Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Bingung Sendiri


__ADS_3

"ko Abang ngomong nya gitu ke ka mut? kan gak boleh ngomong kasar kaya gitu sama orang lain" kini Gus luthfi yang langsung menanggapi perkataan Gus hafidz. anak kecil aja tahu kalo itu ucapan gak seharusnya keluar dari mulut seseorang yang memang mengerti tentang pendidikan, karna akan menyakiti hati orang yang mendengar nya. aku terdiam mendengar ucapan Gus hafidz barusan mencoba mencerna maksud dari perkataan nya. "ka mut maafin Abang ya mungkin Abang cuma bercanda sama ucapannya" lanjut Gus luthfi meminta maaf mewakili kakaknya, aku masih terdiam, bingung harus menjawab apa.


"gak papa ko Gus cu, tapi maaf kaya nya ka mut memang harus ke asrama, Gus cu latihan nya gak sama ka mut dulu ya saat ini, assalamualaikum" aku langsung berdiri dan meninggalkan ruang tamu tanpa menoleh pada Gus hafidz. sebenarnya aku tidak terlalu tersinggung dengan perkataan nya karna bagi ku itu udah biasa dia bersikap dingin dan ketus, tapi jika aku masih tetap diam disitu dan meneruskan belajar bareng Gus luthfi malu dong karna tadi dia secara tidak langsung sudah mengusirku dari situ. namun aku juga merasa tidak enak dengan Gus luthfi yang merasa sangat tidak enak dengan ku karna sikap kakaknya. ah aku jadi serbasalah. setelah sampai asrama aku tidak langsung ke kamarku melainkan ke kamar Maryam untuk mengajak nya melihat keadaan asyila.


"tumben gak sampe asar latihan nya sama Gus hafidz" kata Maryam saat kita berjalan hendak ke poskestren, karna peraturan dipondok ini bagi santri-santri yang sakit harus menginap diposkestren atau poskesmas pesantren agar bisa lebih mudah diperhatikan oleh dokter atau perawat yang piket disana.


"enggak papa, kebetulan aja latihan nya lebih cepat dari biasa nya" jawab ku sambil terus berjalan tanpa memalingkan pandanganku

__ADS_1


"kenapa? ada sesuatu ya? anti boleh cerita ko sama ana kalo mau!" Maryam berhenti didepan ku sambil menatap tajam mataku


"heuuuummmm gimana ya, sebenarnya ana juga bingung" aku terduduk tepat dibangku bawah pohon besar dekat perpustakaan


"lho, mau cerita aja masa bingung? kan tinggal cerita" Maryam mengikuti ku duduk dibawah pohon. ahirnya aku menceritakan semua nya pada Maryam, mulai dari hilang nya buku Gus luthfi, pertanyaan Gus hafidz tentang keadaan ku yang seolah menaruh perhatian padaku, ucapan terimakasih dari Zahra, sampai sikap nya yang tiba-tiba kasar dan berakhir mengusirku secara tidak langsung.


"gimana ya, ana juga bingung mau ngasih pendapat apa soal nya kalo ana diposisi anti juga jadi serba salah hehe"

__ADS_1


"apa nunggu Gus hafidz berangkat lagi aja kali ya, baru ana ke rumah lagi buat bantuin Gus luthfi" kata ku memberi pendapat pada diri sendiri


"gini aja lah, kalo besok Gus hafidz manggil anti Dateng aja, anggap aja gak terjadi apa-apa hari ini" Maryam mencoba meyakinkan aku


"insyallah deh, ana pikir-pikir dulu hee"


"ya udah yuk, keburu asar entar gak sempet lagi lihat keadaan asyila" kami pun bangun dari tempat duduk kami, dan kembali berjalan menuju poskestren

__ADS_1


__ADS_2