Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Aktivitas yang tertunda


__ADS_3

di dalam pesawat, tubuh ini tak henti-hentinya gemetar saking takut nya jika pesawat sudah lepas landas. maklum ini pertama kali nya aku menaiki kendaraan di atas awan ini.


"gak papa, insyaallah saat sudah di atas nanti tidak akan semenakutkan yang anti bayangkan"


Gus hafidz menggenggam tangan ku yang memang terasa dingin


"iya Gus"


jawab ku dengan senyuman kaku, jujur aku masih agak bingung harus bersikap seperti apa setelah menikah dengan Gus hafidz. karna rasa canggung masih terus menyelimuti diriku.


"Abang sayang, bukan Gus"


"iya lupa, a__abang"


"anti tuh ternyata lucu yah, dan juga pemalu. tapi lambat laun semua itu akan berubah jika kita sudah benar-benar menjadi seorang pasangan suami dan istri"


"maksudnya? apa sekarang kita bukan suami istri beneran?"


tanya ku penasaran dengan apa yang dimaksud gus hafidz dari perkataan nya


"ya beneran lah sayang, kalau bohongan masa Abang berani megang anti kaya gini"


sekali lagi, aku dibuat malu oleh Gus hafidz yang kini menyentuh dagu ku dan mendekatkan wajah nya ke wajah ku.


"Sebelum lepas landas kami persilakan kepada Anda untuk menonaktifkan telepon genggam, menegakkan sandaran kursi, menutup dan melipat meja, mengencangkan sabuk pengaman, dan membuka penutup jendela"


suara pramugari menyadarkan kami yang terhanyut dalam tatapan satu sama lain.


"sini biar Abang yang lakukan"


tanpa menunggu persetujuanku, Gus hafidz melakukan semua yang di instruksi kan oleh pramugari tadi terhadap ku, karna aku sendiri memang belum paham bagaimana cara melakukan apa yang tadi diinstruksikan.


~


setelah sampai bandara Turki dengan selamat, aku berjalan dengan dengan Gus hafidz yang menggenggam erat tangan ku.


kami berjalan menuju kumpulan tiga orang laki-laki yang melambaikan tangan nya kepada kami, tidak hanya itu mereka juga membawa poster dengan tulisan,,,


"hoşgeldin yeni evliler (selamat datang pengantin baru)"


aku melihat ke arah gus hafidz pertanda meminta jawaban apa arti dari tulisan itu. namun dia hanya tersenyum dan mengelus pipi ku dibalik cadar yang ku pakai dengan lembut. sontak aku jadi malu dibuat nya, karna teman-temannya secara serentak meledek kit berdua.

__ADS_1


aku tidak menyangka ternyata di balik sikap nya yang dingin yang seolah ketus. ada sentuhan yang nyaman dan senyuman yang hangat yang selalu dia berikan dan perlihatkan untuk ku di hadapan orang lain.


aku tahu itu dia lakukan untuk menunjukkan betapa berharga nya aku untuk nya. bukan aku terlalu PD hanya saja kata nya jika lelaki yang tulus mencintai mu, ia akan selalu membuatmu istimewa baik itu saat bersamanya ataupun saat bersama orang lain.


~


ketika masuk ke dalam apartemen milik Gus hafidz, aku di buat takjub dengan luas dan setiap penataan barang yang begitu rapi dan unik.


mungkin ini menurutku, yang selama hidup nya belum pernah melihat yang nama apartemen seperti yang di TV-TV hee.


"gimana? anti suka dengan apartemen nya?"


tanya Gus hafidz yang baru keluar dari kamar setelah menyimpan koper kami


"mau liat-liat ruangan yang lain nya?"


aku mengangguk setuju


"ini ruang tv sekaligus ruang santai untuk kita, anti bebas mau melakukan apa saja disini semisal kalau mau santai dengan tanpa menggunakan hijab juga bisa karna kaca ini hanya bisa dilihat dari dalam sini, tapi tidak dari luar"


aku hanya mengangguk sambil melihat seisi ruangan


"itu dapur nya, kalau anti mau masak silahkan pake dapurnya sesuka anti. lalu ini kamar tamu, biasa nya kalau lagi ada saudara atau temen Abang yang nginep disini, kamar ini selalu di pakai oleh mereka. sebenarnya kamar tamu nya ada dua tapi yang satu Abang pakai buat ruang olah raga pribadi Abang. nah kalau yang itu ruang belajar dan bekerja Abang"


"dan yang terakhir, ini kamar kita. maaf ya nuansa kamar nya lebih ke laki-laki karna abang belum sempat merubah nuansa nya ke yang lebih netral. kalau anti kurang suka dengan penataan atau suasana kamar nya, anti boleh ko merubahnya sesuai kriteria anti, karna sekarang kamar ini adalah kamar kita berdua"


aku menatap Gus hafidz sekilas, kemudian tertunduk dengan malu ketika dia mengatakan kamar kita.


rasanya gimana gitu, kaya agak vulgar denger nya, mungkin karna aku belum terbiasa dengan hal ini apalagi usia ku yang baru akan menginjak delapan belas tahun, usia yang terhitung masih sangat muda.


"Gus,, kenapa umma sama Babah gak pada nginep disini saja? kan apartemen ini juga luas banget"


tanya ku menghilangkan keheningan di antara kami.


"ko Gus lagi? kenapa? berat ya manggil dengan sebutan Abang?"


"bukan begitu, Afwan karna lisan ini belum terbiasa dengan sebutan itu"


"maka dari itu, harus di biasakan dari sekarang"


kata Gus hafidz sambil mengambil tanganku dengan tatapan yang begitu dalam.

__ADS_1


dia mendekati ku tanpa mengalihkan pandangan nya dari mataku, kemudian dengan perlahan membuka cadar yang masih menutupi wajah ku.


aku hanya diam tanpa melarang apa yang di lakukan ya, karna ini memang hak nya. bahkan kalau pun dia melakukan lebih dari ini, aku pun tak bisa melarang nya.


perlahan dia mendekatkan wajah nya ke wajah ku. di sini nafasku seolah sulit untuk bernafas, karna ini kedua kali nya gus hafidz berbuat seperti ini kepada ku.


jika Karin pagi kami tidak jadi melalukan nya, apa sekarang akan terjadi? tapi aku belum siap. aku masih takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang aku sendiri tidak mau membayangkan nya.


aku diam membisu, sat jarak antara wajahku dan Gus hafidz tinggal satu cm. dan dengan perlahan kini bibirnya menyentuh bibir ku. ku biarkan perlakuannya terhadap ku karena ini memang hak nya dan kewajiban bagi ku untuk tidak menolaknya.


dia semakin dalam mengecup bibir ku, dengan tanpa sadar tubuh nya pun mendorong tubuhku hingga bersandar pada dinding kamar.


kini posisi kami semakin dekat dengan tubuh yang saling menempel. kemudian tangan nya memegang pinggul ku, dan memelukku semakin erat.


aku yang semula tegang kini bisa lebih rileks dengan membalas pelukan dari Gus hafidz. sesaat dia menghentikan aktivitas nya lalu menggendong tubuh ku dan membaringkannya di atas tempat tidur.


kemudian dia kembali mengecup bibir ku, dengan tangan yang mulai menyentuh ku dengan tidak beraturan.


"nur,, apa boleh Abang,,"


tanya nya dengan tangan yang sudah berada di depan dada ku hendak membuka kancing baju ku.


aku hanya mengangguk sebagai jawaban bahwa kini aku adalah istri nya, seluruh yang ada padaku adalah milik nya.


kembali dia melanjutkan aktivitasnya terhadap ku, namun tiba-tiba.


ting-tong ting-tong


suara bel dari pintu berbunyi, pertanda ada orang yang ingin masuk kedalam apartemen.


dengan segera Gus hafidz kembali memasangkan kancing baju ku, yang hanya baru terbuka sedikit.


"nanti kita lanjut yah"


kata nya dan berlalu menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


aku hanya tersenyum melihat ekspresi nya yang nampak sedikit kesal.


'lucu juga kalau dia lagi kesel gitu' batinku.


tapi sudahlah, mungkin ini memang belum waktunya untuk kami punya waktu berdua. hehe

__ADS_1


sabar ya suami ku sayang ^^


__ADS_2