
"assalamualaikum Abang"
ku dengar suara seorang laki-laki yang mengucap salam di ambang pintu.
dengan segera ku rapikan hijab ku, kemudian kembali memasang cadar yang sempat di buka oleh Gus hafidz tadi.
yah,, setelah menikah ku putuskan untuk menggunakan cadar agar kecantikan ku hanya dilihat oleh suami ku, agar aku bisa lebih menjaga diri ku dari maksiat dan fitnah.
agak sulit sih sebenarnya, karna aku tinggal di sebuah kampung yang notabene nya tidak terlalu islami. bahkan kalau melihat seseorang yang memakai cadar, mungkin itu adalah sesuatu yang akan menjadi pusat perhatian. namun tekad ku sudah bulat dan insyaallah Allah akan mudahkan jalan ku.
"bang, kata nya uwa dan keluarga yang lain udah ke sini yah, mana Arif mau ketemu"
tanya seseorang yang bernama Arif dengan begitu antusias pada Gus hafidz
"iya memang mau ke sini, tapi kayak nya masih di perjalanan. karna gak bareng sama Abang berangkat nya"
jawab Gus hafidz
"yah,,, kirain bareng sama Abang ke sini"
terdengar suara kekecewaan dari orang yang bernama Arif tersebut
"tapi Abang mau kenalin anta sama seseorang. tunggu sini ya"
pinta Gus hafidz pada orang itu
"siapa bang"
"lho sayang, ternyata disini kirain Abang masih di kamar"
kata Gus hafidz saat menemukan ku sedang berdiri di balik dinding ruang tv
"ya udah sini yuk, Abang mau kenalin kamu sama sepupu Abang"
kemudian Gus hafidz menggandengku dan mendorong tubuh ku untuk berjalan beberapa langkah menuju ruang tamu
"nah Rif, kenalin ini istri Abang tercinta nama nya syafina shidqya nurain"
Gus hafidz memperkenalkan aku pada seseorang yang tak lain adalah sepupunya Gus hafidz
aku hanya mengangguk sambil menyimpan kedua tangan ku di depan dada sebagai tanda salam perkenalan dalam Islam, karna memang dilarang untuk bersentuhan dengan yang bukan mahramnya
"sayang, ini adalah Arif sepupu Abang yang juga kuliah di sini. tapi dia dua tahun di bawah Abang"
"assalamualaikum teh"
sapa nya dengan sopan dan santun.
lalu kami pun berlanjut dengan berbincang-bincang sedikit. atau mungkin lebih tepatnya perbincangan antara Gus hafidz dan sepupunya.
aku hanya mengangguk dan menjawab sesekali, jika pembahasan itu ditujukan kepadaku.
"eh bang lupa, kemarin teman ana ada yang nanyain Abang. malah sampe minta no telpon Abang, tapi Arif belum kasih soal nya belum bilang sama Abang"
kata Arif pada Gus hafidz
"siapa?"
"nama nya,,,"
DERRRT DERRRT
tiba-tiba suara hp bergetar, dan Gus hafidz langsung mengangkat nya sebelum Arif menyelesaikan perkataannya.
"assalamualaikum bah,,,"
Gus hafidz mengangkat teleponnya dengan dengan mengangkat tangannya dihadapan Arif sebagai tanda agar tidak melanjutkan perkataannya nya dulu.
"oh begitu,,,tapi sekarang Abah udah sampai bandara,,,baik bah,,,apa perlu hafidz jemput,,,oh iya bah,,,iya,,,baik bah,,, waalaikumsalam wr wb"
Gus hafidz menutup telpon setelah selesai berbicara dengan Abah di ujung sana
__ADS_1
"Rif, Babah Abang sudah sampai bandara. tapi kata nya mau langsung jalan-jalan dulu sambil mencari makanan di luar. nanti malam baru ke sini"
"jadi umma dan Babah mau nginep sini bang?"
tanya ku sebelum sepupunya Gus hafidz mengatakan sesuatu.
"iya sayang, jadi nya Babah sama yang lain nginep disini. gak papa kan?"
"enggak apa-apa lah bang, malah nur seneng bisa kumpul bareng-bareng"
"ya udah kalau gitu Arif pamit aja dulu bang, mau ada acara ketemu temen dulu di luar. biar besok aja Arif ketemu sama uwa dan yang lainnya"
"kenapa gak disini aja nunggu sekalian nginep"
kata Gus hafidz pada Arif
"enggak usah bang, biar besok aja Arif ke sini lagi sekalian ikut ke wisuda Abang
"ya udah kalau gitu gak apa-apa, biar nanti Abang bilang sama Babah dan yang lainnya"
"ya udah bang, teh, Arif pamit dulu ya. assalamualaikum"
"waalaikumsalam wr wb"
~
pagi tiba,
aku dan yang lain nya sedang sibuk bersiap-siap untuk pergi ke acara wisuda Gus hafidz.
"sayang, kamu pakai baju ini ya buat menghadiri acara hari ini"
Gus hafidz menyerahkan sebuah baju berwarna biru Wardah yang begitu kalem.
"ini sebenarnya pilihan umma model nya, karna kalau Abang yang pilih takut salah. tapi kalau warna nya itu Abang yang pilih. mudah-mudahan anti suka yah"
aku pun menerima baju itu dari tangan Gus hafidz.
kata ku sambil tersenyum pada Gus hafidz.
kemudian aku pun membawa baju itu ke dalam kamar mandi agar setelah mandi bisa langsung aku pakai.
"lho, Abang masih disini?"
tanya ku sedikit kaget karna Gus hafidz masih di dalam kamar saat aku selesai dari mandi.
'untung udah pake baju dan hijab'. batinku
sebenarnya aku belum benar-benar berani memperlihatkan aurat ku dihadapan Gus hafidz.
apalagi kejadian kemarin yang masih membuat ku malu dihadapannya. bahkan sampai sekarang aku belum memperlihatkan rambut ku secara utuh dihadapannya.
aku masih sangat terlalu malu, karna belum terbiasa. jika kalian bertanya apakah aku tidur juga memakai hijab? jawaban nya 'ya'. aku suka tertidur dalam keadaan tidak sadar.
maksudnya kalau aku tidur keseringan dalam keadaan sedang membaca buku, atau sedang menulis sesuatu hingga rasa ngantuk menghampiri dan alhasil akupun ketiduran dengan sendirinya. jadi itulah kenapa terkadang aku tidur masih dengan menggunakan hijab ku.
"iya Abang nunggu kamu, biar kita ke luar bareng"
"tapi ana belum benar-benar siap bang"
"ya udah Abang tunggu nur sampai selesai berdandan"
"tapi__ nur malu"
"ya udah kalau gitu Abang nunggu di luar sama Babah dan yang lainnya"
"maaf ya bang"
kata ku sedikit tidak enak karna seolah tidak ingin dilihat oleh suami sendiri.
"iya gak apa-apa, Abang ngerti ko"
__ADS_1
Gus hafidz pun keluar setelah mencium kening ku dengan penuh kasih sayang.
setelah Gus hafidz keluar kamar, aku pun langsung berdandan di depan cermin meja rias yang ada di kamar.
sebenarnya bukan berdandan ala pesta gitu, hanya memakai pelembab dan bedak seadanya. namun untuk saat ini mungkin aku perlu tambahkan dengan sedikit lipstik di bibir agar tidak terlalu pias dan mscara untuk lebih menghidupkan mata ku.
"bagaimana sayang, sudah selesai?"
tiba-tiba Gus hafidz masuk ke dalam kamar saat aku hendak ingin memakai hijab ku.
"tunggu"
tiba-tiba Gus hafidz menghentikan tangan ku yang sedang memakai kan hijab ke atas kepala ku.
"tunggu, jangan di pake dulu hijab nya. boleh kan Abang melihat rambutmu?"
aku hanya mengangguk malu tanpa melihat ke arah Gus hafidz yang sudah berdiri hadapan ku
"kamu cantik sekali sayang, apalagi tanpa hijab seperti ini. rambut mu juga indah, Abang suka melihat rambut tergerai seperti ini"
Gus hafidz mengelus rambutku yang tergerai, lalu menyentuh wajah ku dengan terus menatap ku dan,,,
Cup
satu ciuman mendarat tepat di bibir ku.
"kalau sedang tidak ada Babah dan yang lainnya diluar, mungkin Abang akan melanjutkan aktivitas Abang yang kemarin sempat tertunda"
Gus hafidz berbisik di telingaku dan langsung berjalan keluar kamar.
aku hanya tersenyum malu ke arah nya, dan kembali mengenakan hijab ku yang tadi belum sempat ku pakai.
~
di tempat acara wisuda,
aku di buat takju dengan besarnya dan luasnya kampus tempat Gus hafidz belajar.
Di samping itu acara wisuda juga dibuat glamour penuh dengan hiburan, prosesi wisudanya terasa sangat asing bagiku yang memang pernah menghadiri wisuda Abang ku di Indonesia.
Situasinya sangat informal, santai, penuh dengan performance atau pertunjukan dan tidak ada kesan resmi. Wisuda diselenggarakan dalam suatu stadion.
Seluruh keluarga wisudawan menempati kursi-kursi di bagian kanan, kiri dan belakang, sementara wisudawan dan para tamu menempati bagian tengah stadion.
Prosesi wisuda diawali dengan masuknya wisudawan ke stadion. Setelah keluarga wisudawan dan para tamu menempati kursi yang disediakan, para wisudawan memasuki stadion melalui panggung menuju bagian tengah belakang dari stadion, berbaris satu per satu.
Setelah semua wisudawan masuk ke stadion, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Turki, penayangan profil universitas dan kegiatan terkini serta diselingi dengan hiburan.
Ketika diselingi dengan acara pertunjukkan yang cukup spektakuler, aku disajikan dengan pemandangan yang cukup aneh bagi ku. karna saat acara pertunjukan para wisudawan dengan santai nya mengekpresikan gaya tubuh mereka dengan berjingkrak-jingkrak semau mereka.
ini sangat aneh bagiku, karna kalau di Indonesia semua itu tidak ada. wisudawan Indonesia hanya duduk dengan formal dari awal hingga acara selesai.
Setelah selingan hiburan selesai, acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan bagi wisudawan terbaik, dan itu diberikan pada suami ku salah satu nya.
aku tersenyum manis dibalik cadar ku, tak kala Gus hafidz berjalan ke atas panggung untuk menerima penghargaan. dia memberikan sedikit pidatonya, yang ditutup dengan.
"ku persembahkan ini untuk istriku tercinta, syafina shidqya nurain"
sonta sorak Sorai tdan tepuk tangan bergema memenuhi ruangan stadion. dan itu berhasil membuat hati ku tersnjung.
lalu kemudian dilanjut dengan sambutan singkat dari rektor dan tamu-tamu yang hadir.
Acara diakhiri dengan pemberian ijazah kepada wisudawan dengan prosesi yang sangat informal. Wisudawan berjalan dengan santai berbaris menuju ke panggung unuk menerima ijazah. Ijazah yang diterimakan berupa gulungan kertas yang diberi tali pita.
Setelah wisudawan menerima ijazah, mereka berkumpul di panggung untuk melakukan hitung mundur.
aku penasaran, dan bertanya-tanya dalam hati 'apa yang terjadi setelah hitung mundur mencapai nol?' Ternyata mereka melempar topi toga ke atas secara bersamaan.
subhanallah, sungguh pengalaman baru bagi ku karna bisa melihat bagaimana perbedaan adat di setiap tempat. bahkan ini diluar negri, yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan bahwa aku akan ke sini suatu hari nanti.
dan ini berkat dia, suamiku 🥰
__ADS_1