Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Deg-degan


__ADS_3

"ukhti syafina shidqya nurain,,,shohih dzalika ismuki (benar itu adalah nama lengkapmu)?" tanya nya dengan menggunakan bahasa Arab dan pasti nya dengan tanpa melihat ke arahku juga. yah begitulah Gus hafidz jika bicara tidak pernah melihat ke arah orang yang diajak nya bicara entah karna memang menjaga pandangan atau mungkin itu Gus hafidz lakukan hanya terhadapku. karna aku lihat saat bicara sama BI Nani gus hafidz selalu melihat ke arah bibi disertai senyuman ramah malah. hmmm


"shohih ustadz (benar ustadz)" jawabku sambil menunduk namun sekilas melihat ke arah nya. karna jujur aku bingung ko nama yang tertulis di papan nama ustadz Agus athary, tapi yang menduduki malah Gus hafidz. apa ustadz nya gak ada terus Gus hafidz yang gantiin? tau ah fokus aja sama ujian dulu yang gak penting entar dulu. batinku mencoba menepis semua pikiran yang akan membuat hafalanku hilang.


"toyyib,, apakah anti siap mengikuti ujian ini?" tanya nya lagi dengan nada yang dingin


"siap, insyaallah tadz" jawabku pelan, karna sebenarnya aku sendiri gak yakin hafalan ini masih ada apa udah hilang sebagian ditelan sama rasa kaget ku melihat orang yang,,, aku sebel, tapi beliau anak dari guru ku kan!!! aisssshhh serba salah jadi nya


"baiklah untuk soal yang pertama dari kitab al-jurumiyah, dengarkan baik-baik karna ana tidak akan mengulang untuk yang kedua kalinya, Faslun almu'robaatu. Almu'robatu qismaani qismun yu'robu bil?" Gus hafidz berhenti menandakan bahwa aku harus meneruskan bait yang beliau sebutkan barusan. sebelum menjawab menatap ke depan sekedar untuk menarik nafas, dan,,,


DEG


aku melihat tepat ke arah mata Gus hafidz yang menatap ku dengan tajam, aku diam mematung karna ini pertama kali nya mataku dan mata nya bertemu saling melihat. ini berhasil membuatku menahan nafas yang tadi nya ingin ku tarik dan ku buang kembali


"ukhti nurain? apa anti memperhatikan?" kata nya menyadarkan ku


"aeemmm,,eeeuuu,,,iya ana memperhatikan ustadz" jawab ku dengan terbata


"Afwan,,, bisa ulangi pertanyaan nya?" kata lagi dengan suara yang pelan sambil kembali menundukan pandanganku agar konsentrasi ku kembali


"maaf waktu habis,,, dan tadi ana sudah katakan tidak ada pengulangan pertanyaan untuk kedua kali nya" kata nya dengan nada yang dingin. nyebeliiiiinnnn,,,, kenapa harus gitu sih, aku mulai kesal, tapi aku bisa apa. padahal semalaman aku sudah belajar dan ku pastikan aku sudah hafal tentang bait yang di bacakan oleh nya tadi. kenapa harus dia sih pengujinya?' batinku seolah tidak mau berhenti mengumpat nya, bahkan aku yang harus nya memanggil dengan kata ganti beliau seolah lidah ini sulit dan menggantinya dengan kata ganti dia, yah aku tahu itu tidak sopan karna selain putra dari guru ku dia juga guruku bukan? tuh kaaaannn lagi-lagi menyebutnya dengan kata 'Dia'. aaahhh,,, aku menepuk-nepuk keningku tanda aku sedang kesal pada diri sendiri


"ukhti nurain, apa anti pusing? atau sedang sakit?" tanya Gus hafidz tiba-tiba

__ADS_1


"enggak ustadz, ana sehat" jawabku spontan. mungkin dikiranya aku sakit karna melihat aku menepuk kening


"kalau begitu ana minta kembali untuk berkonsentrasi agar tidak memakan waktu lama, atau anti ingin mengakhiri ujian nya tanpa melanjutkan pertanyaan selanjutnya?"


"tidak,,,tidak ustadz,,, enggak,,, jangan ana mohon. ana masih konsentrasi dan masih mau melanjutkan ujiannya" jawabku dengan sedikit keras karna takut ujian lisannya benar-benar tidak akan di teruskan.


"kalau begitu ana juga mohon untuk anti bisa lebih konsentrasi lagi"


aku hanya menjawabnya dengan anggukan.


"baik,,, dengarkan baik-baik bismillah. Almu'robatu qismaani qismun yu'robu bilharokati waqismun yu'robu bil hurufi. Falladzii yu'robu bilharokati?" Gus hafidz pun berhenti di bait itu, berarti aku harus melanjutkan baitnya. bismillah aku berpikir mengingat kembali bait itu yang sebenarnya selalu aku ingat, tapi sekarang? ya Allah,,, ighfirlii dzunubii waftahlii Rohmatik. aku masih diam mengingat bait itu, ku pejamkan mata ini agar konsentrasi ku bisa kembali dan terjaga.


"ukhti,,,"


"toyyib,, selanjutnya bisa tolong anti terjemahkan bait yang barusan anti baca?" kata nya memberikan soal selanjutnya


"bismillah,,, falladzi yu'robu bilharokati adapun yang di'irobi dengan harkat yaitu ada empat macam, isin mufrod, jama taksir, jama muannas Salim dan fi'il mudhore yang tidak bersambung dengan akhirnya sesuatu" alhamdulillah kali ini aku bisa menjawab nya dengan lancar dan cepat hingga pertanyaan demi pertanyaan selesai di lontarkan oleh ustadz dan ustadzah.


~


"gimana nur lancar tadi?" tanya Maryam saat aku dan widia menghampiri nya karna ujian di ruangan ku sudah selesai


"begitulah" jawab ku dengan sedikit lesu

__ADS_1


"kenapa dia Wid?" tanya Maryam pada Widia yang masih bisa ku dengar


"gara-gara yang ngujinya ustadz Agus kali" jawab Widia sambil melirik ku


"ustadz Agus siapa? emang ada? ko ana baru tahu ada ustadz yang nama nya ustadz Agus" tanya Maryam penasaran


"tau deh,, ana juga baru tahu tadi pas ujian" jawab Widia menanggapi pertanyaan Maryam


"yang mana emang orang nya Wid?"


"mau tau anti orang nya? biar ana yang jawab. orang nya tuh yang nyebelin, sok jutek, sok dingin, sok cool, suka tebar pesona, pokoknya orang nya nyebelin banget dan ana gak suka lihat dia. apalagi gara-gara dia ana jadi,," Widia menyikut tanganku saat aku lagi semangat-semangatnya menjawab pertanyaan Maryam yang ingin tahu tentang siapa ustadz Agus itu.


"apaan sih Wid? ana belum beres tahu nyebutin ciri-ciri tuh ustadz Agus" kata ku sambil terus berjalan berdampingan dengan Maryam dan Widia.


"udah gak usah dilanjutin nur,,, nanti juga Maryam tahu ko. iya kan Iam?" kata Widia yang seolah melarang aku untuk melanjutkan perkataan ku


"enggak,, ana belum beres. pokok nya ana sebel,,, sebel banget sama dia, keseeellll,,, dasa Agus"


"Afwan gus,,, kami enggak tahu kalau Gus hafidz dan ustadz Hambal sedang berjalan di belakang kami"


DEG


tubuh ku seolah mati rasa saat itu juga, saat orang yang aku jelek-jelekin ternyata dari tadi ada di belakang ku mendengar semua yang aku katakan tentang nya. Widia dan Maryam sudah berjalan sedikit mundur untuk memberi hormat dan mempersilahkan Gus hafidz dan ustadz Hambal berjalan lebih dulu. tapi aku? aku yang masih diam mematung bingung harus bagaimana? apa aku harus berbalik dan meminta maaf saat ini juga atau aku harus,,,,aaahhh lari aja lariiiiiiiii

__ADS_1


__ADS_2