
"alhamdulillah akhirnya kita kaya dulu lagi, jangan ada salah paham lagi ya man teman" kata Maryam merangkul kami dengan penuh kebahagiaan
"iya Iam, nur, pokoknya insyaallah ana janji ke depannya gak bakalan kaya gitu lagi. kalo ada masalah kita bakalan selesain secara baik-baik dengan saling bicara" asyila menanggapi dengan perkataan yang membuatku lega kembali
"iya ana percaya anti ko, pokoknya untuk sekarang kita pokus ke belajar dulu. apalagi besok kita tinggal menghadapi ujian pesantren, harus semangat harus dapet nilai bagus pokoknya" kini giliran ku yang berkata
"semangat"
"cayo buat kita" sorak kami bertiga yang dibumbui dengan tawa kebahagiaan kami. akhirnya aku bisa menarik nafas lega seperti sebelumnya. kina tak ada lagi kesalahan pahaman asyila terhadap ku, aku senang kami kembali seperti dulu lagi. apalagi ini di detik-detik terakhir kami akan meninggalkan pondok ini. Alhamdulillah,,,
~
"ciyeee yang udah lepas dari hukuman, gimana udah kapok? terus masih mau dirahasiakan siapa pasangan nya?" tiba-tiba asma berkata saat aku lewat dihadapan nya di kamar mandi
"kenapa? segitu penasarannya?" kata ku acuh sambil berbalik arah menghadap nya
"enggak sih, cuman kan yah sebagai kakak kelas yang baik apalagi di pandang baik, yah walaupun tidak sesuai dengan kenyataan, tapi kan tetep kita harus ngasih conto yang baik sama Ade kelas bukannya gitu?" kata nya lagi dengan nada Yang terdengar seperti mencemooh.
__ADS_1
"maaf ya hubungannya apa sama itu?"
"yah,, kata nya pinter tapi ko kaya gitu aja gak ngerti" lagi, asma berkata masih dengan nada yang sama. sebenarnya aku dan asma tidak pernah ada masalah karna kami memang kurang dekat sejak awal masuk. hanya saja entah kenapa sejak dua minggu yang lalu tepat nya saat aku mulai terkena hukuman hingga saat ini sikap asma seolah sinis dan tak suka kepada ku, entah apa alasannya aku sendiri tidak tahu.
"Afwan ya asma, ana gak tahu maksud omongan anti apa. kalo memang ada yang mau disampaikan bilang aja pada inti nya bukan dengan bahasa kinayah yang sama sekali enggak ana pahami" kata ku mencoba sabar dengan tidak membalas nya pakai emosi
"oke lah ana perjelas, jujur ana gak suka sama sifat anti yang sok bijak, sok baik, sok pintar tapi pada akhirnya anti dihukum karna sudah melakukan pelanggaran besar di pondok ini, itu yang pertama. dan yang kedua ana gak suka kalo anti masih kecen-tilan sama Gus hafidz padahal anti sudah maen surat-suratan dengan santri putra. kenapa, anti mau di bilang hebat banyak yang naksir? atau sebenarnya memang ini sifat anti sebenarnya? selain sok baik, sok bijak dan sok pintar tapi anti juga suka cari muka sama orang lain? yah,, khususnya ibu pengasuh gitu. hhem, kalo ana jadi anti sih udah malu banget deh kaya nya buat nginjekin kaki ana lagi di rumah ibu pengasuh" asma mendelik kepada ku memperlihatkan betapa tidak suka nya dia terhadap ku
"oke makasih buat kejujuran nya. sekarang giliran ana yang juga mau memperjelas semuanya sama anti. ana gak peduli anti mau suka atau enggak dengan sifat ana yang menurut anti itu menyebalkan. karna tidak ada kewajiban buat ana merubah anti jadi suka pada sikap ana, sekali pun ana berusaha merubah sifat ana, itu tidak akan berpengaruh pada anti. karna sejati nya yang benci akan tetap benci sekalipun kita melakukan kebaikan. jadi kalo masalah itu, sebenarnya terletak pada diri anti sendiri bukan ana, paham? kalo di pikir-pikir sih kaya nya bukan ana nya yang nyebelin tapi emang dasarnya aja anti iri kan sama ana?" kata ku membalas cemooh nya. tadi nya aku tidak mau meladeni nya tapi kali ini dia udah keterlaluan dan juga udah terang-terangan ngomong langsung kepada ku jadi dengan terpaksa aku harus meluruskan apa pun yang dia tuduh kan, yang dia ucapkan kepada ku.
"denger ya gak ada dalam,,,__" asma menunjuk wajah ku dengan telunjuk nya, namun sebelum asma menyelesaikan ucapan nya aku langsung memotong nya dengan meneruskan perkataan yang belum aku selesaikan.
~
"cepet banget mandi nya nur, tumben?" kata Widia saat aku aku sudah kembali masuk ke kamar.
"enggak jadi" jawab ku singkat
__ADS_1
"kenapa? penuh?" tanya Widia lagi. aku hanya diam tanpa menjawab nya lagi.
"nur, ko merah gitu muka nya? kaya yang lagi nahan emosi" Widia mendekati ku dan kembali bertanya pada ku. udah biasa sih, Widia emang selalu seperti itu. jika belum puas dengan jawaban dari lawan bicara nya dia bakalan terus nanya sampe tahu jawabannya. sebenarnya kadang aku suka dengan sifat nya yang itu, karna dengan begitu Widia menunjukkan betapa peduli nya dia terhadap teman nya. namun terkadang dia juga menjengkelkan seolah ingin tahu yang seharusnya tidak untuk di ketahui. tapi, yah nama nya juga manusia ada baik dan kurang baik nya, gimana kita menyikapi nya saja.
"heemmm,, tadi tuh di kamar mandi ada asma. yah gitu deh, dia akhir-akhir ini kaya yang suka nyari gara-gara sama ana. tau deh kenapa" akhirnya aku cerita pada Widia, siapa tahu dengan begitu perasaan ku sedikit plong dan emosi ku juga berkurang
"ohh,, ini soal asma. udah lah gak usah di ladenin mungkin dia iri aja sama anti. secara kan, dari Tsanawiyah dia udah suka banget sama Gus hafidz tapi yah,, gitu cinta bertepuk sebelah tangan"
"Tsanawiyah? kan kita gak seumuran sama Gus hafidz?" tanyaku kaget saat mendengar apa yang Widia katakan
"yah,, Gus hafidz emang beda usia dari kita, tapi kan itu bukan tolak ukur"
"bukan itu maksud ku, Gus hafidz kan gak sekolah disini. bukannya dia mondok di luar dulu nya?"
"iya, Gus hafidz emang mondok diluar dan berteman dengan kakak nya asma. kata nya dulu asma suka ikut ke pondok kakaknya kalo orang tua nya kebetulan mau jengukin kakak nya, maka nya dia tahu sama Gus hafidz. terus itu juga alasan asma mondok disini, yaitu karna Gus hafidz" jelas Widia menjawab rasa penasaran ku.
"oohh,, gitu. pantes dia kaya gitu sama ana" kata ku mulai mengerti
__ADS_1
dipikir-pikir jadian sama Gus hafidz aja belum atau lebih tepatnya gak mungkin kali yah. tapi masalah udah banyak bermunculan, apalagi kalo bener jadian. masyaallah,, pusing aku.