
POV Alfan
rasa nya seperti mimpi bisa meminang gadis yang selama ini aku damba kan, aku cintai dan aku kagumi.
bertahun-tahun lama nya aku memendam rasa pada nya, meski sempat ditolak oleh nya tapi Alhamdulillah kini ia mau membuka hati nya untuk ku.
acara hari ini berjalan dengan lancar, walau pun ada sedikit rasa kecewa melihat ekspresi Aisyah saat MC mengatakan ingin langsung menghalalkan ikatan kami.
dengan cepat Aisyah mengatakan 'tidak', padahal itu hanya sekedar guyonan saja. walaupun sebenarnya ayah menginginkan agar aku dan Aisyah langsung menikah, agar tidak menimbulkan fitnah di kemudian hari nya.
namun seperti nya Aisyah belum siap untuk itu. tapi ya sudah aku akan bersabar menunggu hingga Aisyah siap. yang penting sekarang dia sudah mau membuka hati nya untuk ku.
"fan, mamah ko rasa nya kurang srek sama Aisyah. dia kaya yang enggak bener-bener cinta sama kamu"
kata mamah saat kami baru sampai di rumah setelah acara pertunangan selesai.
"mamah kenapa bilang gitu? gak baik bicara seperti itu setelah Aisyah jadi tunangan nya Alfan"
kata papah dengan bijak
"iya nih mamah. harus nya mamah seneng dong liat anak nya bahagia"
giliran Husna yang berbicara
"justru karna mamah terlalu memikirkan kebahagiaan anak-anak mamah, maka nya mamah gak mau anak mamah mendapatkan orang yang tidak tepat untuk menemani hidup nya"
aku hanya diam tanpa menanggapi, karna aku paling tidak berani bicara sebelum mamah benar-benar selesai dengan perkataan nya
"lagian, tadi aja pas MC bilang mau dihalalkan dengan cepat reaksi Aisyah langsung nolak kamu fan. jujur mamah kecewa sama sikap nya hari ini, secara tidak langsung dia udah buat kamu malu"
benar kata mamah, reaksi nya Aisyah tadi juga membuat ku kecewa. tapi aku harus bisa berbesar hati dan mengerti dia, insyaallah suatu saat nanti Aisyah akan benar-benar bisa menerima ku dengan hati nya
"coba kamu mau denger nasehat mamah untuk lebih memilih Rahma. dia itu selain cantik, Sholehah, keluarga nya sudah dekat sama kita, dan yang paling penting dia cinta sama kamu. tapi kamu ini malah__"
"udah mah gak baik terus-terusan ngomongin calon mantu kita. bagaimana pun Alfan sudah memilih dan tugas kita sebagai orangtua hanya bisa mendukung dan mendo'akan nya, selama gadis pilihan Alfan baik agama nya kita harus setuju"
aku hanya diam karna tidak mau berdebat dengan mamah, biar papah saja yang menengahi dan menenangkan mamah.
"ya sudah, mah pah Alfan ke kamar dulu yah mau istirahat"
"ya udah sana, tapi sekali lagi mamah minta kamu buat pikirin lagi dengan pilihan kamu mengpeng masih punya waktu buat memilih"
"mah,,,"
"iya, iya"
dengan sedikit cemberut mamah pun menuruti papah agar tidak bicara lagi.
sekali lagi mamah menunjukan tentang perasaan nya yang memang dari awal kurang setuju jika aku lebih memilih Aisyah dan bukan Rahma.
mamah memang sejak dulu menginginkan Rahma menjadi menantu nya. karna selain keluarga kami berteman baik dengan keluarga Rahma, Rahma juga sangat dekat dengan mamah sejak dulu saat kami masih sama-sama kuliah.
__ADS_1
tapi walaupun Rahma orang yang cantik dan baik, hati ini tidak bisa menganggap lebih dari seorang teman. karna sudah lebih dulu di isi oleh Aisyah.
~
"ka hari ini mau ke toko?"
tanya Husna adik ku, saat kami sedang sarapan pagi bersama-sama.
"insyaallah na"
"Husna nebeng yah ke kampus, soal nya mobil Husna lagi di bawa ke bengkel. kalau pake motor, takut hujan soal nya langit di luar udah mendung"
seperti biasa, adik ku satu-satunya ini memasang wajah sedih nya agar di kasihani oleh ku.
"gak usah lah kamu masang wajah kaya gitu di depan kakak, gak mempan"
kata ku sambil terus menyuap kan nasi goreng yang tinggal sedikit lagi ke mulut ku.
setelah selesai menghabiskan sarapan, aku langsung berdiri untuk pamit pada mamah dan mamah.
"fan, hari ini kamu di toko sampai toko tutup kan? kata jeng Nita nanti siang Rahma mau ke toko buat beli bahan bangunan untuk masjid yang mau di bangun nya. jadi mamah harap kamu langsung yang layani, biar gak ada kesalahan"
kata mamah saat aku hendak melangkah meninggalkan meja makan
"insyaallah mah, karna hari ini Alfan mau ke tempat anak-anak dulu buat ngasih buku-buku yang baru buat mereka"
"itu kan bisa minta tolong yang lain, mamah gak mau yah kalau sampe Rahma ke toko tapi kamu nya gak ada"
"mah, mohon maaf jika kata-kata Alfan sedikit kasar. tapi Alfan tahu, ini hanya akal-akalan mamah buat Alfan bisa dekat sama Rahma. tapi maaf mah, hati Alfan sudah memilih Aisyah, jadi Alfan harap mamah bisa mengerti"
"mah, sudah yah jangan bahas itu-itu lagi. nanti Husna telat ke kampus karna harus menunggu ka Alfan yang terus menerus diceramahi sama mamah"
dari nada suara nya, aku bisa tahu jika Husna merasa kesal dengan mamah yang terus-menerus menjodohkan aku dengan Rahma, padahal aku sudah menentukan pilihan.
"na, sudah. kita berangkat yah mah pah. assalamualaikum"
aku dan Husna pun akhirnya pergi bersama menggunakan mobil ku.
"ka, nanti siang kalau mau ke rumah belajar aku ikut yah?"
kata Husna saat kami sudah sampai gerbang kampus nya.
"tumben, emang nya kamu mau ikut bantu ngajarin anak-anak? bukan nya kamu paling gak suka kalau ngajar anak-anak?"
"bukan gak suka ka, tapi gak bisa. apalagi kalau mereka sudah ribut-ribut haduuuhhh,,,,pusing deh kepala"
kata nya sambil memegang kepalanya
"terus kamu mau ngapain?"
"mau ketemu ka Aisyah. dia suka datang ke situ kan?"
__ADS_1
"kirain mau apa. gak tahu sih kalau hari ini. tergantung jadwal praktek nya, kalau sempet pasti ke situ"
"ya udah, pokok nya aku ikut kalau kakak ke sana"
"insyaallah"
setelah selesai mengantarkan Husna, aku pun melanjutkan menyetir mobil menuju toko yang selama ini aku bangun dan aku olah dengan sahabat ku.
sejak awal masuk kuliah aku merintis menjalankan usaha matrial atau menjual bahan-bahan bangunan dengan sahabat ku yang bernama Rama.
sebenarnya toko ini aku yang punya, hanya saja kami berdua yang menjalankan. karna hanya Rama yang bisa aku percaya untuk menggantikan aku saat aku sedang tidak ada di toko.
Alhamdulillah, toko ini sekarang berkembang sangat pesat tanpa embel-embel bantuan dari orangtua.
yah, orangtuaku adalah seorang pengusaha dalam bidang pertambangan yang sukses. namun aku tidak mau mengikuti jejak nya, karna aku mau membuat usaha ku sendiri dan Alhamdulillah papah dan mamah mengerti, sehingga berkat izin dan do'a mereka, usaha ku kini bisa berkembang dan maju.
"pak, ini laporan yang pak Alfan minta"
kata Rama sambil menyerahkan beberapa berkas di atas meja kerja ku
"ram, jangan panggil gue bapak lah. kita tuh partner bukan atasan dan bawahan"
"gak bisa gitu lah, di kantor kita tetep harus bisa profesional"
"ya, tapi gue gak nyaman. dari awal kita merintis usaha ini gak ada istilah atasan dan bawahan, lagian semua karyawan di sini juga pada tahu kalau kita ini sahabatan"
"justru itu gue gak mau, karyawan disini Mandang kalau kita gak profesional"
"udah lah gak usah bahas itu lagi, gue males debat sama Lo"
Rama pun tertawa mendengar ucapan ku yang memang paling malas kalau sudah diajak debat oleh nya, yang ujung-ujungnya dia gak mau ngalah.
"tapi ngomong-ngomong___"
"bentar, hp gue bunyi"
kata ku sambil mengangkat tangan ke hadapan rama
"assalamualaikum mah,,, sudah mah,,, insyaallah, Alfan gak janji,,,,di sini kan ada Rama yang bisa handel semua itu, lagian Rahma juga kenal dekat sama Rama jadi__ ayo lah mah, kita udah bahas soal ini di rumah kan,,, insyaallah, pokok nya Alfan gak janji,,,udah dulu yah mah, Alfan sibuk harus memeriksa laporan yang kemarin sempat tertunda,,, Alfan tutup ya mah, assalamualaikum"
"Tante kenapa?"
tanya Rama saat aku sudah menutup sambungan telpon dari mamah.
"hmmm,,, gue bingung sama sikap nyokap yang terus-menerus mencoba menjodohkan Rahma dengan gue. padahal kemarin baru aja pertunangan gue dengan Aisyah"
"tapi, bukan nya Tante Arin udah setuju sama hubungan kalian kan"
"iya sih, cuma karna kemarin sikap Aisyah yang langsung nolak buat di halalkan, mamah jadi gak respect lagi sama dia karna beranggapan Aisyah tidak benar-benar cinta sama gue"
"iya sih, gue juga agak kurang setuju dengan sikap Aisyah kemarin yang seolah nolak Lo secara gak langsung. tapi yah,,,, karna gue tahu banget cerita kalian, jadi gue faham mungkin Aisyah masih butuh waktu buat bisa sepenuh nya nerima Lo"
__ADS_1
"iya,,, itu yang sekarang gue coba fahami"
tapi sepertinya tidak dengan mamah, dan aku menjadi semakin bingung dengan semua situasi ini.