
aku, asyila dan Maryam berdiam di balik tirai dapur yang menghubungkan ke ruang tamu.
setelah mendengar apa yang di katakan oleh Gus hafidz mengenai maksud dari kedatangannya sungguh aku benar-benar kaget.
aku tidak pernah menyangka bahwa Gus hafidz memang benar menyukai ku bahkan langsung datang ke rumah ku menemui ayah untuk meminang ku.
ku alihkan pandangan ku pada asyila yang duduk tak jauh dari ku. tak ada reaksi dari nya, entah lah bagaimana perasaan nya. tapi disini aku sangat dilema dengan apa yang terjadi.
Maryam menatapku dengan penuh tanda tanya yang aku sendiri tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
aku bahagia, karna rasa ini mulai tumbuh untuk nya dan ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. aku sedih karna ini masih dalam suasana berkabung atas meninggalnya ibu ku. aku bingung dan merasa bersalah karna sahabat ku pun menyukai orang mulai ku sukai.
masyaallah,,,
"nur,,, sini nak ibu dan pak kiai memanggil, ada sesuatu yang penting yang ingin di sampaikan oleh beliau. terutama Gus hafidz"
ateu Risma yang merupakan adik dari almarhumah ibu memanggil ku
"iya teu, bentar" jawab ku sambil terus melihat ke arah asyila yang menunduk menatap meja di depannya
"jangan lama ya sayang"
"iya teu"
ateu Risma pun masuk ke dalam lebih dulu , sedangkan aku berdiri untuk menghampiri asyila yang masih terdiam.
"ana mau ke kamar mandi sebentar ya"
asyila langsung berdiri dan masuk ke kamar mandi saat aku ingin duduk di samping nya.
"iam?"
__ADS_1
"gak papa nur, insyaallah asyila pasti ikhlas menerima kenyataan ini. sekarang tinggal balik ke anti nya, mau menerima atau tidak nya pinangan dari Gus hafidz. ana sebagai sahabat anti hanya bisa mendukung semua keputusan anti dan mendo'akan yang terbaik bagi anti. tapi kalau ana boleh saran, ikuti kata hati nurani. kalau anti menyukai Gus hafidz maka terimalah, insyaallah beliau adalah lelaki yang baik yang taat agama. tapi kalau anti tidak menyukai nya bahkan tidak yakin untuk bisa bersama nya, maka katakan dengan sebaik-baiknya perkataan, apalagi beliau-beliau merupakan guru kita"
"iya Iam, insyaallah"
"nur,, ko masih di sini nak. sudah pada nunggu ayo" ateu Risma kembali memanggil ku dan langsung mengandeng tangan ku.
aku hanya bisa menurut dan mengikuti langkah dari ateu ku.
ku alihkan pandangan pada Maryam agar mengikuti ku masuk ke dalam. namun Maryam memberi isyarat agar aku masuk lebih dulu.
~
di dalam ruang tamu, semua mata tertuju pada ku. aku malu bukan kepalang karna seolah menjadi pemeran utama dalam sebuah pentas seni.
"sini nak, duduk di samping ayah"
aku mengangguk dan langsung duduk di samping ayah.
"Alhamdulillah sehat Bu"
"Alhamdulillah kalau sehat"
"begini nak, kedatangan kami ke sini sebenarnya bukan semata-mata berkunjung saja. selain silaturahmi kami juga bermaksud lain datang ke rumah ini yakni mengantar putra kami yang pasti nya neng nurain sudah tahu siapa nama nya yaitu muhammad hafidz athary yang mempunyai hajat ingin melamar atau meminang neng nurain, apakah kira nya neng nurain bersedia menerima lamaran dari hafidz putra bapa?" tanya pak kiai dengan sangat lembut yang mampu membuat hati ku bergetar hebat saking terharu dan bahagia nya.
aku masih menunduk tanpa berani melihat wajah beliau. bahkan dalam tunduk ku, air mata ini jatuh tanpa bisa ku tahan.
karna di satu sisi aku rindu pada ibu, beliau tidak bisa hadir menyaksikan semua ini. mungkin kalau ada ibu di samping ku hati ku tidak akan bergetar sehebat ini karna haru yang menyelimuti.
"nur,, pak kiai bertanya sama nur?" perkataan ayah menyadarkan lamunan hati ku.
"nur,, jika nur belum siap jangan di paksakan, karna kami juga tidak akan memaksa bukan begitu fidz?" kata ibu pengasuh yang mengalihkan pertanyaannya pada Gus hafidz
__ADS_1
ku lihat sekilas, Gus hafidz hanya mengangguk sambil terus menunduk sebagai jawaban dari pertanyaan ibu nya.
"kami juga minta maaf karna datang dengan begitu tiba-tiba. yang mungkin membuat nur kaget dengan kedatangan kami"
"tidak Bu, nur malah sangat bahagia ayah kiai dan ibu bisa berkunjung ke rumah orangtua nur yang bukan siapa-siapa. namun untuk jawaban nur terhadap maksud dari Gus hafidz, kalau nur boleh minta izin nur ingin meyakinkan hati nur terlebih dahulu dengan meminta petunjuk Allah. bukan nur ragu tapi nur hanya ingin lebih meminta keyakinan pada sang pemilik hati. maaf jika perkataan dan permintaan nur ini lancang"
dengan sangat susah payah aku berusaha mengatakan apa yang ada dalam hati ku.
"tidak nak, malah itu jawaban yang paling baik. memang seharusnya kamu meminta petunjuk-Nya terlebih dahulu. apalagi ini untuk masa depan kalian yang akan dijalani bersama seumur hidup kalian"
kata pak kiai dengan bijak yang disambut oleh anggukan dari ibu pengasuh dan Gus hafidz sebagai tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh pak kiai.
~
"nur,,, anti suka ya sama Gus hafidz?" tanya asyila saat kami sudah melaksanakan sholat duhur bersama di mesjid dekat rumah ku
"terima lamarannya yah. ana ikhlas dan ana juga sadar kalau ana tidak bisa memaksakan apa yang sudah jadi takdir allah. mungkin untuk sekarang ana akan merasakan sakit yang lumayan dalam. tapi ana percaya kalau Allah sudah menyiapkan yang lebih baik untuk ana suatu hari nanti. yah,, itung-itung sekalian melatih kesabaran ana dalam penantian bukan?"
asyila memeluk ku dengan tersenyum simpul seolah meyakinkanku agar jangan ragu karena nya
"iya nur kalau anti suka anti yakin Gus hafidz adalah jodoh anti terima aja jangan ragu. asyila sudah ikhlas juga kan?"
Maryam juga ikut meyakinkan ku dengan mengucapkan perkataan yang sama dengan Asyila
aku menatap mereka secara bergantian. hari, bahagia tapi juga masih terselip rasa sedih bercampur jadi satu.
"Syukron, karna kalian selalu ada di setiap keadaan apapun untuk ana. bahkan saat ibu sakit kalian yang selalu setia nemenin ana sampai saat ini setelah ibu tiada. ana gak tahu kalau gak ada kalian yang menguatkan ana, ngingetin ana dan bahkan kalian juga berusaha buat menghibur ana. Syukron,,,Syukron banget buat kalian berdua yang selalu ada buat ana. terutama untuk asyila, ana minta maaf jika secara tidak langsung ana sudah berkhianat karna telah menyukai laki-laki yang sama yang juga anti sukai walaupun perasaan ini murni datang nya dari Allah, dan ana juga sangat berterima kasih atas keikhlasan hati anti untuk menerima semua ini. Syukron Iam, Syukron syil, kalian memang sahabat terbaik ana"
aku memeluk mereka berbarengan dengan air mata yang terus mengalir.
Syukron ya Rabb,, karna engkau telah menghadirkan orang-orang yang baik yang menyayangiku dengan tulus.
__ADS_1