Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
cinta itu,,,, tak pernah ada


__ADS_3

POV Aisyah


"aisy, ibu kecewa sama kamu. kenapa kamu bersikap seperti itu pada nak Alfan?"


untuk pertama kali nya ibu berkata kepada ku dengan nada yang dipenuhi amarah


"Bu, tenang dulu. jangan emosi, kita bicarakan baik-baik yah sama aisyah"


ayah mencoba menenangkan ibu dari marah nya.


"ibu kecewa sama Aisyah yah. kenapa dia harus mengambil keputusan sepihak? bukan nya waktu itu sudah setuju kalau pernikahan mereka akan dilaksanakan sekitar enam bulan lagi. tapi ini tiba-tiba Aisyah meminta untuk diundur lagi. apa sih yang kamu pikirin lagi isy?"


aku hanya diam membiarkan ibu menyelesaikan rasa marah nya pada ku atas ke jadian hari ini, dimana aku mengatakan bahwa aku ingin mengundur acara pernikahan ku dengan ka Alfan saat ka Alfan dan ayah nya berkunjung ke rumah untuk menentukan segala sesuatu nya.


"nak sini duduk sama ayah. dari awal nak Alfan datang ke rumah ini mengutarakan maksudnya ingin meminang mu dan kamu menerima nya atas kemauan kamu sendiri kan, tak ada paksaan sari kami atau dari siapapun. tapi kenapa di saat nak Alfan dan keluarga nya ingin menentukan hari pernikahan kamu malah menunda nya secara mendadak? apa boleh ayah tahu apa alasannya?"


dengan lembut ayah mencoba mengajak ku bicara. aku bingung harus menjawab apa, karna aku tidak mau membuat ayah marah apalagi sedih jika tahu alasan ku mengundur waktu pernikahan, karna,,,, karna aku masih bingung dengan hati ku sendiri.


aku belum benar-benar yakin, jika hafidz sudah tidak ada lagi dalam hati ini. karna hati ini masih merasa hangat jika melihat nya.


"ya sudah kalau kamu belum mau cerita sama ayah ataupun ibu. ayah hanya berharap yang terbaik untuk kamu, untuk kebahagiaan kamu"


sambung ayah sambil mengelus hijab ku.


"makasih ayah. aisy hanya perlu waktu untuk benar-benar meyakinkan hati aisy"


"iya sayang, ayah dan ibu akan selalu mendukung kamu selama itu baik"


kami pun saling memeluk satu sama lain.


begitulah orangtuaku, selalu mendukung setiap keputusan yang ku ambil namun tak segan menasehati dengan lembut jika aku salah.


~


"ka aisy udah ke sini?"


seperti biasa, Farah selalu menyambut ku dengan ceria.


"mamama,,,mama"


"masyaallah gemes banget ateu"


Farah mencium gemas ponakannya yang mulai belajar bicara.


"sini, sekarang gantian sama tante aisy yah gendong nya"


aku, Aisyah mengambil Naura dari gendongan Farah


"eummm,,, harum banget sih, mau kemana kesayangan Tante pagi-pagi udah cantik aja"


kata ku sambil mencium gemas Naura yang sudah ada di gendongan ku


"mau di ajak jalan-jalan sama Abang ka"


kata Farah dengan suara agak pelan seperti tidak ingin ada yang mendengar


"kemana?"

__ADS_1


tanya ku penasaran


"gak tahu, Abang gak ngasih tahu. mungkin ke vila punya teh nurain yang pernah di kasih Abang"


"kamu kata siapa?"


"itu dugaan Farah aja sih. soal nya kan semenjak teh nur di bawa ke Surabaya sama ayah nya. Abang sering menyendiri di sana. pernah sih waktu itu Abang mau tinggal di sana berdua dengan Naura, tapi umma dan Babah melarang karna umma merasa bang hafidz belum siap jika harus mengurus Naura sendirian"


yah, semenjak kepergian nurain meninggalkan rumah ini kehidupan hafidz semakin kacau. tak pernah ada lagi senyum apalagi tawa di wajah nya.


dia menjadi sangat pendiam dan seperti tidak terawat. mulai dari rambutnya yang menjadi gondrong bahkan janggut tipis nya yang dulu selalu menghiasi wajah tampan nya kini dia biarkan tak terurus.


aku selalu melihat nya dengan linang air mata. karna bagi ku, kini hafidz seolah kehilangan sebagian hidup nya.


dan aku mengerti, kenapa ada kisah tentang Laila dan majnun. karna cinta nya yang begitu besar pada Laila, membuat kais seperti menjadi majnun. tak ubah nya hafidz saat ini pada istri nya.


"Abang jadi bawa Naura jalan-jalan?"


tiba-tiba hafidz keluar dari kamar nya dan Farah langsung bertanya, namun tak ada jawaban dari nya.


Hafidz justru melihat ke arah ku yang sedang menggendong Naura dengan tatapan tajam nya, seolah aku tidak boleh menyentuh anak nya.


"sini ka biar Farah yang gendong lagi"


tanpa menunggu lama aku langsung memberikan Naura pada Farah, dan hafidz langsung mengambilnya dari Farah.


"Farah, apa sebaik nya kamu temani Abang mu jalan-jalan? karna ka aisy gak tenang jika hafidz hanya pergi berdua dengan Naura. bukan apa-apa, Naura masih bayi dan kamu pasti tahu tidak mudah pergi membawa bayi tanpa ada yang mendampingi"


"iya sih ka, tapi Farah hari ini ada sidang skripsi dan itu tidak bisa di tunda. umma, Lutfi sama Babah juga kebetulan lagi pergi ke Tasik"


"kakak yakin? Farah gak mau kalau kakak nanti di bentak lagi sama Abang karna hal sepele"


benar, hafidz pernah membentak ku saat Naura hampir terjatuh dari atas kursi. padahal kursi nya tidak terlalu tinggi dan bahkan di bawah kursi sudah tergelar karpet tebal yang begitu empuk. namun hafidz, tanpa ragu membentak dan menyalahkan ku, juga mengatakan agar aku jangan ikut campur lagi dalam mengurus anak nya.


aku sempat sedih dan memilih untuk tidak kembali ke pondok lagi, namun hati kecil ku tak bisa berbohong kalau aku sangat menyayangi Naura seperti anak ku sendiri.


Rasanya rindu, jika sehari tidak bertemu dengan Naura. maka aku pun memutuskan untuk tidak menghiraukan semua perkataan hafidz yang mulai kasar pada ku.


"fidz, kamu mau ajak Naura jalan-jalan kemana? biar aku temani yah"


tak ada tanggapan apapun dari nya, hafidz hanya sibuk memasang kursi bayi di atas jok mobil seolah tidak mendengar perkataan ku.


"fidz,,"


"tanpa saya jawab pun seperti nya kamu sudah tahu jawabannya"


"tapi fidz aku hanya hawatir pada Naura"


"kamu pikir saya ini akan mencelakakan anak saya?"


"bukan gitu fidz,,,,"


"saya ini ayah nya, dan kamu bukan siapa-siapa Naura. jadi kamu jangan merasa paling berhak atas anak saya"


sekali lagi hafidz bersikap sangat formal dan sinis padaku, seolah aku ini orang asing bagi nya.


"ka,,, udah biarin aja. Farah minta maaf atas sikap Abang ke kakak"

__ADS_1


tiba-tiba Farah ada di belakang ku saat hafidz sudah mengeluarkan mobil nya dari parkiran.


"Farah, sepertinya ka aisy harus menyusul hafidz. kakak takut hafidz belum bisa sepenuhnya menjaga Naura"


"tapi ka,,"


"kakak gak papa, sudah biasa dengan sikap nya. udah yah kakak mau nyusul mereka dulu"


dengan segera aku pun menyusul mobil hafidz dengan mobil ku, dan Farah hanya melihat ku dengan tatapan yang mungkin khawatir atau tidak enak atas sikap kakak nya.


selama dalam perjalanan aku terus fokus melihat ke arah mobil hafidz.


'kemana dia akan membawa Naura?'


tepat di sebuah minimarket, ku lihat mobil nya berhenti. mungkin dia ingin membeli makanan untuk mereka berdua.


hafidz keluar dengan mengeluarkan roda bayi dari mobil nya, aku hanya memperhatikan gerak gerik nya dari dalam mobil nya.


ku lihat hafidz seolah sulit membuka stroller itu agar terbuka, tadi nya aku ingin membiarkan nya tapi sepertinya dia memang sedikit kesulitan maka aku pun keluar dari mobil untuk membantu nya.


"cara nya seperti ini"


kata ku mengambil alih stroller yang ada di tangan nya.


"kalau kamu mau membeli sesuatu masuk aja, biar Naura aku yang jaga"


hafidz hanya melihat ku dengan tatapan dingin dan kemudian masuk ke dalam minimarket.


"si cantik mau jalan-jalan yah sama Abi nya, wah seneng nya"


aku menggendong Naura dan mengajak nya bermain didepan minimarket sambil menunggu hafidz selesai berbelanja.


"De Aisy awas"


tiba-tiba sebuah tubuh menarik ku dan Naura begitu secepat sehingga kami berdua jatuh, dan Naura langsung menangis karna kaget. untung aku menggendong nya dengan kuat sehingga dia tidak lepas dari gendongan ku.


dan,,,


BUUUKKK


"Naura"


hafidz dengan segera mengambil Naura dari gendongan Ngan ku, dia menciumi putri nya dengan ketakutan yang terlihat jelas di wajah nya.


"maafkan Abi sayang.. muach...muach.."


kekhawatiran yang sama, yang kulihat saat dia begitu menghawatirkan nurain.


sebuah pot bunga besar jatuh dari balkon minimarket.


"kamu gak papa kan de aisy? apa ada yang terluka"


ka Alfan membantuku berdiri dan bertanya dengan begitu hawatir, sekilas ku tatap wajah ka Alfan ada kekhawatiran yang begitu dalam untuk ku, sama seperti kekhawatiran Hafidz pada putri nya dan istrinya, tapi tidak pada ku.


aku tersenyum getir melihat kejadian hari ini. kini aku sadar ternyata cinta itu memang tidak ada untuk ku.


bahkan saat aku dan anak nya hampir celaka, hanya anak nya yang hafidz pedulikan.

__ADS_1


__ADS_2