
POV Gus Hafidz
"ayah kecewa dengan sikap mu"
kata itu yang pertama kali menyambut kedatangan saya.
umma langsung berdiri saat melihat ayah mertua menampar pipi saya, sedangkan Babah hanya duduk dengan raut wajah yang entahlah apa yang ada dipikirannya.
"kamu menjadi penyebab anakku mengalami semua ini, dan setelah nurain koma, kamu bahkan tidak mengabari ayah dan sandi kakak nya nurain. apa maksud kamu melakukan semua ini? kamu ingin membuat nya tersiksa sendirian? tanpa ada keluarga nya yang membela iya?"
sorot mata penuh amarah dan kecewa, itulah yang saat ini saya lihat pada ayah.
"fidz, sebelum operasi berlangsung istri mu sempat sadar dan berpesan pada Tante agar jangan memberitahu ayah dan kakak nya jika terjadi sesuatu pada nya. kecuali jika dia sudah tidak ada di dunia ini. dia tidak ingin ayah dan kakak nya merasakan kesedihan yang dalam lagi setelah kepergian ibu nya"
itu lah amanat yang sempat nurain sampaikan melalu Tante Rini waktu itu, dan saya pun melaksanakan nya dengan berat hati.
"Alhamdulillah kalau cucu ayah lahir dengan selamat. lalu ibu nya mana? ayah mau bicara dengan nya, ayah rindu putri ayah"
"maaf yah, selama kehamilan nurain selalu mengalami kurang darah maka nya nurain sempet tidak sadarkan diri karna kelelahan saat proses melahirkan. jadi sekarang masih di periksa oleh dokter, dan belum bisa di jenguk. tapi kata dokter insyaallah nurain gak akan kenapa-napa"
"baiklah, mudah-mudahan kalian di sana sehat selalu. nanti setelah diperbolehkan melihat nurain, tolong VC lagi ayah yah. maaf ayah dan sandi belum bisa langsung melihat keadaan nurain dan anak kalian karna tugas yang tidak bisa ayah tinggalkan. tapi ayah janji insyaallah jika semua urusan sudah beres, ayah langsung ke Bandung nengok kalian semua"
berbagai macam alasan saya lontarkan, setiap kali ayah menghubungi kami baik itu via VC atau pun hanya melalui pesan WA biasa. belum pernah sekali pun ayah melihat ataupun mendengar suara nurain, selalu ada saja alasan yang saya buat-buat sendiri.
umma dan Babah pernah membicarakan agar saya memberitahukan keadaan nurain pada keluarga nya, tapi tak pernah saya lakukan karna saya mengerti apa yang nurain cemaskan. dia tidak ingin melihat ayah dan kakak nya menghawatirkan keadaan nya.
"maaf yah, hafidz hanya tidak ingin membuat ayah hawatir"
kata saya dengan nada yang gemetar karna sedih melihat kekecewaan dari wajah beliau.
"ayah pikir kamu bisa menjaga putri ayah dengan baik, tapi ternyata ayah salah. justru kamu yang menyebabkan putri ayah seperti sekarang. ayah kecewa sama kamu hafidz, sangat kecewa"
bulir bening itu keluar dari mata seorang ayah karna kecewa pada suami dari putri nya. sesak rasa nya dada ini, melihat takdir yang begitu sulit aku jalani.
istri ku yang sudah terbaring empat bulan lama nya, anak ku yang begitu merindukan sosok seorang ibu, dan sekarang ayah mertua ku menatap ku penuh dengan amarah dan kekecewaan.
ya Allah, rasa nya ujian ini begitu berat untuk ku lewati 😥
~
ayah menatap nurain dengan penuh kasih sayang dan kesedihan yang teramat dalam.
__ADS_1
beliau membelai kepalanya dan kemudian mengecup kening nya dengan air mata yang mulai terurai.
"maafkan ayah nak, ayah tidak bisa menjaga mu dengan baik, ayah tidak ada di samping mu saat kamu butuh, dan maaf karna ayah belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kamu"
sekali lagi, hati ini merasa tersayat dengan semua perkataan ayah pada nurain.
bukan karna tersinggung pada ucapan nya, tapi karna saya tidak bisa menjadi suami yang baik sehingga membuat seorang ayah menangis dan kecewa akibat perbuatan seorang laki-laki yang telah dipercaya untuk menjaga putri nya, tapi justru menjadi penyebab putri nya celaka.
'MAAF AYAH' hanya kata itu yang bisa saya ucapkan dalam hati.
"ayah ingin bertemu dengan dokter yang merawat nurain"
kata beliau tanpa melihat ke arah saya
"hafidz antar ayah ke sana"
saya pun membawa ayah ke ruangan tante Rini dan kebetulan Tante Rini sedang berada di ruangan nya.
"iya kenapa fidz?"
tanya Tante Rini saat pintu sudah saya buka,
"oh,,, tentu silahkan masuk"
kami pun masuk dan duduk di atas kursi yang ada di hadapan meja kerja Tante Rini.
"saya ingin memindahkan putri saya ke rumah sakit besar yang ada di Surabaya"
tiba-tiba ayah mengatakan sesuatu yang membuat jantung saya berhenti seketika.
"m__m__aksud nya yah? ayah ingin membawa nurain?"
tanya saya tak percaya dengan apa yang barusan saya dengar dari mulut beliau
"saya ingin memberikan perawatan yang terbaik untuk putri saya dan tentu nya ada dalam pengawasan saya"
lanjut nya dengan tegas pada Tante Rini tanpa menghiraukan pertanyaan saya terhadap nya
"maksudnya bapa ingin membawa nurain?"
tanya Tante Rini yang mungkin tak kalah kaget nya seperti saya
__ADS_1
"ya, saya ingin merawat putri saya secara langsung"
kata ayah terdengar begitu yakin
"tapi pak, menurut saya perawatan disini sudah cukup madai. apalagi dari awal saya yang menangani nurain. jadi sebaik nya nurain biar di rawat disini oleh saya dan hafidz sebagai suami nya"
kata Tante Rini sambil melihat ke arah saya
"maaf, saya tidak mau berdebat soal ini. saya hanya meminta putri saya di pindahkan ke rumah sakit lain itu saja"
"bukan begitu pa, nurain di rawat di sini atas izin dari wali atau suami nya yaitu hafidz. maka yang bertanggung jawab atas nurain bukan hanya dokter dan pihak rumah sakit, tapi juga hafidz sebagai suami nya. jadi kalau bapak mau memindahkan nurain, tentu itu harus ada izin dari hafidz selain pihak rumah sakit"
"maaf dok, saya tidak bisa membiarkan putri saya di rawat oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab. apalagi dia yang menjadi penyebab putri saya mengalami semua ini. dan dengan tega nya, putri saya koma sudah empat bulan lama nya tapi laki-laki yang mengaku sebagai suami nya ini tidak memberi tahu saya tentang keadaan nya. apa orang seperti ini bisa dikatakan bertanggungjawab atas istri nya?harus nya dokter bisa mengerti itu"
dengan suara yang lantang ayah mengatakan semua itu pada Tante Rini dan saya.
"hmm,,, begini pak. saya sangat mengerti perasaan bapak sebagai seorang ayah melihat putri terbaring tanpa daya. mengenai penyebab kecelakaan itu saya tidak bisa memastikan itu salah siapa, karna saya tidak berada pada lokasi. tapi untuk hafidz yang tidak memberi tahu keadaan nurain pada bapa, itu karna pesan Nurain yang sempat sadar sebelum dioperasi, yang memohon pada saya agar jangan memberi tahu bapa ataupun keluarga nya mengenai keadaan nya. kecuali jika dia sudah tidak ada di Duni ini. itulah kenapa hafid tidak memberi tahu pada bapa dan keluarga lain nya"
saya hanya diam menyimak pembicaraan antara Tante Rini dan ayah, berharap ayah mengerti dengan keadaan ini.
"rasa nya itu terlalu mengada-ada. maaf dok baik ada izin atau tidak, saya akan tetap membawa putri saya untuk di rawat di Surabaya"
tegas sekali ayah mengatakan semua itu. seperti nya ayah benar-benar marah sehingga tidak memberikan kesempatan untuk saya menjelaskan semua nya.
mau tidak mau dokter Rini pun memberikan izin gar ayah membawa nurain pergi ke Surabaya. bahkan, saya sampai berlutut pada ayah agar membiarkan nurain di rawat di sini bersama saya.
"maaf yah, bagaimana pun hafidz adalah suami nya nurain, jadi hafidz lebih berhak dari pada ayah atas nya"
kini nada suara saya lebih tegas, agar ayah mau mengerti dan tidak jadi membawa nurain
"maaf ayah tidak ingin berdebat lagi soal itu. jika kamu memang suami nya nurain, maka biarkan ayah membawa nya untuk merawat nya. ayah yakin penyebab nurain belum bangun sampai saat ini, itu karna rasa kecewanya terhadap kamu. jadi biarkan dia jauh dari kamu selama untuk sementara waktu"
tanpa menunggu jawaban ku, ayah langsung pergi mempersiapkan segala sesuatu untuk kepindahan nurain.
"Besan, saya harap besan memikirkan kembali apa yang besan putuskan. hafidz memang salah, tapi alangkah baik nya jika nurain dirawat di sini saja bersama suami dan anak nya. apalagi_"
"maaf kiai, saya bukan mau memisahkan hafidz dan nurain untuk selamanya. saya hanya ingin merawat putri saya sendiri sebelum penyesalan itu datang pada saya. hafidz boleh melihat nya sesekali, dan saya akan mengijinkan nurain kembali ke sini jika dia sudah sadar dan hati saya sudah terbuka untuk memaafkan hafidz. mohon maaf, kiai bisa mengerti perasaan saya sebagai seorang ayah pada putri nya"
akhirnya Babah dan umma pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. karna ayah kekeuh pada keinginan nya.
ya Allah, ujian apalagi ini
__ADS_1