Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Anugrah Terindah


__ADS_3

dari balik kamar, ku lihat suami ku sedang bicara dengan dokter Aisyah. dari tatapan nya ada rasa bersalah beriringan dengan harapan agar dokter Aisyah kembali ke pondok ini.


namun saat dokter Aisyah berjalan meninggalkan Gus hafidz, ia terus memandang langkah dokter Aisyah sampai hilang di balik pintu. tapi ada yang berbeda dari tatapan nya, tatapan yang bukan seperti biasa nya dan aku tahu makna dari tatapan itu.


"sayang, ko kamu malah sering muntah akhir-akhir ini?"


tanya Gus hafidz saat aku kembali dari toilet setelah mengeluarkan semua isi perutku karna rasa mual yang tak tertahan


"enggak tahu nur juga, rasa mual nya gak mau ilang padahal udah coba minum jamu tolak angin"


"ya udah kita sarapan dulu yuk, umma dan Babah udah pada nunggu kita"


"rasa nya nur gak selera buat makan bang"


"jangan gitu dong sayang, kita makan dulu walau sedikit. kan biar cepet sembuh"


akhirnya aku pun menuruti kemauan Gus hafidz untuk sarapan terlebih dahulu walaupun sebenarnya rasa mual ini masih belum hilang juga.


"sini nak, sarapan dulu"


sapa umma saat aku dan Gus hafidz sudah berada dekat meja makan


"kenapa lemas seperti itu? apa kamu baik-baik saja?"


"setelah resepsi, beberapa hari ini nurain selalu muntah di pagi hari gak tahu kenapa, padahal hafidz sudah belikan obat anti mual sama obat masuk angin"


Gus hafidz yang menjawab pertanyaan umma


"mual? apa kamu sudah periksa ke dokter nak?"


"nurain selalu nolak kalau hafidz ajak ke dokter"


"terus apa bulan ini kamu sudah kedatangan tamu nak?"


"kedatangan tamu umma?"


tanya ku dengan sedikit penasaran


"iya nak, maksud nya datang bulan?"


"oh,, kayak nya belum umma"


"astaghfirullah, hafidz lupa. waktu itu Aisyah pernah bilang ke hafidz kalau nurain sebaik nya di bawa ke dokter kandungan"


"tuh kan, sudah umma tebak pasti istri mu lagi isi"


aku hanya diam menyimak, dengan tidak sadar tangan ini menyentuh perutku yang masih sangat datar.


'apa iya aku akan jadi seorang ibu?'


"ya udah abis sarapan biar umma antar putri umma ke dokter kandungan langganan umma"


"Lutfi juga ikut umma"


Gus Lutfi yang dari tadi hanya asik dengan makanan nya kini berkata dengan semangat ingin ikut mengantar ku


"kabar baik ini, sebentar lagi Babah jadi kakek. insyaallah"


ku lihat Babah berkata dengan penuh haru dan bahagia. hingga tidak sadar air mata ku mengalir melihat kehangatan keluarga ini, yang begitu bahagia mendengar kehamilan ku. padahal semua ini belum tentu kepastiannya.

__ADS_1


'andai ibu masih ada, pasti ibu juga akan sangat bahagia dengan kabar ini'


~


"jadi bagaimana dok, putri saya beneran lagi ngisi kan?"


tanya umma dengan antusias menunggu jawaban dari dokter kandungan yang memeriksa ku


"yaa Allah, ibu nyai ini gak bisa sabar ya. ini lagi di periksa dulu"


jawab dokter itu yang sepertinya memang sudah sangat akrab dengan umma


"saya USG dulu ya biar lebih jelas"


kemudian dokter itu meminta ku untuk sedikit mengangkat baju ku agar dapat menyentuh bagian perut ku.


"nah,,, ini dia. masih sangat kecil janin nya, tapi insyaallah sehat"


dengan segera Gus hafidz mendekati ku dan mengecup kening ku.


"Alhamdulillah kita akan jadi orangtua, Syukron sayang untuk Hadian istimewa ini"


"Alhamdulillah, umma akan jadi nenek"


sekali lagi aku merasa sangat terharu dengan kebahagiaan yang terpancar dari wajah suami ku dan ibu ku. mereka begitu bahagia atas kehamilan ku.


"selamat yah nak hafidz dan nak nurain, sebentar lagi kalian akan jadi orangtua. dan untuk ibu nyai, saya ucapkan selamat juga yang akan menjadi nenek, insyaallah"


"kamu itu lho Rin, panggil nama ku saja jangan Bu nyai terus. malu aku depan putri ku"


Bu dokter itu hanya tertawa menanggapi perkataan dari umma. aku pun ikut tersenyum, karna merasa sedikit aneh atas sikap umma yang begitu terlihat tidak formal dengan dokter di hadapan ku.


"bukan hanya sahabat, tapi kami sudah seperti keluarga"


kata dokter Rini dengan ramah


"jadi usia kehamilan putri ku sudah berapa bulan Rin?"


"baru tiga Minggu, belum sampai satu bulan Bu nyai"


"kamu itu yah"


umma dan dokter Rini pun kembali tertawa renyah karna saling melempar guyonan satu sama lain


"udah ah, malu di lihatin sama anak-anak kamu. kita ini sudah tidak muda jadi jangan banyak cengengesan malu sama yang muda"


kata dokter Rini sambil melirik ke arah ku dan Gus hafidz secara bergantian


"nak hafidz, ini untuk resep vitamin yang harus di beli. selama kehamilan harus bisa menjaga nya dengan asupan makanan yang sehat dan bergizi. jangan terlalu capek beraktivitas karna ini masih trimester pertama, jadi kehamilan masih sangat rentan. pokok nya nanti umma kalian yang baik hati ini akan memberitahu mana yang boleh dan mana yang tidak yah"


"ya sudah, kami permisi dulu yah Rin. salam untuk anak-anak dan suami kamu"


"iya nanti aku sampaikan insyaallah"


"kami permisi ya, assalamualaikum"


setelah bersalaman dan pamit pada dokter Rini, umma mengajak ku dan Gus hafidz untuk mampir ke supermarket terlebih dahulu.


di sana umma banyak membelikan ku buah-buahan, susu dan aneka macam cemilan untuk ibu hamil.

__ADS_1


begitu semangat umma melakukan semua itu untuk ku, sampai-sampai aku dilarang untuk membantu mendorong troli belanjaan, karna takut aku kecapekan.


masyaallah, beliau adalah mertua ku tapi menyayangi ku layak nya ibu kandung.


~


"gimana umma hasil nya?"


tanya Babah yang sedang duduk di ruang tengah saat kami baru kembali dari luar.


"iya gimana neng hasil nya? bibi juga penasaran"


BI Nani yang tadi berada di dapur langsung menghampiri kami dan juga ikut bertanya


"sabar dong, kita suruh nurain nya duduk dulu kasian capek abis dari luar. terus kasih minum dulu kasian kehausan"


kata umma yang seolah ingin membuat orang di rumah merasakan penasaran sedikit lama


"oh iya biar bibi ambil kan minum"


dengan segera BI Nani masuk ke dapur untuk mengambil air minum.


aku dan Gus hafidz saling pandang dan saling melempar senyum melihat kelucuan umma yang ternyata bisa berbuat jahil pada orang lain.


"jadi giman umma, apa kata dokter?"


tanya Babah yang sudah tidak sabar karna umma belum juga menjawab pertanyaan nya


"sabar dulu dong Babah, biar nurain nya makan dulu. umma juga sama lapar"


"yaa Allah, umma mu ini loh fidz kaya nya seneng banget liat Babah penasaran kaya gini"


"si Babah sudah gak sabaran, hehe"


umma malah tertawa seolah menikmati rasa penasaran yang Babah rasakan


"iya deh iya umma kasih tahu. hasil nya____insyaallah sebentar lagi kita akan jadi nenek dan kakek bah"


"Alhamdulillah wasyukrulillah, semoga Allah selalu menjaga cucu dan putri Babah"


dengan penuh kasih sayang Babah mendoakan ku dan mengelus kepala ku dengan lembut


"siapa umma yang hamil?"


tanya Ning Farah yang baru datang dari arah kamar nya


"kakak mau nak, insyaallah kamu akan jadi ateu"


"beneran? masyaallah selamat ya bang, selamat juga teh nur"


Ning Farah memeluk ku dengan tiba-tiba yang membuatku sedikit terkejut.


Gus hafidz pun menatap seolah tak percaya atas apa yang dilihat nya hari ini.


ya Allah, apa ini rezeki tang kau berikan melalu kehadiran janin di tubuh ku? aku sangat bahagia, untuk pertama kali nya Ning Farah mau tersenyum dan memeluk ku dengan tulus.


aku tahu, setiap anak membawa rezekinya masing-masing. dan ini adalah salah satu rezeki yang di bawa nya, yakni rezeki kebahagian bagia setiap penghuni rumah ini.


sekali lagi ku ucapkan rasa syukur ku atas anugrah mu yang amat besar ini.

__ADS_1


__ADS_2