
POV Gus hafidz
"nak, kamu harus tenang agar konsentrasi menyetir. ingat jangan sampai kita semua ikut celaka"
kata umma yang duduk di samping saya, dan hanya anggukan yang dapat saya berikan sebagai jawaban.
masih dalam tangis, saya terus melihat nurain yang terbaring lemah melalui kaca spion.
'kamu kuat ya sayang'
setelah dua puluh lima menit, kami sampai di rumah sakit tempat Aisyah praktek dulu.
"tolong ambilkan jangkar, ada pasien kecelakaan"
dengan segera Nilam teman nya Aisyah meminta pada perawat agar membawakan jangkar untuk nurain.
tanpa menunggu lama, perawat itu langsung mendorong roda jangkar masuk ke dalam.
"kamu kuat sayang yah, Abang di sini"
saya menggenggam erat tangan nya yang terasa dingin. nurain hanya tersenyum sambil menahan sakit. perih rasanya melihat semua itu, dia yang masih sangat muda harus menjadi seorang ibu sebelum bisa mengejar cita-cita nya, bahkan untuk menjadi seorang ibu pun, itu tak mudah seperti yang di bayangkan.
'maafkan Abang nur, karna Abang kamu harus melewati semua ini. karna Abang, kamu harus menunggu untuk bisa mengejar cita-cita mu, karna Abang pendidikan kan mu harus tertunda. Abang janji setelah ini, Abang akan mendukung semua cita dan harapan mu yang belum tercapai'
dalam panik, saya terus menitikkan air mata menunggu bagaimana keadaan anak dan istri saya di dalam sana.
"kamu yang sabar nak, insyaallah nurain dan anak mu selamat"
umma mengelus punggung saya dengan lembut
"ini salah hafidz umma, seandainya saja hafidz tidak ke cafe itu mungkin__ mungkin semua ini gak akan terjadi"
"istighfar nak, kamu tidak boleh berkata seperti itu. ini semua sudah ada yang mengatur, kita tidak boleh seakan-akan semua ini ada dalam kuasa kita. istighfar fidz, sekarang kita berdo'a minta sama Allah agar nurain dan anak nya selamat"
yah, umma benar kini bukan saat nya saya mengeluh atas semua takdir Allah, bukan waktunya menyalahkan keadaan atas apa yang menimpa nurain.
"gimana Rin?" tanya umma saat dokter Rini sudah keluar dari ruang pemeriksaan
"hmm,, begini. untuk menyelamatkan bayi nya, kita harus segera melakukan operasi. tapi__"
"tapi apa Tante?"
__ADS_1
"tapi, untuk ibu nya kemungkinan selamat sangat kecil"
rasa nya tubuh ini tak sanggup berdiri setelah mendengar apa yang dikatakan dokter Rini.
bagaimana bisa saya hidup tanpa nurain? bagaimana bisa saya melewati hari-hari saya tanpa dia?
ya Allah jika ini saat nya untuk kami berpisah, rasa nya hati ini belum siap menghadapi semua itu!
"Rin, apa tidak ada cara lain agar kedua nya bisa selamat?"
tanya umma dengan suara yang gemetar
"Zahra, kita hanya manusia biasa yang memliki keterbatasan. mengenai nurain akan selamat atau tidak, kita serahkan semua nya kepada Allah. walaupun menurut penglihatan medis keselamatannya hanya 20%, tapi kita masih punya Allah yang memiliki kekuasaan di atas kekuasaan. kita pasrahkan semua nya kepada Allah, kita minta pada sang penguasa, pada sang pemilik nyawa agar memberikan kesempatan pada kita untuk bisa berkumpul kembali dengan putri kita nurain"
"kamu benar Rin"
kata umma yang kemudian menangis dalam pelukan sahabat nya itu.
begitupun Aisyah dan Farah, yang dari tadi hanya diam ditemani air mata masing-masing.
"kamu sekarang ikut Tante ya fidz, karna ada beberapa berkas yang harus kamu tandatangani"
saya pun mengikuti Tante Rini ke ruangan nya
dengan lembut umma mengelus kepala saya yang tertunduk dalam kesedihan, setelah saya kembali dari ruangan dokter Rini.
"umma, hafidz mau ke mesjid dulu, sebelum operasi dimulai"
umma hanya mengangguk sebagai jawaban.
sekilas melihat Aisyah yang masih terduduk menunduk dalam tangis nya, dan Farah mencoba menenangkan nya.
yah, saya sangat tahu sifat nya Aisyah. dia pasti sangat merasa bersalah atas kejadian ini.
tapi saya tak bisa menghibur nya, atau sekedar mengatakan 'bahwa ini bukan salah nya' karna, hati saya pun sedang tidak baik-baik saja.
hati saya sedang sangat hancur dan takut, karna rasa bersalah ini, melebihi apa yang di rasakan oleh Aisyah.
"fidz ente lagi apa disini? kebetulan banget kita ketemu disini, ana abis nganter temen ana yang kena musibah"
suara seseorang yang sudah sangat saya hafal menyadarkan saya saat saya sedang termenung setelah melaksanakan sholat asar di masjid.
__ADS_1
"ente__ente baik-baik aja kan?"
tanya Alif yang kini sudah duduk di samping saya. dia memegang bahu saya, dengan tatapan menyelidik.
"fidz gak terjadi apa-apa kan sama nurain?"
tanya nya lagi, saat tak ada jawaban yang keluar dari mulut saya.
saya mengusap wajah saya dengan kasar, agar kesadaran hati ini bisa kembali.
"nurain, kecelakaan lif dan sekarang dia sedang berjuang untuk hidup nya"
air mata itu kembali keluar, saat lidah ini menyebut nama istri yang teramat saya cintai.
"innalilahi, ente yang sabar ya fidz. insyaallah nurain bakalan kumpul lagi bareng kita dalam keadaan sehat wal'afiyat"
"insyaallah, bantu do'a ya lif"
"pasti, ana ikut doakan kebaikan buat istri ente. terus bayi nya gimana?"
"kata dokter Rini, insyaallah bayi nya selamat jika operasi dilakukan hari ini juga. tapi kalau untuk ibu nya__"
"udah, ente serahin semua nya sama Allah. pengamatan dan penglihatan dokter itu terbatas, dan itu hanya kemungkinan. kita punya Allah yang memiliki kepastian tanpa ragu"
"tapi lif, ana gak sanggup jika memang nurain harus ninggalin ana lebih dulu"
"ana tahu pasti itu sangat menyakitkan kalau orang yang kita cinta, kita sayang pergi ninggalin kita untuk selamanya. tapi untuk sekarang, kita masih punya harapan dengan cara terus berdo'a untuk keselamatan nurain. ana yakin ente orang yang kuat"
benar apa yang di katakan Alif, masih ada harapan untuk nurain bisa kembali sembuh, serahkan semua nya kepada Allah, kepada yang pemilik kehidupan.
tidak seharusnya saya larut dalam kesedihan yang belum pasti, karna istri saya untuk saat ini masih ada bersama kami.
"ya udah sekarang kita ke sana, ana juga mau liat keadaan nurain di sana"
saya dan Alif pun kembali ke ruangan dimana nurain akan di operasi.
saat kami sampai, ternyata sudah ada Babah dan ustadz Ilham yang sedang duduk bersama umma.
sedangkan Farah dan Aisyah sudah tidak ada, mungkin mereka sedang pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat asar dulu.
"kamu yang tabah ya nak, insyaallah putri dan cucu Babah akan selamat"
__ADS_1
kali ini Babah yang mencoba menguatkan hati saya.
'sayang, Abang tahu kamu adalah perempuan yang kuat, dan istri yang sempurna untuk Abang. insyaallah kamu bisa melewati semua ini, kami di sini semua menyayangi mu, berharap kamu bisa kembali kumpul dan tertawa bersama kami'