah apa yang dipikirkannya, sampai akhirnya dia melakukan sesuatu yang tidak saya duga. dia berlari begitu kencang tanpa melihat ke arah siapa pun. ingin rasa nya tertawa melihat tingkah nya yang menurut saya itu sangat lucu, tapi ini di depan umum maka saya harus menjaga sikap saya. temannya hanya melihat nya dengan mata yang membulat lebar, hingga merekapun pamit berjalan mendahului.


~


"Gus Afwan ya sikap santri putri tadi, saya benar-benar malu atas sikap nya tadi yang begitu berani mengatakan sesuatu yang tidak pantas tentang antum" kata Gus Hambal saat kami sedang duduk di bangku kerja kami masing-masing


"enggak apa-apa ustadz nama nya juga anak-anak"


"tapi tadi itu memang keterlaluan, biar nanti saya kasih tahu ustadzah Mila agar anak nya diberikan teguran atas ucapannya"


"tidak perlu ustadz, saya tidak apa-apa. lagian kan kita tidak bisa memaksa untuk semua orang suka sama kita, kita juga tidak bisa mencegah orang lain untuk tidak berpikir jelek tentang kita termasuk santri putri tadi. lagian dia mengatakan semua itu kan pada temannya bukan pada saya langsung, hanya kebetulan saya ada dibelakang nya. lagian saya menganggap jika dia mengatakan itu dalam rangka curhat pada temannya. itu kan sudah biasa dikalangan anak perempuan iya kan. jadi gak usah di tegur gak apa-apa"

__ADS_1


"iya sih saya paham, hanya saja tadi saat dia ketahuan menjelek-jelekkan antum, dia bukannya minta maaf malah kabur gitu aja"


"iya gak apa-apa ustadz, kasian kalo sampai dia dihukum apalagi sekarang lagi pada pokus sama ujiannya"


"baiklah kalo memang begitu, tapi sekali lagi saya benar-benar minta maaf atas kejadian tadi" kata ustadz Hambal dengan wajah yang merasa bersalah.


~


"nak, gimana tadi ujian nya. apa para santri putri menjawab setiap soalnya dengan lancar?" tanya umma saat saya sudah ada di dalam rumah


"Alhamdulillah umma,,, yah begitu lah ada yang lancar ada juga yang lupa-lupa ingat" jawab saya


dengan tersenyum


"gimana nurain? apa dia bisa jawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh penguji?"


"ko umma nanya begitu?" saya bertanya balik dengan heran


"kenapa? kamu bingung umma bisa nanya itu? bukannya nurain tadi di ruangan dua dan kamu juga nguji di situ kan?" saya tidak langsung menjawab nya, karna sebenarnya saya malu jika umma juga tahu kalau salah satu alasan saya menguji di ruangan itu karna ada nurain.

__ADS_1


"ko gak jawab? nurain lancarkan jawab nya? apalagi kalo pelajaran kitab nahwu dia paling cerdas diantara teman-temannya, bahkan bait kitab jurumiyah dulu dia yang pertama selesai menghafal nya" kata umma memuji kecerdasan nurain. entah maksud umma apa dengan mengatakan semua itu pada saya, mungkin kah itu adalah tanda bahwa umma setuju jika saya bersama nurain? tapi bagaimana dengan Babah apa beliau juga akan setuju? karna beliau pernah bilang kalau beliau berharap bisa besanan dengan sahabat nya. yang berarti beliau ingin saya dan Aisyah berjodo. tapi kalaupun seperti itu maka saya akan berusaha membuat Babah mengerti bahwa saya hanya ingin nurain dan hanya mencintai nurain, insyaallah.


__ADS_2