
"Allahuakbar,,, Allahuakbar,," suara adzan asar berkumandang dengan merdu nya dari balik masjid Jami al-ihsan 'ah tidak terasa sebentar lagi aku lulus dari pondok yang indah ini' aku yang hanyut dalam lantunan adzan yang merdu seolah aku akan sangat merindukan pondok ini jika nanti sudah tidak tinggal disini
"ka mut belajar nya udah beres, udah adzan" Gus luthfi dan Gus hafidz berdiri, hendak bersiap menuju masjid. aku masih terdiam memperhatikan para santri yang mulai lalu lalang menuju masjid 'masyaallah apa aku sanggup jika harus meninggalkan pondok ini, dan mulai menjalani kehidupan dunia luar' batinku semakin merasa takut jika nanti sudah tidak tinggal dipondok ini lagi
"ka mut enggak sholat asar udah komat lho?" tiba-tiba suara Gus Luthfi menyadarkan lamunanku
"astaghfirullah iya" aku langsung berdiri dan hendak menuju asrama ku, namun sekilas aku seolah melihat Gus hafidz tersenyum saat diambang pintu keluar. entahlah dia tersenyum pada siapa tapi sungguh senyumnya begitu manis, begitu menawan. 'ah sudahlah abaikan' aku langsung berlari ke asrama karna takut ketinggalan sholat asar berjamaah
"cieee,,, yang abis dapat panggilan cinta dari rumah pengasuh" Maryam menyenggol pundak ku dengan sengaja saat kami berjalan, ke asarama selepas sholat asar berjamaah dimesjid
"apa sih, bukan panggilan cinta yang ada panggilan nelangsa" aku berlalu meninggalkan Maryam karna Enggan membahas tentang gosip yang gak bener itu. kesel sebenarnya karna gara-gara dipanggil sama Gus hafidz yang tiba-tiba membuat gaduh dikalangan santri putri, jadi timbul gosip kalau ada apa-apa antara aku dan dia tanpa mereka tanya sebenarnya kenapa dipanggil kesana. tapi ya sudahlah aku pun tidak mau terlalu peduli tentang hal itu karna menurutku yang penting apa yang mereka tuduhkan itu tidak benar.
"Iam, mengpeng kelas ngaji libur kita jajan yuk ke bawah, bosen jajanan kantin terus" kata ku saat sudah sampai di kamar Maryam
"boleh, mau jajan apa?"
"jajan baso, ice-cream, sama roti bakar yuk"
"masyaallah, rakus banget anti" Maryam langsung menatapku aneh sambil mencubit pipiku
"iihhh sakit tau, lagian gak apa-apakan kali-kali dong hehe ya udah yuk!" aku berdiri dan menarik tangan Maryam
"nur tunggu!" tiba-tiba Maryam menghentikan langkah kami
"kenapa?" aku memalingkan wajahku pada Maryam
"eummmm,,,, gak jadi deh, lanjut yuk" Maryam tidak melanjutkan perkataannya malah berjalan mendahuluiku
__ADS_1
"ih dasar" aku pun menyusulnya dari belakang
"beh, baso dua ya" pesanku pada babeh tukang baso yang memang sudah jadi pedagang tetap diwilayah pesantren kami
"satu aja beh, aku enggak" kata Maryam
"siap neng" jawab babeh
"ko gak pesen Iam?" tanyaku setelah kami duduk di saung yang biasa jadi tongkrongan kami santri putri
"enggak, lagi gak pengen aja"
"masa??" selidikku tidak percaya, karna jujur saja selera dan kesukaan kita hampir semua sama. bahkan kalo jajan pun selau bareng dan pasti nya selalu samaan
"eummm, sebenarnya uang jajan ana tinggal sedikit lagi kemaren dibeliin buku sama kitab terus umi ana ngirim nya masih semingguan lagi" bisiknya seolah tak enak dengan ku
"masyaallah dikirain kenapa hahaha" aku tertawa mendengar ucapan Maryam
"tenang-tenang sobatku yang cantik nan Sholehah nan pinter nanti nanti ue lah pokoknya mah hehe kalo soal itu ana punya solusinya" aku mencubit gemes pipi Maryam
"apa emang? anti mau traktir ana?" kata nya antusias
"eeeeummmm,,, bukan hehe"
"huuuuhhhh kirain"
"kalo ana traktir anti terus ana gimana donk soal nya ana juga senasib dengan anti lagi kanker hihihi"
__ADS_1
"terus kenapa atuh malah ngajakin jajan banyak"
"ini neng baso nya" kata babeh sambil meletakan semangkuk baso depan kami
"makasih beh, Oia beh boleh pinjem sendok nya satu lagi?" kataku sambil menghampiri gerobak baso nya
"boleh neng ini" babeh menyerahkan sendok yang aku pinta barusan
"nih..." aku memberikan sendok itu pada Maryam
"apa ini, masa ngasih sendok doang"
"yaaa gpp donk dari pada cengo ngeliatin ana makan baso hahaha" aku tertawa meledek nya
"nyebelin!!" kata nya sambil memajukan bibir nya
"atuh lagian masa iya ana ngasih sendok nya aja. kan ana belum mampu nih traktir baso jadi baso nya kita hantam berdua aja gitu"
"terus ntar beli ice-cream nya dimakan berdua juga gitu? " tanya Maryam lagi
"iya donk" jawabku sambil masukan satu suapan baso ke mulut ku
"iiihhh,,, baik banget sih anti bener-bener sahabat sejati" sanjungnya sambil mengelus hijabku
"iya donk siapa dulu? nurain" kataku membanggakan diri "tapi yang bayar ice-cream nya anti yah hehe" aku melanjutkan ucapanku
"huuuuhhhh kirain semua nya anti yang bayar"
__ADS_1
"ya kan ana juga sama lagi kanker Iam, hhe jadi solusinya tuh ana beli baso, anti beli ice-cream terus entar pas beli roti bakar patungan uang nya" aku menjelaskan panjang lebar sambil terus menyuapkan sendok demi sendok baso ke mulutku
"oohhh jadi ceritanya ini satu untuk dua, dua untuk satu gitu?? boleh lah boleh ide nya lumayan kreatif" puji Maryam padaku