Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Menjadi Imam


__ADS_3

POV Gus hafidz


saya terus berjalan menghampiri Farah yang masih tersenyum senang menyambut saya dengan terus melambaikan tangannya pada saya


"assalamualaikum de" saya menghampiri nya dengan senyum bahagia setelah hampir tiga bulan lama nya tidak bertemu


"waalaikumsalam,,, Abang seneng banget Abang pulang" kata Farah mencium tangan saya kemudian memeluk saya dengan erat. itu bukan hal yang aneh untuk saya karna dia memang adik perempuan saya satu-satunya jadi tak heran jika sifatnya sedikit manja.


"ya udah kita berangkat sekarang, Abang udah gak sabar mau ketemu umma dan Babah" kata saya setelah menyimpan koper yang saya bawa ke dalam bagasi mobil


"nanti dulu bang" Farah mencegah saya saat hendak menutup pintu mobil


"ada apa lagi dek?" tanya saya penasaran


"tunggu, seseorang lagi ke toilet dulu jadi kita harus nunggu dia" kata Farah sambil melihat-lihat ke arah luar seperti mencari seseorang


"siapa?" tanya saya heran


"tuh" kata nya sambil menunjuk ke arah orang yang lalu lalang. saya pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Farah


"siapa de? emang ada yang ikut jemput Abang selain kamu?" masih dengan penasaran saya kembali bertanya. karna saya tidak melihat orang yang saya kenal saat Farah menunjuk ke arah kerumunan orang tadi.


"itu Abang,,, lihat nya selain pake mata juga pake hati dong" saya pun kembali melihat ke arah yang ditunjuk oleh Farah. ternyata seorang perempuan dengan cadar yang sudah saya kenal sedang berjalan menuju mobil kami.


"assalamualaikum, fidz" sapa nya saat hendak masuk ke dalam mobil


"waalaikumsalam wr wb" jawab saya dengan sedikit senyum. bukan tidak suka, hanya saja saya tidak tahu ternyata Aisyah juga ikut menjemput saya dan itu membuat saya sedikit canggung.


"gimana fidz sehat?"


"Alhamdulillah ana sehat, gimana kabar paman dan Tante dirumah isy?"


"Alhamdulillah mereka sehat"

__ADS_1


kami pun mulai menjalankan mobil yang di bawa oleh ustadz Ilham. beliau merupakan salah satu ustadz di pondok saya dan merupakan salah satu ustadz yang dipercaya Babah dan umma untuk membawa mobil jika hendak mengantarkan siapa pun keluarga yang hendak pergi.


selama perjalanan menuju pondok hanya Farah yang asik bercerita tentang semua hal yang kemudian ditanggapi oleh Aisyah dengan senang sedangkan saya lebih banyak diam dan hanya sesekali menyimak apa yang mereka obrolkan.


"kira-kira kapan Abang wisuda?" tanya Farah saat saya sedang asik memejamkan mata sambil menyandarkan kepala di kursi mobil


"sekita sepuluh harian lagi" jawab saya tanpa berpaling


"berarti nanti kita semua bakalan ke Turki lagi, seneng nya. ka aisy ikut aja ya" kata Farah semangat, saya hanya diam tanpa menanggapi.


"insyaallah,,, kalo Abang nya Farah mengijinkan tentu nya" jawab Aisyah menanggapi


"Abang pasti bolehin lah, kan Abang sama ka aisy udah Deket dari kecil di tambah Abang dan ka aisy kan juga sahabatan. ya kan bang" lagi-lagi Farah melempar kan pertanyaan itu pada saya


"iya" jawab saya singkat


"udah Farah kasian jangan ganggu Abang mu terus biarkan hafidz istirahat selama perjalanan" ku dengar Aisyah yang berbicara


"perhatian banget sih ka aisy, ya udah deh Farah gak ganggu Abang lagi, selamat istirahat Abang sayang" kata Farah sambil mengusap kasar rambutku, dan saya hanya diam tanpa menanggapi karna tubuh ini memang terasa sangat lelah.


~


"udah sampe ustadz?" tanya saya pada ustadz Ilham yang masih serius menyetir


"iya alhamdulillah Gus sebentar lagi masuk pondok" jawab nya yang menatap saya sekilas lalu fokus kembali menyetir


"wah,, Afwan ya saya malah ketiduran bukannya nemenin ustadz ngobrol selama perjalanan"


"gak papa Gus, ana mafhum ko pasti Gus hafidz capek abis perjalanan jauh"


saya melihat ke belakang sebentar, ternyata Aisyah dan Farah tengah tertidur pulas dengan wajah yang ditutupi oleh hijab masing-masing.


sementara itu di dapan pak satpam sedang membuka gerbang sambil tersenyum dan menunduk sopan saat saya membuka kaca jendela mobil dan menyapa nya dengan tersenyum ramah kepada nya. begitupun para santri yang sedang lalu lalang mendadak berhenti dan berdiri sambil menunduk tanda hormat saat melihat mobil yang saya tumpangi masuk ke dalam pekarangan pondok pesantren.

__ADS_1


mobil melewati mereka satu persatu, saya hanya menatap lurus sambil duduk tenang di dalam mobil. sampai di depan minimarket pesantren, pandangan saya teralihkan pada sosok yang ada di dalam minimarket tersebut. pada sosok yang tengah berdiri sambil tersenyum pada lawan bicaranya. sosok itu adalah sosok yang amat saya rindukan, dan yang ingin saya lihat tak kala memasuki pondok pesantren.


"nur,,," tanpa sadar bibir ini menyebut nama nya


"iya Gus,, kenapa?" tanya ustadz Ilham yang mungkin mendengar saya mengatakan sesuatu


"tidak ustadz" jawab saya sedikit salah tingkah karna takut ustadz Ilham mendengar saya menyebut nama seseorang. tapi sepertinya tidak karna beliau tidak bertanya kembali


"Alhamdulillah sudah sampe ternyata" kata Farah yang baru terbangun dari tidur nya, pun Aisyah juga sama baru terbangun dari tidurnya.


kami semua turun dari mobil, dan tak lama Abah, umma dan Luthfi adik saya keluar dari rumah menyambut kedatangan kami.


"Abang,,," kata Luthfi sambil berlari kecil dan langsung memeluk saya


"Ade Abang nambah embul aja kaya nya" kata saya meledek Luthfi sambil mencubit gemas pipi nya yang memang terlihat semakin tembem


"umma" saya menyalami umma dengan Hidmat dan langsung memeluk nya


"Babah" kemudian berlanjut menyalami dan memeluk Babah


"ya sudah kita masuk yuk,,, umma udah siapin makanan di dalem,,,, ustadz Ilham juga sama ikut kita makan bersama di dalem yah"


"iya bu,, saya parkir kan mobil dulu" kata ustadz Ilham dengan sopan. sedangkan kami semua masuk kedalam beriringan.


~


menjelang azan magrib saya sudah rapi hendak melaksanakan sholat berjamaah di mesjid bersama para santri.


"Abang mau ke mesjid? Luthfi ikut ya!" kata Lutfhi adik saya yang masih sibuk mengenakan sarung dengan sendiri


"hebat Ade Abang udah bisa pake sarung sendiri" saya memuji Luthfi sebagai bentuk penghargaan atas usaha nya, walaupun sebenarnya masih belum benar mamakai nya "tapi Abang benerin dikit ya biar lebih rapi" saya berjongkok membenarkan posisi yang letak nya kurang rapi.


"ya udah kita berangkat" saya memegang tangan Lutfi sambil melangkah menuju mesjid.

__ADS_1


semua santri sudah rapi pada sap nya masing-masing. namun saat saya masuk ke dalam semua santri putra menunduk tanda hormat. tak ada yang bergeming untuk bersalaman karna waktu untuk sholat magrib sangat pendek. jadi Babah mengisyaratkan pada santri putra khususnya untuk berada pada sap nya masing-masing


"hafidz,,, biar kamu yang jadi imam hari ini" kata babah saat saya sudah berada di barisan paling depan. dengan patuh saya menuruti perintah Babah. biasa nya saya jadi imam jika Babah sedang berhalangan untuk berjamaah. tapi kali ini Babah justru yang jadi salah satu makmum saya. dan itu membuat saya ragu dan gugup. bismillahi,,,


__ADS_2