Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Terlalu Sakit


__ADS_3

POV Aisyah


kemarin saat aku bertemu dengan Alif dia mengatakan bahwa hafidz sedang ada di Indonesia. aku sangat senang mendengar nya, tapi kenapa hafidz tidak memberitahu aku sebelum nya.


kecewa memang, karna semakin ke sini hafidz seolah semakin menjaga jarak denganku. 'apa mungkin karna hafidz benar-benar menyukai nurain?' batinku mengira-ngira.


jika aku di ijinkan untuk meminta pilihan kepada Allah, maka aku akan meminta agar allah menjadikan hati hafidz untuk memilih ku dan hanya mencintai ku.


"isy,,, hari ini selesai praktek jam berapa?"


tanya Haikal salah satu teman ku di tempat ku bekerja saat kami bertemu di lorong rumah sakit


"sekitar jam satu kal"


"kalau gitu,,, kenapa kita gak makan siang bersama aja setelah selesai praktek? kebetulan saya juga selesai sekitar jam satu an"


"terimakasih untuk ajakan nya. tapi mohon maaf sepertinya tidak bisa karna saya mempunyai urusan di luar setelah praktek"


"ohh,,, kalau besok bagaimana?"


"eumm,,, begini dokter Haikal, mungkin disini saya akan sedikit menjelaskan kenapa saya selalu menolak saat di ajak makan berdua oleh dokter. bukan saya tidak menghargai ajakan dokter hanya saja saya merasa kurang nyaman jika harus makan berdua tanpa alasan yang urgen, apalagi dengan status saya yang merupakan seorang muslimah dengan pakaian yang sangat tertutup. saya tidak ingin menimbulkan fitnah bagi saya, dokter maupun orang lain. saya kira penjelasan saya sudah lebih dari cukup untuk dokter pahami"


dengan nada yang lembut ku coba memberikan pengertian pada dokter Haikal yang sudah berulang kali mengajak ku untuk makan atau pergi berdua. entah lah maksud nya apa, namun mudah-mudahan dengan begitu dia bisa mengerti.


~


setelah sampai di rumah hafidz aku langsung masuk dengan mengucap salam. tak kala masuk aku pun langsung di sambut oleh Farah dengan begitu antusias.


itu memang sudah menjadi kebiasaannya. karna selain dekat dengan hafidz aku juga sangat dekat dengan Farah, dia sudah aku anggap seperti adik sendiri.


apalagi aku memang tidak punya saudara, karna aku adalah anak tunggal dari kedua orangtuaku setelah berulang kali ibu ku mengalami keguguran hingga akhirnya lahir lah aku dengan keadaan selamat. dan ini lah kenapa ibu dan ayah selalu memanjakan ku.


berbincang-bincang dengan Farah sebentar, hingga akhirnya Lutfi datang dan kemudian Farah pun meninggalkan aku untuk melanjutkan membantu Luthfi mengerjakan PR di dalam kamar nya.


sesaat aku melihat ke arah hafidz yang sedang sibuk dengan buku nya. kemudian ku edar kan pandangan ku pada setiap ruangan mencari keberadaan umma dan Babah sambil menanyakan nya kepada hafidz ternyata mereka sedang keluar.


tanpa basa-basi dan menunggu waktu lama aku pun menanyakan sesuatu yang ingin aku diskusikan bersama nya. yakni tentang bagaimana pandangan Islam tentang kesehatan mental.


dan benar saja, aku sudah menduganya bahwa hafidz adalah orang yang tepat untuk aku ajak diskusi dan diminta pendapatnya tentang hal ini.


karna dengan begitu detail dan jelas nya hafidz menjelaskan kepadaku bagaimana pandangan Islam tentang kesehatan mental.

__ADS_1


selama menjelaskan, telinga ini begitu fokus mendengarkannya namun mata ini pun tak luput untuk bisa mencuri pandang pada seorang hamba Allah yang menurut ku sudah sangat sempurna. subhanallah,


"gimana isy paham?"


tanya hafidz yang berhasil membuatku gugup karna takut ketahuan jika aku dari tadi memperhatikan nya.


"insyaallah ana,,"


"sebentar isy"


tiba-tiba ponsel milik hafidz bergetar, dan dengan cepat dia megambil ponsel nya. beberapa saat dia pokus pada benda pipih itu dan kemudian hafidz tersenyum tak kala mata nya masih pokus pada layar hp di tangan nya.


entah lah dia sedang membuka pesan dari siapa, tapi yang jelas hati ini kenapa merasa tidak tenang. siapa yang berhasil membuat nya tersenyum seperti itu hanya karna membaca sebuah pesan. apa saat aku mengirim pesan pada nya dia juga tersenyum semanis itu? masyaallah kenapa hati ku jadi di penuhi suudzon begini.


"fidz?"


ku coba mengalihkan perhatian nya agar kembali pokus pada apa yang sedang kita bahas


"fidz,,, pesan dari siapa? ko anta senyum-senyum begitu?"


"eh,, iya isy. bukan ko bukan dari siapa-siapa. gimana tadi kita sudah sampai mana pembahasan nya?"


jawab ku dengan sedikit kecewa, karna hafidz seolah sedang menyembunyikan sesuatu dari ku. tapi apa? atau ini hanya dugaanku yang timbul karna keegoisanku?


"fidz,,, boleh ana nanya sesuatu yang mungkin sedikit privasi?"


ku beranikan diri untuk menanyakan sesuatu yang selama ini aku simpan dalam hati tanpa berani menanyakannya secara langsung pada hafidz.


karna aku takut jika hati ini tidak bisa menerima jika ternyata jawabannya adalah benar. tapi kali ini mungkin adalah waktu yang tepat, dan aku juga harus siap jika jawaban yang ku dengar akan membuat hati ku sakit.


"tanya pa isy? ko malah bengong gitu?"


"eumm,,, begini. apa anta__sebenarnya___"


"assalamualaikum"


suara seseorang masuk dari pintu yang membuatku tidak melanjutkan pertanyaan ku. dan ternyata itu adalah umma.


"waalaikumsalam wr wb"


jawab ku dan hafidz bersamaan.

__ADS_1


"ternyata ada Aisyah"


"umma"


aku berdiri untuk menyalami beliau dan kemudian kami saling berpelukan seperti biasanya jika bertemu.


"kemana saja baru main lagi ke sini? umma kangen loh sama aisy karna udah cukup lama gak sini"


"iya umma Afwan, karna pondok lagi libur maka nya jadwal praktek aisy diluar padat. jadi baru sempet main ke sini walaupun sebenarnya aisy juga kangen banget sama umma dan Farah"


"iya gak papa sayang nama nya juga tugas. gimana ibu sama ayah sehat?"


"Alhamdulillah sehat, tapi masih belum pulang dari Malaysia"


"Alhamdulillah kalau begitu. oh iya fidz gimana sudah ada jawaban dari keluarga nya nurain?"


tanya umma mengalihkan pembicaraan nya kepada hafidz. namun hafidz tidak langsung menjawab nya, dia malah melihat ke arah ku dengan tatapan yang tidak aku mengerti.


"fidz? gimana sudah ada jawaban apa belum?"


sekali lagi umma menanyakan sesuatu yang tidak aku mengerti. namun aku pun bertanya-tanya dalam hati kenapa dengan keluarga nurain? jawaban dari apa yang harus diberikan oleh keluarga nurain pada hafidz?. sungguh hati ini semakin tidak tenang mendengar umma mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan nurain.


"su__sudah umma"


hafidz menjawab nya dengan nada yang seperti gugup, dengan masih melihat ke arah ku.


"apa kata nya? nurain menerima lamaran mu kan fidz?"


DEG


jantung ini seolah berhenti berdetak saat aku mendengar apa yang di katakan umma. hafidz melamar nurain? kapan? kenapa dia gak bilang sama aku?


Yaa Allah, sesakit ini kah hati ini saat mendengar kenyataan bahwa orang yang dicintai justru mencintai orang lain? sungguh rasa nya jantung ini seolah berhenti berdetak dan tubuh ini sangat sulit untuk bergerak.


"umma, hafidz Aisyah permisi dulu ada urusan yang harus segera di selesaikan. assalamualaikum"


tanpa menunggu jawaban aku keluar dari rumah dan langsung meninggalkan pesantren.


kenapa fidz? kenapa Setega itu kepada ku? apakah ini alasan selama ini sikap anta berubah? kenapa fidz?


aku menangis sejadi-jadinya di dalam mobil ku dengan dada yang semakin sesak karna karna rasa nya sakiittt sekali mengetahui semua kenyataan ini. astaghfirullah,,ya Allah.

__ADS_1


__ADS_2