Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
nostalgia


__ADS_3

"assalamualaikum,,," aku dan Maryam langsung masuk sambil mengucapkan salam berbarengan


"waalaikum salam wr wb" jawab asyila sambil tersenyum


"gimana keadaan syil, udah mendingan?" kata Maryam sambil memeluk erat asyila yang bergantian denganku, seolah sudah lama tak bersua. begitulah kami, terkadang terlihat lebay dengan keadaan yang dianggap biasa saja, tapi ini lah ekspresi kasih sayang kami meski berteman baru tiga tahun karna kami dipertemukan dipondok ini, tapi kami saling menyayangi satu sama lain. masih ingat saat pertama masuk pondok ini, ku lihat seorang perempuan yang menangis dipojok kamar, tubuhnya mungil wajahnya putih bersih. saat kuhampiri dia, tak ada respon sama sekali. dia hanya fokus dengan tangisan nya, ku sentuh tangan nya mencoba menenangkan nya.


"awal masuk pondok emang gak enak, pisah dari orangtua apa-apa dilakuin sendiri mulai dari makan, minum, nyuci piring, nyuci baju, beres-beres pokoknya semua serba sendiri. karna tujuan mondok memang itu, kita dilatih untuk mandiri. kalo sehari masih gak betah coba seminggu, masih gak betah juga coba sebulan, masih sama coba setahun, masih gak,,,"


"kalo gitu kapan betah nya" tiba-tiba dia berhenti menangis dan memotong perkataan ku


"Alhamdulillah udah mau ngomong" sambungku sambil mencoba tersenyum ramah padanya


"maksudnya?" dia seolah bingung dengan apa yang aku ucapkan barusan

__ADS_1


"gapapa hee, ana syafina Shidqia nurain, anti?"


"Maryam azzulfa, Syukron udah buat ana berhenti nangis"


"ma'asyukri" jawabku sambil tersenyum


"ana baru pertama kali mondok, jadi belum biasa jauh dari orangtua" dia mulai bercerita tanpa ku pinta


"boleh, bentar ana ngambil uang dulu dilemari" dia bangkit dan membuka lemari miliknya, setelah itu kita keluar menuju kantin, masih belum banyak santri yang datang karna memang seharusnya besok jadwal masuk santri dan santriwati baru ataupun lama kembali ke pondok lagi. aku memang sudah biasa datang sehari sebelum jadwal kembali ke pondok, alasannya agar tidak repot sibuk beresin barang-barang yang aku bawa, jadi kalo besoknya santriwati udah mulai ramai dan sibuk beres-beres barang-barang mereka, aku sudah duduk santai dan hanya memperhatikan mereka atau melakukan kegiatan lainnya.


"memangnya boleh ya pake celana sama atasan ketat di pondok ini?" tiba-tiba langkah Maryam berhenti


"ya enggak mungkin boleh lah" jawabku langsung

__ADS_1


"terus itu?" Maryam menunjuk seseorang yang tak jauh dari kita


"mungkin tamu yang mau ketemu sama sodara nya yang mondok disini mungkin" kataku mencoba berhusnudzon


"kaya nya bukan deh, tuh dia pake nametag tilmidah jadidah (santri/murid baru)" lanjut Maryam lagi, memang sudah peraturan disini bagi para santri baru diwajibkan memakai nametag untuk beberapa hari. alasannya agar mudah dikenali oleh kakak kelas atau ustadz dan ustadzah yang mengajar selama proses perkenalan selesai.


"kenapa? ngomongin saya?" tiba-tiba orang yang tadi kita bicarakan menghampiri, mungkin dia merasa diperhatikan oleh ku dan Maryam.


"iya, kita aneh aja liat perempuan ko pakaian nya kaya kurang bahan" jawabku dengan nada sedikit ketus


"memang nya kenapa? bukan urusan kalian kan?" kata nya lagi dengan nada yang tak kalah ketus nya dariku


"eummm,,, mungkin lebih tepat nya itu urusan agama kita, maaf ya kalo kamu merasa tidak enak oleh sikap kita. hanya saja apa kamu tidak risih pake baju kaya gitu disini? sebenarnya bukan hanya itu, tapi kan kita ini sama-sama beragama Islam alangkah baik nya kalo kamu memakai pakaian yang lebih longgar agar auratmu tertutup sempurna apalagi lingkungan kita sekarang juga mendukung" jelas Maryam panjang lebar

__ADS_1


__ADS_2