
"ana ustadzah, ana balas balasan surat sama Raka" tiba-tiba Selly mengangkat tangan dan mengakui kesalahannya
"yakin cuma itu?" tanya ustadzah Nia yang sedari tadi hanya diam memperhatikan adik nya dan kami semua. yah,, Selly adalah adik kandung dari ustadzah Nia. "anti gak pernah ngobrol atau,,, afwan ketemuan gitu dipesantren maupun di luar?" tanya ustadzah Nia menyelidik
"enggak pernah ukhti,,eh,,ustadzah ana gak pernah ngobrol atau ketemuan, ana hanya saling balas-balasan surat aja" kata Selly yang mulai tidak bisa menahan air mata nya untuk tidak keluar. aku yakin dia pasti malu banget sama ustadzah yang lainnya, karna secara tidak langsung dia sudah membuat kakak nya malu juga sebagai bagian keamanan.
"yang lainnya, masa gak ada yang mau ngaku lagi, beneran gak ngerasa atau bingung harus ngaku yang mana dulu karna terlalu banyak yang dilanggar ?" tanya ustadzah Mila kembali dengan nada yang ketus
__ADS_1
"ana ustadzah, ana bawa hp" kini Yessi yang mengakui kesalahannya
"yakin cuma itu pelanggaran anti?"
Yessi diam beberapa saat, dan kemudian dia menjawab dengan anggukan saja. "mending anti ngaku aja tes, kita semua udah tau ko anti bukan cuma bawa hp aja ke pondok tapi ada pelanggaran anti yang lainnya" ustadzah Mila kini seolah mendesak Yessi agar mengakui semua kesalahannya
"oke gak apa-apa kalo anti hanya mengakui satu kesalahan saja, toh nanti juga pada akhirnya akan ketahuan dan memang sudah ketahuan sebenarnya" kembali ustadzah Mila mengingatkan atau lebih tepatnya mengancam mungkin.
__ADS_1
"baik lah dari pada mengulur-ngulur waktu, mending kita langsung aja ya ustadzah sebutin kesalahannya satu persatu gimana? soalnya ini udah malem juga takutnya ngeganggu waktu istirahat kita gara-gara ngusrusin orang-orang yang suka ngelanggar peraturan" lagi nada ketus itu keluar dari bibir setiap ustadzah yang bicara.
apa memang harus seperti ini ya kalo bagian keamanan saat menghadapi kami yang dianggap telah melanggar peraturan pondok. jujur, aku jadi takut, rasa nya dirumah saja ibu belum pernah bicara dengan nada yang begitu ketus walaupun lagi marah. walaupun aku sudah mau tiga tahun disini tapi aku belum pernah masuk mahkamah amni dengan pelanggan berat seperti sekarang yang langsung disidang oleh kelima ustadzah. masyaallah,, ini baru sidang dunia tapi hati sudah gemetar seperti ini, apalagi kelak ya Rabb dihadapanmu langsung, entah akan setakut apa hati ini. roobbighfirlii dzunubi,,,
semua ustadzah mengangguk, sebagai jawaban setuju atas pertanyaan dari ustadzah nurul. kemudian ustadzah Nisa memberikan selembar kertas pada ustadzah nurul, mungkin itu catatan pelanggan kami yang diruangan ini.
"ukhti Dewi,, anti bawa camera digital yang dititipin di BI amah istri dari pak satfam didepan, ukhti asri saling balas-balasan surat sama akhi Yudi yang disimpen di buku dibawah bangku perpustakaan, ukhti Salamah bawa handphone, ukhti Nadia kaluar pondok pada hari Jum'at tanpa ijin atau lebih tepatnya kabur dari pondok, ukhti Nanda bawa handphone dan camera, ukhti Wulan nyimpen foto salah satu santri putra, ukhti Dina saling balas surat, ukhti Adiba juga sama, ukti Syakira sama juga, ukhti Selly tadi sudah dengar pengakuannya didepan kita, ukti Yessi membawa handphone dan memiliki hubungan dengan akhi Iqbal juga ketahuan nonton bareng di bisokop waktu libur kemarin, dan satu lagi ukhti nurain, gimana mau ngaku sendiri apa mau disebutin juga kaya yang lain? anti itu pengurus bagian qismu ta'lim udah gitu roisahnya, yaa walaupun sudah lengser tapi seharusnya masih bisa memberikan contoh yang baik untuk adik dan temannya kan, apalagi selama ini anti belum pernah melakukan pelanggaran yang berat, ini kenapa? ada apa? coba ana mau denger langsung dari anti" ustadzah nurul mendekatiku dan mencerca aku dengan pertanyaan yang aku sendiri gak tahu aku harus jawab apa.
__ADS_1