Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Kenapa Harus Dia


__ADS_3

POV Agam


sejak pertama masuk pondok pesantren Al-Ihsan, aku sudah jatuh cinta padanya. hati nya yang tulus saat membantu teman-teman nya membuat ku selalu ingin melihat nya meski dari kejauhan, juga keberanian nya saat mengatakan sebuah kebenaran tanpa rasa takut membuat ku semakin mengagumi nya.


dulu waktu ospek masuk sekolah, temannya terjatuh dan kemudian di marahi oleh kakak kelas yang menjadi panitia, dia dengan berani membantu dan membela temannya hingga menjadi pusat perhatian semua orang, namun itu tak membuatnya takut. dan itu lah awal mula aku jatuh cinta pada pandangan pertama.


ku ungkapkan semua isi hati ku saat ada kesempatan untuk ku mengutarakannya, namun siapa sangka bahwa nurain justru menganggap perasaan ini seperti salah. tapi itu tidak membuat ku putus harapan. hingga akhirnya ku tahu jika dia kini sudah disunting oleh anak dari guru ku.


padahal di waktu yang sama aku ingin datang ke rumah nya untuk menemui orangtuanya, namun ternyata takdir tidak berpihak pada ku. Allah tak membiarkan dia jadi milikku, namun hati ini masih belum bisa berpaling darinya. sampai akhirnya ku putuskan untuk pergi dari dunia nya dan sekitarnya.


di sini lah aku sekarang, Istanbul Turki. mwneruskan pendidikan ku dan mencoba pergi dari bayang-bayang tentang nya.


"kamu yakin mau kuliah di sini gam?"


tanya kakak ku yang sudah lebih dulu kuliah di salah satu universitas di Turki


"insyaallah ka"


"tapi bukannya dulu kamu ingin meneruskan kuliah di Indonesia mengambil jurusan hukum?"


"tadi nya seperti itu, tapi sekarang berubah pikiran"


"kenapa? apa karna cinta yang tak sampai yang membuat kamu memilih untuk tinggal di sini?"


aku hanya tersenyum kecut saat mendengar ledek kan dari kakak perempuan ku.


"sudah lah Sekarang bukan waktu nya untuk membahas soal aku. sekarang waktu nya membahas tentang kakak yang kapan siap untuk pulang ke rumah dengan penampilan baru kakak?"


"kenapa dengan penampilan ku?"


"menurut kakak ada apa dengan penampilan kakak?"


tanya ku balik bertanya pada kakak ku yang sedang sibuk membuat kopi di dapur, dan aku hanya menunggu nya di kursi yang sudah biasa mojok di tempat nya.


"ayolah Adik ku yang tampan, jangan karna kamu lulusan sebuah pesantren jadi sok sok an bersikap seperti ustadz yang melarang ini dan itu. kakak suka dengan penampilan ini dan kakak juga nyaman seperti ini"


kata nya sambil menyodorkan satu gelas kopi ke hadapan ku.


"ini bukan aku yang melarang, tapi agama kita, tuhan kita yang sudah menciptakan kita ada di dunia ini. jadi mau tidak mau kita harus patuh akan aturan-Nya, bukan begitu?"


kakak ku terdiam sebentar, entah apa yang dipikirkannya. tapi aku berdoa semoga kakak ku mendapatkan hidayah agar mau menjadi seorang muslimah yang seutuh nya


~


"gam hari ini jadi visit universitas-universitas yang ada di Istanbul?"


tanya kakak saat aku hendak siap-siap pergi ke suatu tempat


"enggak tahu"


jawab ku simpel


"lah, terus itu mau ke mana udah rapi?"


"mau ke suatu tempat aja"


"ya kemana? kakak harus tahu kamu kemana biar kalau ilang gampang nyari nya"


"apaan sih, aku udah gede. lagian banyak kan pemandu wisata di negara ini, jadi tenang aja insyaallah aku gak akan nyasar"


"ya udah kalau gitu bagus"


tanpa menjawab percakapan lagi aku langsung menuju tempat yang ingin sekali aku kunjungi.


Blue mosque,


ini adalah tempat yang paling ingin aku kunjungi saat aku pergi ke Turki suatu hari nanti, dan itu adalah hari ini.


dengan penuh antusias aku memotret setiap sudut dari bangunan ini. sungguh indah, megah dan unik pastinya.


aku sangat tertarik dengan arsitektur bangunan ini.


Masjid yang dibangun pada tahun 1609–1616. Tepatnya selama masa pemerintahan Ahmed I.

__ADS_1


Salah satu murid Mimar Sinan, Sedefkar Mehmet Aga, merupakan arsitek Masjid Biru. Mimar Sinan merupakan kepala arsitek bagi sultan Suleiman I, Selim II, dan Murad III.


nah ciri khas dari Masjid Biru ini adalah memiliki banyak fitur seperti kubah, setengah kubah, dan menara yang ramping. Enam menara yang menjadi karakteristik masjid tersebut merupakan sesuatu yang tidak biasa dalam gaya arsitektur khas Ottoman.


dan menurutku itu adalah gaya tarik tersendiri untuk aku mengagumi setiap bangunan masjid ini.


'lelah juga mengelilingi mesjid ini, apalagi halaman nya yang begitu luas. lebih baik istirahat sejenak di bawah pohon' batin ku sambil berjalan menuju satu kursi kosong yang ada di bawah pohon rindang


"ko ada nama nur nya bang? Abang kapan buat lukisan nya?"


aku mendengar suara seorang perempuan yang sedang bicara. dan aku sangat kenal itu suara siapa.


dengan ragu ku palingan tubuh ini ke asal suara yang ada di samping aku.


'apakah itu nurain dan Gus hafidz?'


saat ku lihat seorang pasangan yang saling berpelukan penuh cinta. tapi aku tak bisa melihat dengan jelas siapa mereka.


karna seorang perempuan dengan menggunakan cadar sehingga menutupi wajah nya, dan seorang laki-laki yang posisi nya membelakangi aku.


jujur aku sangat penasaran, karna suaranya persis seperti suara nurain. tapi apa iya nurain memakai cadar sekarang?


'ah lebih baik aku jangan mengingat-ingat lagi soal dia. itu hanya akan membuat hati ini sakit'


{gam dimana? buruan pulang ada yang mau kakak omongin sama kamu}


satu pesan masuk dan itu dari kakak ku satu-satunya


{iya sekarang pulang}


setelah mengirim balasan pesan, aku langsung berdiri dan meninggalkan tempat itu. walaupun sebenarnya aku masih penasaran dengan perempuan bercadar tadi. tapi ya sudah lah.


~


"kakak mau ngomongin apa?"


tanya ku saat kami sudah sama-sama di rumah.


"memang nya apa?"


"wait minute"


kemudian kakak ku masuk ke dalam kamar nya, dan tak berapa lama kembali keluar dengan membawa sebuah jinjingan belanjaan


"eumm,,, ini. apa kakak pantas pakai ini"


tanya nya sambil mengeluarkan sebuah pakaian gamis dengan corak bunga berwarna pink muda


"tuh kan kamu ketawa"


"bukan, bukan ketawa ka. tapi Agam hanya tersenyum senang karna kakak udah mau berniat merubah pakaian kakak. ya udah sekarang kakak pakai yah, Agam mau liat pasti kakak nambah cantik kalau pakai itu"


"enggak ah, gak jadi. nanti aja kakak pakai nya kalau udah bener-bener yakin"


"ko gitu? kakak udah beli berarti kakak udah yakin dong mau pakai gamis itu, kenapa sekarang malah gak jadi?"


"hmmm,, sebenarnya kakak beli itu buat narik perhatian seseorang sih gam"


aku langsung menatap kakak ku meminta kepastian yang dari sorot mata nya. karna aneh saja dengar dia bicara seperti itu. selama ini belum pernah ada satu laki-laki yang benar-benar membuat nya jatuh cinta bahkan sampai bisa membuatnya mau berubah.


"iya kakak tahu kakak salah, berubah hanya karna ingin di lihat oleh seseorang"


"enggak ko, Agam gak berpikir kakak salah. terkadang untuk menuju tingkatan ikhlas kita membutuhkan jempatan yang membuat kita sampai ke arah itu. seperti kakak sekarang, siapa tahu melalui orang itu kakak bisa benar-benar berubah. dan siapa tahu orang itu menjadi wasilah untuk kakak mendapat hidayah"


aku mencoba memberikan pemahaman secara perlahan pada kakak ku, yang mulai mau berubah walaupun itu hanya demi ingin mendapat perhatian seseorang yang di sukai nya.


"tapi gam, orang yang kakak suka itu__dia__"


kakak ku seolah ragu untuk melanjutkan kalimatnya


"dia kenapa ka?"


"hmmm,, enggak bukan apa-apa, nanti aja kakak cerita nya. sekarang kita keluar yuk, cari makan"

__ADS_1


"kakak aja lah, Agam gak ikut"


"ayolah, masa kakak makan sendirian gak ada yang nemenin"


"biasanya juga sama temen-temen kakak kan?"


"mereka semua sedang pada sibuk, dan kakak juga lagi gak mood kumpul bareng temen-temen kakak. jadi kamu yang temenin kakak makan yah, please"


"ya udah, tapi bentar aku harus ganti baju dulu. gerah"


~


setelah sampai restauran yang tak jauh dari rumah, kakak ku langsung memesan makanan dan minuman untuk kita berdua.


"kamu tunggu disini sebentar ya, kakak mau ke sana dulu"


"kemana ka?"


"sebentar"


katanya sambil berjalan menuju meja yang diduduki satu orang lelaki dan perempuan. entah siapa, mungkin itu teman kakak ku.


"hafidz"


aku langsung berpaling melihat seseorang yang duduk tak jauh dari kursi duduk ku.


'apa tadi kakak ku memanggil nama hafidz?'


mata ini terus memperhatikan dua orang sedang duduk bersama kakak ku. atau mungkin lebih tepatnya meja yang di hampiri oleh kakak ku.


'apakah itu Gus hafidz dan nurain?'


aku semakin penasaran dengan pasangan itu, siapa sebenarnya mereka? jika ku perhatikan, bukan kah mereka adalah orang yang sama yang ku lihat di halaman blue mosque tadi pagi?


entah apa yang di bicarakan oleh kakak ku dan mereka, namun yang jelas aku bisa melihat ada gurat kekecewaan di wajah kakak ku saat berbicara dengan mereka.


"siapa mereka ka?"


tanya ku pada kakak saat sudah kembali duduk bersama ku, namun ku lihat kakak ku seperti menahan kesedihan setelah kembali dari meja itu.


"kakak kenapa? kakak menangis?"


"enggak, sebaik nya kita jangan makan disini Susana nya tidak nyaman"


tanpa menunggu ku, kakak langsung berjalan meninggalkan restauran. dan aku langsung mengikuti kakak dari belakang.


"ka, sebenarnya tadi itu siapa sih? kenapa kakak menangis setelah ngomong sama mereka"


tanya ku saat kami sudah masuk ke dalam mobil.


"tadi itu adalah laki-laki yang kakak suka. tapi dia sekarang sudah menikah dengan orang lain, hiks"


"maksudnya dia mengkhianati kakak?"


tanya ku dengan penuh amarah


"bukan, dia bukan mengkhianati kakak. hanya saja kakak merasa sakit hati saat tahu tiba-tiba dia sudah menikah. padahal dengan susah payah kakak mencari tahu tentang dia, apa saja kesukaannya dan bagaimana kehidupannya. tapi ternyata dia sudah menolak kakak sebelum kakak mengutarakannya"


"memang nya dia siapa ka? apa dia asli orang sini?"


"bukan, dia dari Indonesia. nama nya Muhammad hafidz athary, anak dari pimpinan sebuah pesantren. entah pasantren apa nama nya kakak lupa"


"pondok pesantren Al-Ihsan?"


"iya, itu nama pesantren nya. oh iya kakak lupa, bukannya kamu mondok di situ kan? berarti kamu juga tahu sama dia?"


tanya Kakak ku dengan tangisan yang mulai mereda


"yah, aku tahu ka dan aku juga tahu siapa istri nya. sudah ya kakak jangan menangis dan mengharapkan dia lagi. masih banyak di luaran sana laki-laki yang lebih baik untuk kakak"


aku mencoba menghibur kakak ku yang terluka, walau sebenarnya hati ku sudah lebih dulu terluka. karna orang yang ku sukai, orang yang ingin ku miliki sudah lebih dulu di ambil oleh dia, laki-laki yang kini membuat kakak ku menangis.


kenapa harus dia? kenapa harus mereka? padahal aku ke sini untuk menghindari pemberitaan tentang mereka. tapi ternyata Allah malah mempertahankan kami disini.

__ADS_1


__ADS_2