Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Hanya Tentang Kita


__ADS_3

"kamu jaga putri umma baik-baik di sini, jangan sampai lalai apalagi melakukan kesalahan"


"siap umma"


Gus hafidz memberi hormat layak nya seorang bawahan pada atasannya.


'ternyata keluarga ini begitu hangat kalau sedang berkumpul' aku tersenyum sambil memperhatikan keluarga dari suami ku


"jangan terlalu lama di sini ya fidz karna pesantren membutuhkan kamu. dan Babah juga titip agar kalian selalu saling menjaga dan menyayangi"


Babah menepuk punggung Gus hafidz lalu memeluk nya sebentar


"ka mut sama Abang di sini jangan lama-lama ya, Luthfi kangen belajar sama ka mut"


"iya siap ganteng ku"


"neng bibi pamit pulang duluan ya, neng disini hati-hati sama Gus hafidz juga, jagain neng nurain baik-baik ya"


"iya BI"


jawab ku dan Gus hafidz berbarengan


"ning___"


"umma aku tunggu di dekat pintu masuk situ ya"


belum selesai aku bicara, Ning Farah langsung berkata sambil menunjuk ke arah pintu pemeriksaan bandara.


apa mungkin dia tadi tidak melihat dan mendengar ku yang ingin bicara pada nya untuk mengucapkan selamat tinggal sebelum berangkat?


sebenarnya aku merasa aneh atas sikap nya terhadap ku, karna kalau di pikir-pikir semenjak aku menikah dengan Gus hafidz, tak pernah sekali pun kami saling sapa saat bertemu. bahkan Ning Farah seolah menghindari ku.


tapi kenapa? apa aku punya salah?


ah, mungkin ini hanya perasaan ku saja.


~


"sayang, hari ini kamu mau jalan-jalan kemana?"


tanya Gus hafidz saat kita sudah berada dalam mobil setelah mengantar keluarga ke bandara.


"nur ikut Abang aja"


"bagaimana kalau kita ke cafe atau kamu mau belanja apa gitu?"


"belanja? belanja apa ya, nur gak tahu. pokok nya kemana Abang bawa nur, nur pasti suka tempat itu"


kata ku sambil tersenyum melihat ke arah nya


"kayak nya sekarang istri Abang udah mulai bisa sedikit romantis setelah kejadian tadi malam"


Gus hafidz melihat ke arah ku dengan tatapan meledek


"apaan sih, udah jangan di bahas lagi. nur malu"


"tapi Abang gak malu, justru Abang mau lagi"


"Abang kalau terus ngelantur ngomong nya, nur mau pulang aja ah"


"pulang? boleh asal seharian kita di kamar terus ya"


masih dengan kenakalan nya, Gus hafidz semakin suka menggodaku dan membuat ku malu


"ciee yang marah"


Gus hafidz menyentuh dagu ku, saat aku pura-pura marah dan memalingkan wajah ku menatap ke arah jendela di samping ku


"kalau kamu marah kaya gini, Abang semakin gak sabar buat nerkam kamu lagi lho"


"ihhh,,, apaan sih. Abang tuh omes banget"

__ADS_1


"gak apa-apa sama istri sendiri ini"


kami pun hanyut dalam obrolan dan canda tawa yang mengiringi perjalanan kami.


~


"kita di mana bang?"


tanya ku saat kami berhenti di salah satu tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya.


"coba tebak ini dimana?"


Gus hafidz malah menjawab pertanyaan ku dengan balik bertanya pada ku


"nur gak tahu lah bang, ini baru pertama kali nya nur ke sini"


"sudah Abang duga, kalau kamu belum membuka bingkisan yang waktu itu Abang kasih"


"bingkisan?"


aku menatap bingung pada Gus hafidz


"iya bingkisan yang waktu Abang kasih dekat gerbang pesantren, saat anti mau pulang"


"astaghfirullah, iya nur lupa. maaf ya bukan nur tidak menghargai pemberian Abang. tapi waktu itu pas nur pulang__nur__hiks"


aku malah menangis sebelum meneruskan apa yang ingin aku katakan waktu itu pada Gus hafidz


"loh,,loh,, ko malah nangis istri Abang yang cantik ini"


dengan segera Gus hafidz memeluk ku dan mengusap air mata ku yang berjatuhan membasahi pipi ku


"gak usah di terusin ya sayang, Abang gak tersinggung atau marah ko sama kamu. Sekarang di sini kita buat ngabisin waktu kita jadi jangan sedih-sedihan ya"


aku hanya tersenyum dan membalas pelukan hangat dari suami ku.


yah, hari ini bukan waktu nya aku untuk menangis karna ibu sudah berada di tempat paling aman dan paling indah.


"Abang mau nunjukin sesuatu sama istri Abang. tapi kita duduk di sana dulu yuk"


"Abang mau nunjukin apa tadi?"


tanya ku saat kami sudah duduk di atas kursi


"eumm,,, sebentar"


Gus hafidz mengeluarkan ponsel nya lalu mengotak Atik isi dari ponsel nya, entah apa yang mau di tunjukan nya terhadap ku


"ini dia"


Gus hafidz menunjukan sebuah foto lukisan mesjid yang ada di hadapan ku, namun,,,


"ko ada nama nur nya bang? Abang kapan buat lukisan nya?"


tanya ku penasaran


"ini Abang buat sebelum istri Abang ini di wisuda kemarin, dan Abang sengaja buat lukisan ini untuk hadiah kelulusan kamu"


"jadi__bingkisan yang Abang kasih waktu itu isi nya lukisan ini?"


Gus hafidz hanya mengangguk pasti


"ya Allah,, maafin nur ya belum sempet buka hadiah dari Abang"


kata ku dengan penuh penyesalan karna seolah mengabaikan hasil usaha dari suami ku


"tapi nanti kalau kita udah pulang ke Indonesia, nur pasti bakalan langsung buka bingkisan nya dan nur langsung pasang di kamar kita"


"gak perlu nunggu ke Indonesia, nanti setelah dari sini kamu bisa membuka dan memajang nya langsung di kamar kita"


"loh?"

__ADS_1


"karna Abang udah bawa lukisan nya ke sini"


"yaa Allah Abang, maafin nur ya kesannya nur gak menghargai pemberian Abang"


"enggak ko, Abang ngerti sayang nya Abang ini kemarin-kemarin sedang dalam keadaan berkabung jadi belum sempat buat memperhatikan sekitar nya"


"Syukron ya karna Abang baik banget sama nur"


"eeumm, cuma Syukron aja?"


"terus?"


"Abang juga mau hadiah dong dari istri Abang"


"apa?"


"eumm,,,hadiah nya__"


Gus hafidz menggerak-gerakkan kedua alis nya ke atas dan ke bawah


"apa sih bang, nur gak ngerti"


"masa gak paham, itu lho hadiahnya___nanti malam kamu harus pake pakaian yang lebih tipis dari kemarin malam"


bisik nya dengan nada yang menggoda lalu berjalan meninggalkan aku yang masih duduk tersipu karna ucapan nya yang mengingatkan ku pada malam pertama kita.


'jadi malu sendiri kan aku, dasar punya suami ko omes banget sih' kata ku dalam hati


~


"hafidz"


seseorang memanggil Gus hafidz saat kami sedang makan malam di sebuah restoran dekat apartemen kami.


"ternyata kita bertemu lagi"


"maaf"


"astaga,,, aku Yasmin, yang kamu tolong waktu tangannya kejepit dan juga temen dari sepupu kamu Arif. masa kamu lupa kemarin kan kita ketemu di acara wisuda kamu"


tiba-tiba perempuan yang bernama Yasmin itu duduk di salah satu kursi meja yang kami pesan


"oh,, iya saya ingat"


kata Gus hafidz dengan nada datar nya. seperti dulu, dingin dan datar. tapi kenapa yah, aku suka sifat nya yang seperti ini sekarang apalagi ditunjukan pada perempuan lain, hehe apa aku egois?


"eumm,, boleh saya bergabung dengan kalian?"


tanya nya dengan melihat ke arah ku dan ke arah Gus hafidz secara bergantian


"***__"


"tidak"


Gus hafidz langsung memotong perkataan saya yang hendak mengijinkannya untuk bergabung bareng kami


"oh,, baiklah kalau begitu. maaf jika saya sudah mengganggu waktu kalian. saya permisi kalau begitu, selamat malam"


ada gurat kekecewaan pada wajah cantik perempuan yang bernama Yasmin saat meninggalkan meja kami. aku jadi penasaran, apakah Yasmin menyukai Gus hafidz, suami ku?


"Abang,, apa Abang pernah ada hubungan dengan Yasmin?"


tanya ku dengan hati-hati karna takut salah bicara


"loh ko istri Abang nanya nya gitu? tadi kan kita sama-sama denger gimana awal pertemuan Abang dan dia. jadi gak ada istilah pernah ada sesuatu diantara Abang dan dia"


Gus hafidz menggenggam tangan ku erat seolah ingin meyakinkan aku bahwa memang tidak ada hubungan antara mereka.


"tapi kaya nya__"


"udah ya sayang, ini waktu untuk kita. jadi yang harus kita bahas ya hanya tentang kita dan masa depan kita bukan orang lain"

__ADS_1


sekali lagi Gus hafidz selalu membuat perasaan ku yang takut menjadi tenang, yang dingin menjadi hangat, dan yang sepi menjadi berisi.


semoga Allah selalu menjaga hubungan ini dengan penuh cinta dan kepercayaan satu sama lain. amin


__ADS_2