Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Bukan keluarga


__ADS_3

POV Gus hafidz


"umi,,, naula kangen mama Aisy"


kata Naura putri ku, di suatu siang saat saya dan nurain sedang mengajak nya bermain di sekitaran pondok.


"Naura mau enggak kalau kita jalan-jalan keluar sambil beli boneka?"


tanya nurain seolah mencoba mengalihkan perhatian putri kami agar tidak membahas tentang Aisyah yang sudah hampir dua bulan lama nya tidak pernah berkunjung lagi ke rumah, padahal hampir setiap hari nya dia ada di sekitar pondok tepat nya praktek kembali di pondok kami.


bahkan sesekali saya bertemu dengan nya tapi kami tidak seperti dulu, yang selalu akrab. sekarang suasana nya berbeda, kami seperti orang asing yang hanya saling menunduk atau hanya sekedar mengucap salam saat bertemu.


bukan apa-apa, saya hanya tidak ingin membuat kesalahpahaman seperti dulu. dan ini pun saya lakukan demi menjaga perasaan nurain, Alhamdulillah Aisyah pun sepertinya mengerti dengan keadaan saya sekarang.


"assalamu'alaikum,,,"


"waalaikumsalam,,, kebetulan Abang ke sini, ada yang mau Farah omongin sama Abang"


kata Farah sambil menghampiri saat saya baru masuk ke dalam rumah umma.


yah rumah umma dan Babah, karna sekarang saya dan nurain sudah tinggal di rumah yang berbeda walaupun masih di lingkungan pesantren.


"kanapa de? eh,, tapi umma dan Babah kemana? Abang ada perlu"


"ke pondok nengok Lutfi tadi subuh"


"ko gak ajak-ajak Abang?"


"kata nya, mau ada perlu ke rumah sahabat Babah dulu setelah dari pondok nya Lutfi, jadi umma sama Babah cuma berangkat berdua"


"oh"


jawab ku singkat


"Abang sini duduk, Farah mau ngomong serius"


Farah menepuk kursi yang didudukinya, saya pun menurut dengan duduk di samping nya.


"Abang,,, Farah mau minta tolong sama Abang buat ngasih pengertian sama teh nur, baikan sama KA aisy. bagaimana pun KA aisy itu keluarga kita juga, Farah gak nyaman kalau harus terus-menerus seperti ini. kasian Naura, dia selalu nanyain KA aisy. Farah juga rindu sebenarnya sama KA aisy"

__ADS_1


terlihat sekali kesedihan di wajah Farah saat mengatakan semua itu.


sebenarnya sudah beberapa kali saya mencoba memberi pengertian pada nurain mengenai kedekatan Naura dan keluarga ini dengan Aisyah.


"jika kedekatan keluarga Abang dan dokter aisy, nur bisa mengerti. karna bagaimanapun keluarga Abang lebih dulu kenal dan menjalin persahabatan dengan keluarga dokter Aisyah. tapi jika dengan Naura, maaf nur belum bisa sepenuhnya menerima. karna Naura putri nur bukan dokter Aisyah"


selalu itu yang dikatakan oleh nurain, jika saya meminta pengertiannya tentang kedekatan Aisyah dan naura.


"Abang,,,please. Farah minta tolong yah sama Abang"


sekali lagi Farah memohon kepada saya


"insyaallah, nanti Abang coba bicara dengan nurain"


setelah selesai bicara dengan Farah, saya pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah yang tak jauh dari rumah orang tua saya, yakni masih di sekitar pondok hanya saja terhalang beberapa kelas dan asrama.


~"~


"Abang,,, kira-kira Abang kapan ada waktu luang?"


tanya nurain saat saya sedang sibuk membuat sketsa gambaran pameran seni yang di minta oleh Miss reyan untuk pembangunan cabang daerah Bandung dua Bulan mendatang.


"kenapa memang nya?"


"nur mau main ke rumah ayah, lagian Naura juga sepertinya jenuh jika harus di rumah terus"


nurain menyentuh pundak saya sambil memijatnya dengan pelan, begitulah kebiasaan istri ku tercinta jika menyampaikan keinginannya yang di pendam.


"kamu mau nya kapan?"


saya berbalik dan mengecup tangan nurain


"terserah Abang aja, asal jangan mengganggu waktu kerja dan ngajar Abang"


"heeeummm,,, kalau Minggu depan bagaimana? karna Abang harus menyelesaikan pekerjaan Abang dulu, setelah itu insyaallah Abang punya waktu luang buat kita pergi kemana pun Yang istri dan putri Abang minta, asal jangan ke luar negri aja karna waktunya enggak mungkin cukup hehe"


"siapa juga yang minta ke luar negri, orang minta buat jenguk ayah aja, tapi kalau pun Abang ngajak nya ke luar negri juga boleh hihi"


"heeemm,,, dasar"

__ADS_1


saya pun mencubit hidung nurain dengan gemas


"ya udah nur mau ke depan dulu yah bang, mau nyusul Naura lagi maen sama Satri putri"


"sayang,,"


"ya?"


nurain menghentikan langkah nya dan kembali melihat ke arah saya yang masih duduk di atas kursi kerja saya.


"eummm,,, boleh bicara sebentar?"


"boleh dong, emang nya Abang mau bicara apa?"


nurain kembali menghampiri saya, namun kali ini posisi nya dia duduk di atas kursi yang ada di dekat meja satu nya, di hadapan saya.


sebenarnya saya ragu mengatakan nya pada nurain, mengenai permintaan dari Farah dua hari yang lalu ahar saya mencoba meminta pengertian nurain tentang Aisyah dan Naura, tapi,,,


"Abang? ko malah bengong"


"eumm,,, begini, sebenarnya apa yang mau Abang bicarakan adalah hal yang masih sama dengan sebelumnya yaitu,,,"


"tentang dokter Aisyah?"


dengan cepat nurain bisa mengerti apa yang ingin saya sampaikan pada nya


"sayang, apa sebaiknya kamu berbaikan sama Aisyah? maksud Abang kamu coba berdamai dengan waktu dan hati kamu untuk bisa mengerti mengenai Aisyah yang dekat dengan Naura. lagian sekarang, putri kita sudah lebih dekat dengan kamu, ibu nya. bukan apa-apa, hanya saja Abang merasa jika kita terlalu menjaga jarak dengan Aisyah dan itu berdampak pada kedekatan Babah dan ayah nya Aisyah yang sejak dulu bersahabat. Abang hanya tidak mau, jika ada orang yang beranggapan karna hal kecil persahabatan dan persaudaraan antara dua keluarga menjadi jauh"


"apa itu anggapan keluarga Abang pada nur? yaitu menjadi penyebab jauh nya atau retak nya kedekatan antara keluarga Abang dan dokter Aisyah? kalau iya, maaf bang nur tidak pernah melarang dokter Aisyah untuk sering main ataupun berkunjung ke rumah Babah dan umma. nur hanya minta agar dokter Aisyah memberikan waktu buat nur bisa lebih dekat dengan putri nur sendiri, memberikan waktu buat nur mengganti tahun-tahun yang tidak bisa nur lewati dengan putri nur, hanya itu bang. apa itu salah?"


ada bulir bening di sana yang hendak keluar dari tempatnya, namun istri ku seolah menahan nya agar jangan sampai keluar dari pertahanan nya.


"bukan gitu maksud Abang sayang, Abang hanya tidak mau ada jarak dalam keluarga kita"


"maaf bang, untuk sekarang nur masih belum bisa membahas tentang dokter Aisyah di rumah kita. dan___doktet Aisyah bukan keluarga nur"


DEG


untuk pertama kalinya saya mendengar nurain membeda-bedakan orang yang jelas-jelas sudah dianggap keluarga sendiri, bahkan dulu nurain lah yang selalu menganggap siapa saja di pondok ini adalah keluarga nya, tapi sekarang,,,

__ADS_1


ah,,, sepertinya saya salah bicara, sehingga nurain salah mengartikan maksud dari perkataan saya dan secara tidak sengaja saya pasti sudah membuat hati nya tersinggung.


sampai kapan masalah tentang Aisyah ini akan berakhir ??


__ADS_2