
aku sedang asik menulis rangkuman untuk ujian lisan besok agar mudah di hafal. semua santri putri termasuk Satri putri penghuni kamarku sedang melaksanakan sholat magrib berjamaah dimesjid, kecuali aku dan dian, salah satu adik kelasku yang kebetulan sedang berhalangan.
"ukhti, ana mau bertanya tentang pelajaran ini boleh? karna ana belum terlalu paham" kata nya sambil menghampiri ku yang sedang khusu menulis
"boleh,,, mana coba lihat" aku meminta buku yang ada di tangan nya untuk aku lihat bagian mana yang tidak dia mengerti
"oh,, ini, jumlah ismiyan itu sebenarnya mempunya beberapa definisi diantara nya yang dikemukakan oleh para ulama nahwu yang bunyinya Kullu jumlatin tatarokkabu min mubtadaain wakhobarin tusamma jumlatun ismiyatun artinya setiap jumlah atau kalimat yang terdiri dari mubtada dan khobar dinamakan jumlah ismiyah. jadi dari pengertian itu kita bisa simpulkan bahwa untuk membuat kalimat ismiyah atau jumlah ismiyah harus menggunakan mubtada dan khobar conto alqomiishu jadiidun baju itu baru. atau ada juga yang mengatakan jumlah ismiyah itu aljumlatul latii tubdau bismiin au dhomiirin yang artinya jumlah ismiyah adalah kalimat yang di awali denga isim yaitu kata benda atau dhomir yang merupakan kata ganti, conto Zaidun Muslimun artinya Zaid itu adalah seorang muslim. gimana? paham?" tanya ku pada dian yang dari tadi diam menyimak penjelasan ku
"oh,,,iya iya ngerti sekarang. makasih ya ukhti" kata nya tersenyum sumringah
"Alhamdulillah kalo anti paham" aku kembali fokus meneruskan tulisan rangkuman ku yang memang belum selesai, sedangkan Dian kembali duduk didepan lemari nya sambil terus fokus pada buku yang ditelaah nya.
samar-samar terdengar suara santri putri yang mulai riuh pulang dari mesjid sehabis melaksanakan sholat magrib berjamaah.
"assalamualaikum" ucap santri putri yang bergantian masuk dengan mengucap salam
"waalaikumsalam" jawab ku dengan terus fokus pada tulisan ku.
"nur lagi nulis apa?" tanya asyila menghampiri ku dengan masih mengenakan mukena
"hanya nulis rangkuman buat ujian lisan besok" jawab ku disertai senyuman
"boleh nih ana nyalin tulisan nya hee"
"boleh,, boleh banget,,tapi gak gratis ya"
"siap, mau di kasih imbalan apa?" tanya asyila menanggapi dengan serius
"hahaha,,, serius amat"
"ya serius lah,, kan memang harus ada timbal balik"
__ADS_1
"yah,, memang harus nya seperti itu, tapi,,,, itu hanya berlaku bagi mereka yang tidak mau belajar ikhlas" kata ku sok bijak.
"oh,," dia menanggapi nya hanya dengan kata 'oh' dan aku??? tentu memasang wajah cemberut untuk siap-siap memberinya seribu cubitaaaaannnn,,,
~
pagi tiba, aku dan santri putri kelas XII sedang siap-siap untuk mengikuti ujian lisan.
"syil, udah siap? berangkat sekarang yuk sarapan dulu tapi nya" kata ku pada asyila yang baru selesai memakai hijab
"udah,,ayok"
"nur,,, anti ruangan dua kan? bareng ana sekalian yah" kata Widia saat kami akan melangkah keluar kamar
"iya ayo Wid"
kami bertiga pun berjalan bersama menuju dapur sebelum ke ruangan masing-masing.
"biarin lah itung-itung nambah personil kan kalian hee" kata Widia cengengesan
"hoke lah, ayo kita berangkat menuju perang otak dan lisan" kata Maryam dengan nada semangat empat lima
"hayo" kataku, asyila dan Widia tak kalah semangat
~
di depan ruangan dua, baru ada aku dan Widia yang hadir. sedangkan Maryam diruang satu dan asyila berada diruang empat.
"Wid,,,ustadz yang penguji di ruangan kita ustadz Hambal, ustadzah Mila, sama ustadz Agus athary. itu ustadz baru ya? ko ana baru liat nama nya" kata ku setelah membaca di papan nama yang di simpan di atas bangku yang telah disediakan, mengenai siapa saja yang menjadi penguji di ruangan dua
"emang ada? ana baru denger tuh. mana coba liat" Widia pun menghampiri bangku yang bertuliskan ustadz Agus athary
__ADS_1
"iya yah,,, ko ada. tapi masa baru masuk udah langsung jadi penguji" tanya Widia bingung
"tau deh,,," jawab ku dengan mengangkat kedua bahu
selang beberapa menit, para santri putri yang lainnya tampak mulai berdatangan. namun saat limat menit sebelum bel berbunyi perutku terasa sakit.
"Wid,, perut ana sakit. nanti kalo udah ada ustadzah atau ustadz ijinin dulu yah takut nya ana yang awalan dipanggil ke dalam" kata ku sambil memegang perut yang memang terasa sakit
"dia mah, mau bel aja malah ke kamar mandi. ya udah sana nanti biar ana yang ijinin"
"makasih ya, ana ke kamar mandi dulu" aku pun langsung melangkah menuju toilet yang sudah disediakan didekat jajaran ruangan yang ada.
"Ningsih,,, udah mulai dari tadi ujian lisan nya?" tanya ku pada Ningsih saat baru kembali dari toilet. Ningsih adalah salah satu teman ku jurusan IPS yang kebetulan ujian nya satu ruangan denganku. karna ini ujian lisan pesantren jadi setiap ruangan akan di campur dengan kelas dan jurusan lainnya antara keagamaan, IPA, dan IPS.
"baru dimulai barusan" jawab nya sambil melihat ke arah ku
"siapa yang pertama?" tanya ku lagi
"Widia kalo gak salah tadi"
"ohh,, iya" kata ku sambil menganggukkan kepala. ternyata Widia yang paling dulu dipanggil, padahal tadi dia bilang mau yang paling akhir aja biar gak terlalu deg-degan tau nya malah yang paling awal hihi,,,
aku dan temanku yang lain duduk diluar di atas kursi yang telah disediakan sambil menunggu giliran dipanggil oleh penguji. karna nomor panggilan tidak kita ketahui alias di acak, maka kami yang menunggu selalu menggunakannya untuk kembali membuka buku atau mengingat-ingat hafalan yang sudah kami hafalkan, tentu nya kecuali aku. bukan sok pintar atau sok yang paling hafal, tapi aku paling tidak bisa berkonsentrasi membaca atau menghafal di tempat yang ramai. maka waktu sambil menunggu itu aku gunakan untuk bersholawat atau berdzikir. itulah yang selalu ibu pengasuh ingatkan saat kita memiliki waktu senggang untuk lisan kita, maka gunakan lah untuk hal yang bermanfaat. dan itu sedang coba aku amalkan, insyaallah.
beberapa menit kemudian Widia keluar dengan wajah yang di tekuk
"gimana Wid?" tanyaku antusias
"kacau,,, banyak gak jawab nya, banyak lupanya ana,,, hu,,,uu,," katanya sambil pura-pura menangis, aku hanya tertawa melihat nya
"Syafina Shidqiya Nurain" tiba-tiba nama ku di panggil sebagai peserta nomor dua yang akan di uji. 'bisa kebetulan gini ya, abis Widia terus aku. apa karna kami yang datang paling awal maka nya dipanggil sama-sama paling awal juga" batinku, saat aku melangkah masuk ke dalam ruangan dengan mengucap salam namun terus menundukkan pandangan ke bawah, karna yang menguji bukan hanya ustadz tapi juga ustadzah.
__ADS_1
"silahkan duduk ukhti" kata ustadzah Mila mempersilahkan, aku pun duduk dengan wajah yang terus menunduk. setelah di rasa duduk ku nyaman, aku mengangkat wajah ku sekedar untuk menyapa para penguji dengan senyuman ramah. namun saat aku mengangkat wajahku, dihadapan ku ternyata bukan hanya ada ustadzah Mila dan ustadz Hambal. tapi juga ada,,, 'Gus hafidz? kenapa tiba-tiba sudah ada di pondok? kapan ke sini nya? aahhh,, kenapa harus beliau yang jadi penguji ujian ku. aku yang tadi nya ingin menyapa pada para penguji kini hanya bisa diam tanpa kata ataupun senyuman. kacau,,,