Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Kedatangan Aisyah


__ADS_3

POP Gus hafidz


"Alhamdulillah putra putri umma sudah datang dengan selamat"


umma menyambut kedatang kami dengan penuh bahagia, begitu pun Babah dan Luthfi yang langsung berhamburan memeluk ku dan nurain.


tapi tidak dengan Farah, dia hanya tersenyum kecil ke arah kami. bahkan saat nurain menyalaminya, Farah tak bereaksi. dia masih dengan sikap nya yang dingin, dan sepertinya belum mau menerima nurain dengan sepenuh nya.


"umma, bah, Farah mohon ijin mau siap-siap keluar karna sudah ada janji dengan teman untuk menghadiri acara pernikahan"


"loh, ko dadakan nak? padahal Abang dan nurain baru sampai. masa kamu malah pergi, kan kita mau makan bareng"


kata umma yang seperti mencoba mencegah kepergian Farah


"kan nanti malam juga bisa kalau hanya makan bareng. lagian gak enak kalau Farah gak hadir, udah janji juga masa gak jadi datang"


"ya sudah gak papa umma, biarin aja. gak enak kalau Farah sudah janji sama teman nya, toh hafidz sama nurain disini juga bukan untuk waktu yang sebentar. jadi biarin aja Farah pergi, nanti malam kita bisa kumpul-kumpul lagi, insyaallah"


kata Abah dengan bijak


"ya udah lah kalau gitu, tapi pulang nya jangan terlalu sore ya nak"


"iya umma. ya udah umma Farah ke dalam dulu mau siap-siap"


"de kamu beneran mau ke acara nikahan temen atau mau menghindari Abang sama nurain?"


tanya saya saat bertemu di dapur, Farah hendak mengambil sepatu nya dan saya sedang mengambil air


"kenapa juga Farah harus menghindari Abang?"


"ya itu kenapa? kamu sendiri yang tahu jawaban nya"


Farah tidak menjawab. dia hanya fokus pada sepatu pantofel yang ingin di pakai nya


"de, Abang minta agar kamu jangan bersikap dingin sama istri Abang. kamu boleh marah sama Abang tapi jangan bawa-bawa nurain, karna dia gak tahu apa soal ini"


Farah menghentikan langkah nya yang baru beberapa langkah dari pintu dapur


"gak tahu lah bang, disini siapa yang salah. tapi satu yang Farah tahu, kalau Abang liat istri Abang, itu selalu buat Farah ingat sama kesedihan ka Aisy. bahkan sampai detik ini ka aish masih belum mau balas atau angkat telpon dari Farah"


saya hanya diam menatap punggung Farah yang berjalan semakin jauh


'seandainya kamu bisa ngerti posisi Abang de'


~


"kamu dari mana sayang?"


"dari kamar Gus Lutfi, abis bacain cerita sebelum tidur"


"oh kirain dari mana"


"bang, eumm__nur mau nanya sesuatu boleh?"

__ADS_1


"boleh dong, kenapa harus ijin dulu"


kami sama-sama duduk di tepi ranjang saling berhadapan. saya melepas peniti yang masih setia bertengger di hijab yang dipakai nya.


"kamu mau nanya apa sayang? ko malah diam"


"dokter Aisyah kenapa gak hadir di acara akad nikah kita?"


saya langsung mengalihkan pandangan saya pada nurain


"ya,, mungkin lagi sibuk. lagian kan acara itu hanya di hadiri oleh keluarga dekat aja sayang"


"oh, tapi bukan karna dokter Aisyah kecewa sama Abang kan?"


"ko bilang gitu"


"karna tadi siang nur gak sengaja denger percakapan Abang sama Ning Farah di dapur"


saya masih diam, karna bingung harus menjawab apa. saya takut nurain akan merasa bersedih dan tidak nyaman jika mengetahui semuanya. apalagi saat ini senyum nya baru kembali setelah kepergian ibu nya.


"apa itu juga alasan Ning Farah selalu bersikap dingin sama nur?"


tanya nya lagi yang semakin membuat saya serba salah dalam menjawab.


"kita gak usah bahas orang lain di kamar kita ya sayang. apalagi ini sudah malam mending kita tidur istirahat"


"kenapa? Abang takut nur sedih ya makanya gak mau jawab?"


"insyaallah nur gak akan sedih, asal Abang mau cerita sama nur biar nur juga bisa tahu harus bersikap gimana sama dokter Aisyah dan Ning Farah"


"hmm,, yah Aisyah memang menyukai Abang dan Farah juga mau nya Abang menikah dengan Aisyah. tapi Abang gak bisa karna yang Abang cinta dan Abang sayang cuma kamu bukan Aisyah. walau pun kami berteman dari kecil tapi bukan jaminan untuk Abang cinta kan sama dia?"


"terus ning Farah gak setuju kalau Abang nikah sama nur?"


"mungkin bukan gak setuju hanya saja belum mau berlapang dada atas takdir Allah. tapi Abang yakin cepat atau lambat Farah akan menerima pernikahan kita.begitu pun Aisyah"


"amin, insyaallah"


"ya udah kita gak usah ngebahas itu lagi ya. Abang capek mau tidur sambil meluk istri Abang yang cantik ini"


saya pun memeluk nurain dan membaringkannya di samping saya


"ngomong-ngomong kamari malam waktu di Turki, kita lanjutin sini yuk mengpeng suasana udah sepi"


"ih,, dasar omes"


kata nya sambil menarik janggut tipis saya. dan kami pun hanyut dalam tawa canda kami sebelum benar-benar tertidur


~


seminggu sudah saya dan nurain berada di pondok. nurain sibuk dengan kegiatannya mengajar di MI yang ada di pondok ini. sedang saya sibuk mengajar para santri sambil membuat karya tulis dan seni untuk di kirimkan ke Turki atau pun untuk di jual di di Indonesia.


"fidz, sini nak. Babah mau bicara sama kamu"

__ADS_1


siang itu saat saya baru pulang mengajar dari madrasah


"begini, kamu kan sudah seminggu di sini sama istri kamu. terus kalian menikah juga baru akad otomatis tidak semua orang tahu kalau kalian sudah halal. jadi babah mau mengadakan acara untuk merayakan pernikahan kalian secara resmi agar tidak timbul fitnah bagi mereka yang belum tahu"


"iya nak, umma setuju dengan Babah"


kata umma yang tiba-tiba datang dengan membawa segelas air dan di berikan kepada Babah


"kalau hafidz sama nurain sih ikut aja sama umma dan Babah. lagian__"


"assalamualaikum"


terdengar seseorang mengucap salam, dan suara itu saya sudah sangat mengenal nya.


"waalaikumsalam, ka aisy"


suara Farah yang begitu antusias saat melihat siapa yang datang berkunjung ke rumah ini


"assalamualaikum umma, Babah__fidz"


kata nya sambil melihat ke arah saya sebentar


"waalaikumsalam wr wb, apa kabar putri umma yang satu ini?"


umma memeluk Aisyah dengan erat seperti sudah lama tidak bertemu


"Alhamdulillah baik umma"


"ayah sama ibu sehat nak?"


giliran Babah yang bertanya


"Alhamdulillah sehat wal'afiyat. mereka juga titip salam, kata nya mohon maaf karna belum bisa berkunjung ke sini. masih sibuk di Malaysia"


"iya gak papa, yang penting mereka semua sehat"


"begini umma, bah, sebenarnya kedatangan aisy ke sini untuk meminta izin dari umma dan Babah. aisy mungkin tidak bisa membantu pengobatan lagi bagi para santri"


"loh kenapa gitu nak?"


tanya umma yang terdengar kaget, begitu pun saya yang tidak menyangka bahwa Aisyah akan bicara seperti itu


"iya isy kenapa? anak-anak sangat membutuhkan anti disini"


giliran saya yang bertanya


"ka aisy jangan gitu dong, nanti Farah makin jarang ketemu ka aisy kalau ka aisy gak praktek lagi disini"


"iya nak, Babah juga merasa kehilangan kalau kamu tidak praktek disini lagi"


Aisyah hanya diam saat kami semua serempak menanyakan apa alasan dia ingin keluar dari pondok ini.


apa karna perasaan nya terhadap saya? jika memang seperti itu sungguh saya sangat kecewa karna Aisyah mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaannya

__ADS_1


__ADS_2