Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Terpesona


__ADS_3

POV Gus hafidz


pukul sembilan malam, saya dan ayah baru pulang dari masjid jami'.


awalnya setelah sholat magrib saya ingin pulang ke rumah lebih dulu karna takut nurain akan menunggu.


namun ayah melarang saya pulang duluan, karna ingin memperkenalkan dulu saya pada masyarakat agar terjalin silaturahmi yang baik dengan lingkungan.


saat sampai rumah, ayah mengajak saya ngobrol sebentar di ruang tengah.


"sudah malam nak, lebih baik kamu segera tidur. ayah juga mau istirahat"


ayah masuk ke dalam kamar nya, sedangkan saya masih terpaku di atas kursi. sekilas saya melihat ke arah pintu kamar nurain.


dengan ragu saya melangkah dan mengetuk kamar nurain, tak ada jawaban. hingga tiga kali saya mengetuk, akhirnya saya beranikan diri langsung masuk ke dalam kamar.


'ternyata istriku sudah tidur, pantas di ketuk-ketuk pintu nya gak di buka-buka kirain saya gak diizinin masuk hihi', saya tertawa dalam hati


melihatnya tertidur lelap, saya melangkah mendekatinya, memberanikan diri berbaring di samping nya sambil menatap nya dengan puas.


'subhaanallah,, nur anti memang cantik bahkan sangat cantik, apalagi kalau sedang tidur seperti ini. boleh ya saya menyentuh wajah mu?' batinku.


dengan hati-hati saya menyentuh wajahnya, karna takut dia terbangun.


kulit wajah nya sangat halus seperti bayi, sehingga membuat saya betah untuk menyentuh setiap inci dari wajah nya. namun saat tangan ini menyentuh bibir nya yang ranum,,,


DEG


jantung ini berdebar kencang. sebagai lelaki yang normal, ingin rasanya bibir ini menyentuh bibirnya yang lembut. tapi rasanya tidak sopan jika saya melakukan hal itu sebelum ada izin dari nya, apalagi saat dia sedang tertidur lelap.


nanti saya di anggap mengambil kesempatan dalam kesempitan. walaupun kami memang sudah halal untuk melakukan nya.


'tidak boleh,, sabar hafidz ! mungkin malam ini bukan waktu nya. jangan ganggu istrimu, kasian dia kelelahan.


astaghfirullah,, sabar sabar'


untuk menghindari keinginan saya yang semakin kuat, saya putuskan untuk mencuci muka saya di dalam kamar mandi.


setelah itu saya mengganti pakaian saya, meletakan peci dan sarung saya dan kemudian kembali berbaring di sebelah nurain.


kali ini nurain sudah berpindah posisi membelakangi saya. syukurlah, setidak nya keinginan saya untuk menyentuh nya sedikit berkurang. karna tidak melihat wajah nya.


~


"astaghfirullah,, nak kenapa kamu ada di bawah?"


tanya ayah sambil mencoba membantu saya untuk bangun dari lantai.


rasa nya saya tidak percaya dengan kejadian yang saya alami pagi ini. bangun bukannya mendapat senyuman manis dari istri, ini malah dapat tendangan cinta yang berhasil membuat pinggang saya seperti mau copot.


'apa seperti ini indah nya malam dan pagi pertama bagi pasangan pengantin, masyaallah,,masyaallah,,'


"Gus,,, maafin ana yah. ana gak bermaksud buat nendang,,, maksudnya gak sengaja"


kata nurain yang masih betah berada di balik selimut yang menutupi wajah nya

__ADS_1


"ana mau maafin anti, asal buka dulu selimut nya. dan lihat ke arah ana"


dengan perlahan dia membuka selimut nya dan menatap saya sekilas, namun kemudian kembali menunduk.


"sayang,,"


benar saja dia langsung melihat ke arah saya saat kata itu keluar dari bibir ini.


"boleh Abang mendekat?"


nurain hanya menunduk tanpa menjawab, tapi saya yakini diam nya adalah jawaban ya untuk saya.


walau gugup tapi saya beranikan diri untuk mendekat dan duduk di hadapannya. lalu tangan ini meraih wajah nya dan membacakan sebuah do'a tepat di kepalanya.


setelah selesai saya pun mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.


masih dengan posisi dimana tangan ini memegang dagunya, saya masih betah menatap wajah nya. begitu pun nurain hanya diam dengan pipi yang mulai merah merona.


perlahan saya dekatkan wajah saya pada wajah nya, melihat bibir nya yang ranum membuat saya ingin menyentuh nya. tak ada tindakan penolakan dari nya saat wajah ini semakin dekat dan semakin dekat, hingga,,,


"maaf, Gus ana belum gosok gigi. ana ke kamar mandi dulu"


sambil menutup mulut nya nurain berlari ke arah kamar mandi. meninggalkan saya dan perasaan saya yang dongkol karna ulah nya.


hmmm,, lagi lagi saya harus bersabar.


~


"rencananya kalian berangkat ke Turki jam berapa?"


"insyaallah siang ini yah" jawab saya


"ayah juga siang ini berangkat ke Surabaya"


"kalau begitu berangkat ke bandara nya bareng kita aja yah"


ajak saya yang memang sebenarnya ingin mengantar ayah ke bandara sebelum berangkat ke Turki


nurain hanya diam tanpa memberi tanggapan, entah apa yang dipikirkan nya tapi yang jelas saya melihat kesedihan di wajah nya.


"ayah, apa ayah enggak bisa kerja nya disini saja? biar nur bisa dekat dengan ayah"


mata nya mulai berkaca-kaca saat berbicara dan menatap ayah nya.


"nak,, sejujur nya ayah juga ingin kerja di sini agar bisa lebih dekat dengan kamu. tapi ini adalah tanggungjawab ayah, bagian dari pekerjaan ayah untuk patuh pada peraturan. Ade mengerti kan keadaan ayah, tapi walaupun jauh nanti kan bisa vc an jadi bisa lihat wajah ayah kapan pun Ade mau"


"tapi gak bisa meluk ayah karna jauh"


"walau pun begitu kan sekarang udah ada pengganti ayah buat Ade peluk"


ayah melirik ke arah saya, dan itu berhasil membuat saya malu dihadapan nurain.


"ih ayah apaan sih"


nurain memukul lengan ayah nya dengan pelan kemudian memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"udah,, jangan kaya gini malu. masa udah nikah masih kaya anak kecil apalagi dilihat sama suami sendiri Ade gak malu?"


"enggak apa-apa ko yah, hafidz malah senang karna nurain benar-benar menyayangi ayah"


~


"masyaallah pengantin baru sudah datang"


BI Nani menyambut kedatangan saya, nurain dan ayah saat kami masuk ke dalam rumah Babah


"Alhamdulillah yang diomongin sudah datang, insyaallah panjang umur"


kata umma yang datang dari dalam dan langsung menghampiri kami


"gimana kalian hari pertama kalian sebagai pasangan? menyenangkan atau melelahkan karna harus melewati malam yang panjang"


umma dan BI Nani saling melempar senyum usil untuk menggoda ku dan nurain.


'bahagia, tapi tidak melelahkan. yang ada menegangkan karna harus mendapat kejutan di pagi hari', jawab saya dalam hati


"kaya nya masih malu-malu Bu, maklum manten baru hehe"


"ah bibi, sudah jangan di ledek terus kasian. liat muka nya pada merah gitu"


bibi pun hanya tersenyum mesem yang kemudian berlalu meninggalkan kami ke belakang


"silahkan pak duduk, anggap saja rumah sendiri karna sekarang kita adalah keluarga, orangtua bagi anak-anak kita"


"iya Bu insyaallah, terimakasih karna sudah menyambut saya dengan baik"


kata ayah dengan ramah


"ngomong-ngomong pak kiai kemana?"


"oh, Babah kebetulan lagi ke sawah sama mang Beben kata nya mau ikut nyimpen bibit ikan nila di Empang. sebentar lagi juga pasti pulang"


"ka mut"


tiba-tiba Lutfi berlari dari dalam dan menghampiri nurain


"wah,, Gus cu makin ganteng aja nih sehari gak ketemu"


nurain mencubit pipi Luthfi dengan gemas


"ka mut juga, makin cantik sehari gak ketemu sama Lutfi"


"wah,, Ade Abang udah pinter merayu nih siapa yang ngajarin? tapi ngomong-ngomong kalau Abang gimana sehari gak ketemu sama Lutfi, makin ganteng gak?"


kini saya yang menanggapi, karna rasa nya mulut ini gatal kalau tidak mengusili adik bungsu saya


"enggak,,, Abang mah gitu-gitu aja gak nambah ganteng nya"


kata nya dengan mulut yang di monyong-monyong kan. semua tertawa renyah melihat wajah Luthfi yang menggemaskan, begitu pun nurain dia tertawa bukan tersenyum seperti biasa nya.


hmmm,, nur senyummu sungguh mengalikan dunia ku hee. bahkan tingkah lucu mu kini menjadi dunia ku, dan lagi-lagi aku terpesona dengan tingkah nya yang selalu tak terduga. ^^

__ADS_1


__ADS_2