
"teh nur, lusa jadwal USG lagi kan?"
tanya Farah saat aku sedang duduk di taman belakang melihat ikan-ikan di kolam bareng suami ku
"iya Ning, insyaallah"
jawab ku sambil tersenyum simpul
"Farah ikut yah, mau liat jenis kelamin nya. siapa tahu USG sekarang bisa keliatan apa jenis kelamin nya. soal nya kemaren kan posisi nya selalu lagi gak kebetulan"
"maka nya cepetan nikah dong, biar punya baby sendiri"
kata Gus hafidz meledek
"apa urusan nya. lagian mau beresin kuliah dulu. tanggung dua semester lagi"
sejenak aku terdiam mendengar ucapan king Farah. benar, dulu ibu selalu bilang untuk aku bisa menyeimbangkan antara ilmu since dan agama.
dari angkatan ku, baru aku dan Maryam yang sudah menikah dan Bahkan sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu.
hampir semua teman-teman melanjutkan pendidikan nya, termasuk Maryam.
walaupun sudah menikah, tapi dia melanjutkan pendidikan nya. dan asyila, sebentar lagi dia juga akan nyusul Maryam buat daftar ke perguruan tinggi.
sedangkan aku disini? apa ada kesempatan untuk ku melanjutkan pendidikan ku? jangankan untuk aktivitas di luar rumah, bahkan untuk bangun dan berdiri saja suami ku yang selalu siaga membantu ku.
karna perut yang semakin membesar membuatku agak sedikit kesusahan untuk beraktivitas dan pasti nya aku pun jadi mudah kelelahan.
"kamu kenapa sayang? ko melamun?"
Gus hafidz menyentuh pundak ku
"enggak ko bang,,, Ning sini duduk, jangan berdiri di situ"
ajak ku pada Ning Farah yang sedari tadi hanya berdiri di sebrang kolam yang tidak terlalu luas
Ning Farah pun berjalan mendekati kami, dan duduk di sebelah Gus hafidz.
"kemarin kamu bukan nya habis dari rumah nya Aisyah de?"
kata Gus hafidz pada Ning Farah
"oh iya, astaghfirullah Farah lupa. kemarin ka aisy nitip bingkisan buat teh nur, terus kata nya Afwan waktu acara tujuh bulanan gak bisa hadir. soal nya mendadak ada pasien darurat"
"oh pantas, Abang kira dia sakit. tapi syukurlah kalau dia baik-baik aja"
entah kenapa mendengar perkataan Gus hafidz yang menghawatirkan dokter Aisyah membuat ku sedikit cemburu.
karna aku merasa ada sebuah rasa yang tidak di sadari oleh suami ku pada dokter Aisyah. bukan aku meragukan perasaan nya pada ku, hanya saja,,, entah lah aku belum berani menyimpulkan nya, karna aku sendiri pun takut dengan kesimpulan yang ku buat nantinya.
"Farah ambil dulu yah bingkisan nya"
"enggak usah Ning, nanti aja gak papa"
cegah ku saat Ning Farah hendak berdiri dari kursinya
"iya de nanti aja gak papa"
sambung Gus hafidz
"oke deh,,, oh iya bang, Ade punya kabar mengejutkan loh dari ka aisy"
"kabar apa memang nya?"
tanya Gus hafidz penasaran, begitupun aku yang juga ikut penasaran
"eumm,,,apa yah. nanti aja lah, biar ka aisy sendiri yang nyampein ke Abang sama yang lain nya"
"huuu, ngapain kamu ngomong kalau Ujung-ujungnya gak mau ngasih tahu"
"hehe,, kan biar Abang penasaran. ya udah ah Farah mau ke dalam dulu, silahkan Abang sama teh nur lanjutin santai-santai"
kemudian Ning Farah pun masuk ke dalam, aedangkan aku dan Gus hafidz masih betah duduk santai sambil memandangi ikan-ikan di dalam kolam.
~
"neng awas"
dengan sigap BI Nani menarik lenganku yang hampir terkena kucuran air panas dari termos yang ku pegang
AAW
"astaghfirullah, neng gak kenapa-kenapa kan"
bi nani berjongkok di hadapan ku untuk melihat keadaan kaki ku yang sedikit terkena cipratan air panas
"enggak ko bi gak papa, tapi itu termos nya pecah"
aku menunjuk termos yang tadi ku jatuh kan karna reflek terlepas dari tangan ku
"Eneng ini, masih juga mikirin termos. biar bibi ambilkan salep yah biar gak melepuh kulit nya"
aku hanya mengangguk sebagai jawaban
"BI, biar nur aja gak papa. gak enak masa kaki nur di sentuh bibi"
aku mencoba mengambil salep yang ada di tangan BI Nani
__ADS_1
"enggak papa biar bibi aja, lagian emang nya neng bisa sendiri? perut udah besar gitu juga"
"he, iya lupa BI"
"neng ini kenapa? kaya yang ngelamun gitu. memang nya mikirin apa?"
tanya bi Nani sambil mengoleskan salep pada kaki ku
"enggak ko bi, gak lagi mikirin apa-apa"
"nanti, kalau mau apa-apa bilang bibi aja yah"
"enggak papa BI, cuma mau menyeduh susu aja ko"
"memang nya Gus hafidz kemana? biasa nya juga Gus hafidz yang buatin"
"Abang lagi rapat sama para ustadz dan ustadzah, buat persiapan study toor kelas IX"
"oh pantes,,, ya udah sekarang bibi Anter neng ke dalam yah. biar bibi nanti yang anterin susu nya"
"tapi BI, nur mau beresin termos nya dulu"
"enggak usah neng, biar bibi aja. susah ya, kalau mau bantu anak baik selalu nolak, karna gak mau ngerepotin orang lain"
"bibi bisa aja"
"ka mut kenapa?"
tanya Gus Lutfi yang baru datang dari luar habis main
"gak papa, cuma kena air panas dikit"
jawab ku sambil tersenyum
"Lutfi panggilin Abang yah"
"jangan, ka mut gak papa ko. lagian Abang nya lagi rapat gak boleh di ganggu"
"mending temenin aja sama Gus Lutfi ka mut nya. bibi mau ke dapur dulu, mau buatin susu buat Dede bayi nya"
kini BI Nani yang bicara
"oke deh, Luthfi juga mau susu yang bi,,,eh tapi jangan deh jus aja"
"oke siap, Gus bibi yang ganteng"
lalu BI Nani pun masuk ke dapur, sedang kan Gus Lutfi menemaniku sambil bermain dengan mainan nya yang begitu banyak
~
"sayang, kata Lutfi tadi kamu ke siram air panas? mana? biar Abang obati"
"bukan ke siram bang, mungkin lebih tepat nya keciprat. lagian udah di obati ko sama BIbi"
"sama aja, inti nya kena-kena juga sama air panas"
"Abang pasti capek, nur buatin teh atau jus yah"
"gak usah, kamu di sini aja temenin Abang. lagian Abang cuma rapat bukan abis kerja rodi. ada yang mau Abang omongin sama kamu"
kata nya sambil memeluk ku dari belakang.
"dari kemarin Abang perhatiin kamu agak pendiem, kenapa? istri Abang kepikiran mau kuliah yah?"
"ko Abang tahu?"
tanya ku yang kaget karna gus hafidz bisa tahu apa yang aku pikirkan
"tau lah, Abang bisa tebak isi kepala kamu. memang nya istri Abang yang Sholehah ini mau ngambil jurusan apa kalau kuliah nanti Hem?"
"kata nya tahu isi kepala aku, masa masih nanya mau ngambil jurusan apa"
"oke,,, Abang tahu kamu pasti mau ngambil jurusan tafsir Qur'an atau sastra Arab kan!"
"ko Abang tahu lagi?"
sekali lagi aku di buat kaget oleh tebakan Gus hafidz memang benar sekali. aku sendiri belum pernah mengutarakan keinginan ku, tapi suami ku seolah tahu apa yang aku inginkan.
"apa sih yang Abang gak tahu dari kamu"
"apa emang?"
"yah,, apa? kan Abang nanya harus nya kamu jawab dong bukan balik nanya"
"dih,,, ngelucu"
"hahaha,,, sekarang Abang serius nih mau tanya, istri Abang beneran mau kuliah?"
aku mengangguk sambil melihat ke arah Gus hafidz
"oke Abang pasti dukung sepenuh hati, tapi nanti setelah anak kita lahir dan kamu juga udah bener-bener siap mulai dari mental dan kesehatan, baru kita daftar kuliah. gimana?"
"Abang serius ngizinin nur?"
"yup"
Gus hafidz mengangguk tanpa ragu, dan itu membuat ku sangat bahagia, karna mendapat dukungan dari suami ku untuk meneruskan pendidikan ku.
__ADS_1
"Syukron Abang"
aku memeluk suami ku dengan erat.
"dan satu lagi, Abang mau ajak kamu besok buat pergi piknik setelah pulang dari USG"
"masyaallah, nur aja hampir lupa sama keinginan nur yang itu. malah Abang yang ngingetin, Syukron,,,Syukron banget ya Abang
~
sekali lagi aku kembali memeluk tubuh suami ku dengan girang.
begitu lah, suami ku adalah suami terbaik di dunia. Syukron Abang 😇
~
"gimana Tante Rini? bayi nya ponakan aku laki-laki apa perempuan?"
tanya Ning Farah antusias, saat aku sedang di periksa oleh dokter Rini
"eumm,, sebentar,,,nah sekarang keliatan, bayinya,,, perempuan"
jawab dokter Rini sambil terus pokus pada layar monitor USG
"Tante yakin"
tanya Ning Farah lagi
"insyaallah, tuh kamu bisa liat di monitor sayang"
"subhanallah, iya Tante. Alhamdulillah aku bakalan punya ponakan perempuan yang pasti nya cantik dan lucu. jadi gak sabar pengen cepet gendong"
"selamat yah sayang, kamu dan bayi nya juga Alhamdulillah sehat. mudah-mudahan terus seperti ini sampai persalinan nanti tiba"
"amin yaa Allah amin"
kata ku dan Ning Farah serempak.
setelah selesai dari periksa, aku dan Ning Farah bergegas untuk pulang. namun di perjalanan, kami bertemu dengan dokter Aisyah yang kebetulan sedang berkunjung kepada sahabat nya yang kebetulan juga praktek di rumah sakit ini.
sudah lama juga aku tidak bertemu dengan nya. walaupun memakai baju yang begitu longgar dan menggunakan cadar, tapi aku dapat melihat kalau dokter Aisyah menjadi lebih kurus dari sebelum nya.
"dokter, nur mau ngucapin makasih buat hadiah nya"
kata ku saat kami dalam perjalanan menuju pondok. karna kebetulan dokter Aisyah juga ingin ke pondok, jadi nya kami pun bareng-bareng berangkat nya.
"iya sama-sama. maaf ya waktu itu ana gak bisa hadir ke acara tujuh bulanan nya"
"iya gak papa ko dok, nur ngerti"
"ka aisy ke rumah pasti mau ngasih kabar soal kemarin kan?"
kata Farah bertanya pada dokter Aisyah
"iya, insyaallah"
selang beberapa menit, kami pun sampai di pondok. perjalan memang tidak terlalu lama karna jarak antara rumah sakit dan pondok tidak terlalu jauh, hanya see kita dua puluh menitan.
"wah ada Aisyah ke sini, umma kangen banget sama kamu"
dengan senyum yang lembut umma menyambut kedatangan dokter Aisyah.
"iya umma, maaf yah aisy jarang ke sini"
"gak papa sayang, umma ngerti ko"
"sayang, kamu udah pulang__aisy?"
Gus hafidz yang baru datang, seolah terpaku melihat kedatangan dokter Aisyah yang tiba-tiba
"assalamualaikum hafidz"
"wa'alaikum salam"
kami pun duduk di kursi ruang tamu, dan bibi dengan segera membawakan air minum untuk kami semua
"umma, kedatangan aisy ke sini sebenarnya ingin memberi tahu kalau, Minggu depan aisy mau acara__hitbahan"
kata dokter Aisyah sambil menunduk, dan aku bisa melihat air mata nya terjatuh saat itu juga, namun dengan segera di hapus nya
"hitbah?"
ekspresi dari Gus hafidz yang begitu jelas, bahwa dia terkejut dengan apa yang di sampaikan oleh dokter Aisyah.
"dengan siapa aisy? apa ana kenal dengan laki-laki yang akan menghitbah anti itu?"
tanya Gus hafidz lagi, aku hanya memperhatikan percakapan itu, dengan terus melihat bagaimana ekspresi dari suami ku.
"enggak, anta gak kenal dengan dia. tapi insyaallah dia laki-laki yang baik dan Sholeh"
"tapi aisy__"
"Abang ini kenapa sih? harus nya seneng dong ka aisy bisa move on dari Abang"
perkataan Ning Farah membuat semua yang ada di ruangan melihat ke arah nya.
"maaf, keceplosan"
__ADS_1
kata nya dengan rasa bersalah
aku jadi bingung dan bertanya-tanya dalam hati. apa benar Gus hafidz tidak pernah menyimpan perasaan lebih pada dokter Aisyah? mereka tumbuh bersama, dan pasti sedikitnya,,, astaghfirullah, prasangka ini hadir lagi pada ku.