
POV Aisyah
"aisy, kita makan dulu yuk. seharian ini kamu belum makan sama sekali"
Nilam, sepupu sekaligus sahabat ku mengajak ku untuk pergi makan siang saat aku sedang sibuk melihat dokumen-dokumen catatan pasien di ruang kerja ku
"kamu duluan aja, aku sibuk"
jawab ku sambil terus fokus pada dokumen yang ada di tangan ku
"enggak, aku mau kamu makan sekarang bareng aku"
kata nya dengan tegas
"Nilam aku sedang sibuk. jadi kamu duluan aja makan nya"
"isy, sampai kapan sih kamu begini? menyiksa diri kamu sendiri hanya karna seseorang yang jelas bukan takdir kamu"
aku berhenti sejenak, kemudian kembali fokus pada dokumen yang ku baca bergantian satu persatu
"isy, kamu sendiri kan yang mengajarkan untuk selalu ikhlas menerima setiap ketentuan dari Allah, walaupun itu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. saat kedua orangtua ku meninggal karna kecelakaan, kamu yang selalu mengingatkan aku untuk ikhlas melepas orang yang paling aku cintai. tapi sekarang apa? kamu seperti lupa dengan semua yang kamu bilang, yang kamu ajarkan sama aku. kamu menyiksa diri kamu karena takdir yang tidak memihak mu. dia yang kamu harap kan sudah bahagia dengan kehidupannya, lalu kamu disini? malah membuat hidup mu sengsara dan lupa sama orang-orang yang mencintai dan menyayangi mu dengan tulus"
"Nilam, AKU SUDAH TIDAK MEMIKIRKAN DIA LAGI. aku sedang sibuk, aku sedang tidak bisa di ganggu"
kata ku dengan suara yang sedikit tinggi agar Nilam mau mengerti keadaan ku saat ini
"hmm,, heran aku sama kamu. terserah, silahkan kamu menyibukkan diri kamu seolah lupa bahwa sang pengatur takdir sedang memperhatikan hamba nya yang munafik"
Nilam keluar dengan keadaan marah kepada ku.
aku terduduk lesu, menyimpan dokumen-dokumen yang tadi ditangan ku dengan sembarang
sebenarnya aku tidak ingin seperti ini, tapi apalah daya hati ini selalu memikirkan nya tanpa henti. bahkan semakin aku mencoba melupakan nya semakin sulit untuk aku tidak memikirkan nya.
kenapa fidz, kenapa kamu siksa hati ku seperti ini? aku sudah menyibukkan diri ku dengan berbagai macam kesibukan, tapi kenapa nama kamu semakin erat bersemayam di hati ku.
__ADS_1
tolong pergi dari pikiran ku, aku capek.
tanpa ku minta air mata ini kembali membasahi pipi ku, setiap kali aku ingat nama nya.
~
setelah berfikir untuk beberapa hari, maka aku putuskan untuk tidak praktek di pondok lagi. karna jika aku masih berada di sana, aku tidak yakin jika aku akan kuat melihat kebersamaan hafidz dan nurain.
"iya Bu, aisy udah memikirkan nya matang-matang. untuk sementara aisy harus berhenti dulu dari pondok"
aku menutup sambungan pembicaraan dengan ibu yang masih di negri Jiran.
"umma, Babah, aisy minta maaf sekali jika keputusan aisy ini seolah egois. insyaallah suatu hari nanti aisy akan kembali lagi ke sini bantu-batu pengobatan bagi para santri. tapi untuk sekarang aisy membutuhkan izin dan restu dari umma dan Babah untuk aisy mengamalkan ilmu aisy diluar"
"ka aisy, Farah mohon jangan pergi dari sini yah"
dengan linangan air mata aku hanya bisa memeluk seorang perempuan yang sudah aku anggap adik sendiri, tak kala dia memohon dengan suara serak nya karna menahan tangis saat aku pamit pulang meninggalkan taman syurga ku.
dengan susah payah pula aku meminta ijin untuk bisa keluar dari pondok ini.
tapi dari aku kecil hingga sekarang ku habiskan waktu ku di sini. terlalu banyak kenangan indah yang terukir di sini, tapi pada akhirnya aku harus meninggalkan nya dengan kesedihan di hati.
"Aisyah,,, tunggu"
ku hentikan langkah ku saat seseorang yang sudah ku kenal suara nya memanggil nama ku
"aisy, apa akhirnya harus seperti ini? apa tidak bisa di pikirkan kembali keputusan anti ini?"
aku hanya menggeleng pelan dan menatap nya dengan mata yang berkaca-kaca
"aisy, ana gak tahu apa alasan anti meninggalkan pondok ini. apa itu benar karna anti ingin fokus memperdalam ilmu kedokteran dulu sambil mengamalkannya di luar sana, atau karna__cinta yang bertepuk sebelah tangan"
DEG
mata ku membulat sempurna saat hafidz mengatakan cinta yang bertepuk sebelah tangan. apa dia tahu bagaimana perasaan ku selama ini untuk nya?
__ADS_1
"yah, ana tahu bagaimana perasaan anti selama ini pada ana. dengan tidak sengaja ana menemukan diary anti yang terjatuh di depan pintu rumah, saat ana berkunjung ke rumah anti. ana juga tahu apa alasan anti tidak menghadiri pernikahan ana. dan ana juga minta maaf jika ana tidak bisa membalas semua perasaan itu. tapi ana mohon anti jangan tinggalin pondok ini ya, para santri membutuhkan anti isy"
"Afwan fidz, untuk sekarang ana tidak bisa memenuhi permintaan anta. ana perlu waktu untuk memahami diri ana sendiri, memahami takdir yang tidak berpihak kepada ana. dan ana juga tidak bisa melihat orang yang ana cinta, yang ana sayang selalu berada di dekat orang lain. tapi ana janji, suatu hari nanti insyaallah jika hati ini sudah pulih, ana akan kembali ke sini berkumpul bersama para santri lagi"
"tapi aisy__"
"ana mohon pengertiannya. ana hanya butuh waktu fidz"
"baiklah kalau itu yang anti butuhkan. semoga Allah senantiasa melindungi anti, semoga Allah juga kembali mengumpulkan kita bersama seperti dulu"
aku pun pamit pada hafidz untuk yang terakhir kali nya. dengan pelan ku lajukan mobil ku melewati setiap garis pondok ini. aku ingin melihat dengan leluasa untuk yang terakhir kalinya sebelum aku benar-benar meninggalkannya.
saat dekat gerbang pondok, ku lihat sosok nurain sedang berdiri melihat ke arah mobil ku. maka ku hentikan mobil ini tepat di dekat nya, karna aku yakin nurain ingin bicara dengan ku.
"dokter aisy, nur boleh bicara?"
aku hanya mengangguk, kemudian memarkirkan mobil ku ke pinggir jalan.
"dokter aisyah, sebelumnya nur mohon maaf karna sudah berani mengganggu waktu nya"
"enggak ko, anti mau bicara soal apa ke ana?"
"begini__ nur mohon dokter Aisyah jangan pergi, jangan tinggalin pondok ini. nur minta maaf jika kehadiran nur yang buat dokter Aisyah pergi dari pondok ini"
nurain menangis tersedu memohon dengan memegang kedua tangan ku.
"bukan ko nur ini bukan karna anti, ana hanya ingin fokus untuk mendalami ilmu kedokteran di luar sana dan juga ana ingin mengamalkan nya bagi mereka yang lebih membutuhkan ana. maaf jika ana tidak bisa memenuhi permohonan anti"
"tapi dok, Babah, umma, Ning Farah, dan semua para santri di sini sangat membutuhkan dokter. mereka tidak ingin dokter pergi. ana mohon dok, bahkan kalau dokter mau ana__ana ikhlas berbagi cinta Gus hafidz untuk dokter. asal dokter jangan pergi dan tetap disini bersama kami"
sakali lagi mata ini membulat sempurna mendengar apa yang di katakan oleh nurain.
aku tidak menyangka jika nurain akan bicara seperti itu pada ku. mengatakan sesuatu yang paling ditakuti dan bahkan mungkin paling di benci oleh setiap wanita.
bahkan aku sendiri pun benci dengan kata berbagi cinta dengan perempuan lain. tapi nurain mengatakan itu seolah mudah nya.
__ADS_1