
"anak ibu,,,, bangga nya ibu dan ayah sama kamu nak" kata ibu sambil memelukku dengan erat saat acara wisuda kelulusan selesai
"sini ayah mau peluk putri ayah yang cantik" kini giliran ayah ku yang memeluk dan mencium keningku dengan penuh kasih sayang
"makasih ayah, ibu udah support dan bimbing Ade. tapi sayang Abang gak Dateng, padahal kan Ade mau kita foto keluarga lengkap buat kenangan dan di pajang di rumah" aku merajuk karna kakak ku tidak bisa menghadiri wisuda kelulusan ku
"bukan gak Dateng de, tapi telat Dateng nya" tiba-tiba suara yang sangat ku kenal terdengar dari arah belakang ibu
"Abang" aku memeluk kakak ku satu-satunya "kirain gak bakalan Dateng"
"Dateng lah, kan Abang udah janji waktu itu buat ngambil cuti tahunan pas Ade wisuda kelulusan biar Abang bisa hadir. cuma yah,, gitu Abang gak bisa hadir dari awal maaf yah"
"iya gak papa,, yang penting Abang gak telat buat foto bareng hihi" kami pun tertawa bersama
setelah selesai berfoto keluarga, ibu meminta ku untuk sowan ke rumah ibu pengasuh sebelum pamit pulang ke rumah.
"kami mengucapkan banyak terimakasih kepada pak Kiai dan ibu nyai karna sudah mendidik anak kami dengan penuh keikhlasan dan kesabaran"
kata ayah saat kami sudah duduk bersama ayah kiai dan ibu pengasuh di ruang tamu
"tidak perlu berterimakasih pak karna itu sudah menjadi kewajiban kami untuk mendidik dan membimbing Santri-santri kami" kata kiai dengan begitu bijak. aku hanya diam menyimak obrolan antara orangtuaku dan pak kiai
~
"masyaallah sahabat ku, selamat ya buat prestasinya" Maryam menghampiri sambil memelukku dengan erat
"Afwan ya Iam" kata ku dengan nada bersalah, karna entah kenapa aku jadi merasa tidak enak pada Maryam yang selalu jadi juara.
"ko minta maaf buat apa?" tanya Maryam tak mengerti
"iya,, maaf untuk tadi. ana jadi gak enak kan harus nya anti yang maju ke depan"
"yaa Allah nur kirain ana apa, itu bukan sebuah kesalahan. lagian ana yang selalu lebih unggul dari anti bukan berarti di akhir juga harus begitu kan? roda aja berputar karna ada yang mengendalikan. begitupun kita tidak akan selalu diposisi yang sama karna ada yang mengatur yaitu Allah" kata Maryam dengan tersenyum simpul
"yah,,, begitulah sahabat ku memang selalu paling the best" aku memeluk Maryam dengan penuh kasih sayang
"orangtua anti udah pulang yah? ana belum sempet ketemu tadi" kata Maryam dengan mimik penyesalan
"gak papa kan tadi pada sibuk, ana juga gak sempet ketemu sama orangtua anti. tapi kalau asyila tadi udah ketemu sih pas pamitan sekalian"
__ADS_1
"iya ana juga ketemu tadi di gerbang, kirain asyila mau pulang bareng kita besok tau nya enggak. tapi gak papa nanti kita main ke rumah nya aja" kata Maryam lagi
"bentar lagi adzan magrib, nanti abis sholat kita ke rumah ibu yuk bantu-bantu pasti bibi lagi repot banget tamu ke rumah" ajak ku pada Maryam, yang di sambut dengan acungan jempolnya tanda setuju dengan ajakan ku
~
"assalamualaikum,,,bibi" aku dan Maryam masuk melalui pintu belakang dan langsung memeluk bibi berbarengan
"kirain neng Maryam dan neng nurain udah pada pulang sebelum ketemu sama bibi"
"enggak lah BI, sengaja kita pulang nya besok biar bisa ketemu bibi dulu. kita juga sebenarnya sedih besok udah bakalan jarang ketemu bibi"
"iya BI, Iam sama nur minta maaf ya kalau punya salah sama bibi selama mondok di sini"
"gak ada yang pernah punya salah sama bibi. mau itu neng Maryam, neng nurain, neng asyila ataupun eneng-eneng lainnya. yang ada bibi makasih banget khususnya sama neng berdua yang selalu bantu bibi, temenin bibi ngobrol juga"
kami pun kembali saling berpelukan. ah,, sungguh hati ini jadi mellow banget.
"BI,,, boleh minta di buatin susu jahe buat Abah sama Babah?" terdengar suara Ning Farah yang memanggil dari balik dalam
"iya neng, bibi buatin"
"BI,, Abah sama nyai lagi pada disini yah?" tanya ku saat bibi hendak membuatkan susu jahe yang di minta Ning Farah
"oh pantes,, rame banget"
"BI,, biar nurain aja yang anterin susu jahe nya ke dalam. kasian dari tadi bibi pasti capek" kata Maryam tiba-tiba saat bibi hendak membawa nampan yang berisi gelas
"ko ana?"
"yah,,, siapa lagi dong. kasian tahu nur bibi capek, ana kan lagi cuci piring tanggung. jadi yang bisa anterin gelas itu ke dalam cuma anti disini"
Maryam seolah sengaja agar aku yang mengantarkan gelas-gelas itu ke dalam, entah lah apa maksud nya tapi yang jelas aku gak berani kalau harus masuk kedalam. pasti di sana ada Gus hafidz juga, aku masih malu ketemu beliau sejak waktu itu.
sejak saat berbicara untuk saling memaafkan,
sejak saat saling bertemu pandang yang tanpa di sengaja,
sejak saat melihat tatapan nya dan senyumannya yang hangat,
__ADS_1
sejak saat itulah hati ini seperti berbeda,
"nur, buruan. nanti keburu dingin susu jahe nya"
"ya udah neng biar bibi aja, kasian neng nurain"
"enggak bi, biar nur aja gak papa. bibi duduk aja" sebenarnya aku deg-degan saat bilang itu ke bibi
"neng yakin?" tanya bibi yang seperti tahu kalau aku sebenarnya gak berani masuk kedalam, apalagi keluarga besar lagi kumpul semua.
"insyaallah bi,,! bismillah" aku pun melangkah masuk kedalam ruang tamu dengan membawa nampan
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam wr wb" jawab keluarga besar ibu pengasuh dengan langsung mengalihkan pandangannya ke arah ku.
masyaallah ko jadi keluar keringat dingin gini. padahal cuma nganterin gelas buat Babah dan Abah. tapi malu nya udah kaya apa. apalagi dilihat sama semua keluarga besar ibu pengasuh, rasanya ini kaki tidak menapak di atas bumi saking deg-degan nya.
"lho, ternyata nurain masih disini kirain udah pulang" ibu pengasuh tersenyum simpul kepada ku saat gelas-gelas yang kubawa diletakan diatas meja
"iya belum bu, insyaallah besok baru pulang"
"ini teh yang tadi jadi Santri teladan kan?" tanya salah seorang perempuan yang memakai hijab berwarna Sage green yang tak lain beliau adalah adik dari ibu pengasuh.
aku hanya tersenyum dan menunduk sopan, sebagain jawaban dari pertanyaan nya.
"iya,, nama nya syafina shidqya nurain, sini nur duduk sama ibu" kata ibu mengalihkan perkataan nya kepada ku
"makasih Bu, nur di belakang aja mau bantu bibi" tolak ku dengan sopan
"sini duduk dulu bentar, biar ibu kenalkan sama keluarga besar ibu" tanpa ragu ibu langsung menarik ku agar duduk ikut bergabung dengan keluarga beliau.
"nih,,, yang ini nama nya Halimah adik ibu,,, ini nama nya Zara adik bungsu ibu,,, yang ini nama nya Hasna,,,,"
ibu menyebutkan nama keluarga nya satu persatu. mulai dari adik beliau, kakak beliau, sepupu, Tante bahkan dari keluarga Babah pun beliau kenalkan kepada ku. jujur aku merasa bangga karna dikenalkan secara langsung oleh ibu kepada keluarga besar nya. padahal aku hanya lah santri biasa tapi seolah diperlakukan tidak biasa oleh ibu pengasuh.
setelah selesai dikenalkan kepada keluarga beliau, aku langsung minta ijin untuk kembali ke dapur karna sungkan jika harus berlama-lama di dalam. aku berjalan dengan terus menundukkan kepala, sampai-sampai,,,,
BUkk
__ADS_1
kepala ku menabrak tiang pintu ke arah dapur. 'aww,,.sakit banget' aku melihat ke arah kiri kanan, 'tiang ko kamu gak bilang sih kalau ada di depan aku, jadinya kita tabrakan kan. tapi disini aku gak salah ya, karna kamu yang duluan ada disini. jadi aku gak usah minta maaf yah, kan yang sakit kepala aku. tapi kamu juga sakit engal yah? ya udah lah maafin aku yang udah nabrak kamu, oke aku juga maafin kamu'
kata ku bicara sendiri sambil mengusap tiang yang tadi aku tabrak, padahal gak harus gitu juga kan. tapi entah lah itu udah kebiasaan ku dari kecil selalu minta maaf jika menabrak suatu benda walaupun sebenarnya yang merasakan sakit nya itu aku.