Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Takut dan Malu


__ADS_3

"nur, ko nama anti dipanggil?" Widia mendekatiku dengan raut wajah yang hawatir


"iya nur, emang anti nyimpen apa dilemari?" silmi pun juga menghampiriku yang disusul temanku yang lainnya


"ana gak tahu, ana gak ngerasa nyimpen apa-apa dilemari selain baju dan barang ana yang lainnya yang dibutuhkan disini" hatiku mulai gelisah, aku takut jika memang aku melanggar maka aku akan buat malu kedua orangtua ku, dan ibu pengasuh pasti akan kecewa padahal beliau sudah sangat percaya padaku.

__ADS_1


"gak papa insyaallah ini cuma kesalahpahaman aja, ana yakin anti gak salah" kini asyila mulai kembali seperti biasa,,,menenangkan ku.


"sekali lagi untuk nama-nama yang tadi disebutkan agar segera menghadap ruangan mahkamah amni, Syukron buat perhatiannya wassalamu'alaikum wr wb"


"menurut ana mending anti ke sana dulu, insyaallah kalo anti gak salah gak bakalan kena hukuman" kini Widia yang mencoba menghiburku

__ADS_1


"bukan soal hukuman yang ana takutkan Wid, tapi ana malu sama pengasuh pasti ibu juga denger pengumuman ini. apa kata beliau kalo tahu ana dipanggil ke mahkamah amni setelah ada razia Akbar. baru juga kemarin beliau menasehati, masa sekarang ana malah kena masalah" kataku yang masih belum bisa menenangkan hatiku. padahal aku belum menghadapi nya tapi hati ini seolah kalah sebelum berperang.


"insyaallah, beliau orang yang bijak. udah anti mending ke sana dulu" tutur asyila lagi.


aku pun mengangguk dan mulai berjalan dengan gontai menuju ruang mahkamah amni. semua santri putri memperhatikan kepada kami yang barusan nama-nama nya dipanggil, mereka menatap dengan tatapan penuh tanya, namun ada juga yang menatap dengan sinis seolah kami memang terbukti bersalah. yah,, begitulah menjadi santri, segala sesuatu dilakukan dan diketahui bersama. makan, tidur, mandi, nyuci, hingga jika ada masalah pun akan diketahui bersama. mungkin menurut kalian yang sekolah diluaran sana, ini hanya masalah sepele atau bahkan mungkin bukan suatu masalah. tapi bagi kami yang biasa hidup dengan peraturan dan tata tertib, bukan maksud menyebut diluar tidak ada aturan hanya saja jika dipesantren semua peraturan sudah dibuat dan disepakati oleh kedua belah pihak antara pihak pesantren dan orangtua murid, maka ini merupakan masalah besar dan mungkin aib jika diketahui melakukan pelanggaran besar. namun tak jarang juga akan dianggap biasa jika orang itu sudah biasa melanggar peraturan, dan itu bukan aku. aku disini untuk belajar, untuk melatih diri menjadi lebih baik dan pasti nya aku tidak mau membuat kedua orangtuaku malu karna perbuatanku, aku ingin membuat mereka bangga bukan sebaliknya. tapi hari ini, namaku dipanggil Karna sebuah pelanggaran yang belum pasti aku tahu apa kesalahanku, aku merasa bahwa aku sudah membuat orangtuaku malu dan membuat ibu pengasuh kecewa.

__ADS_1


__ADS_2