Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Pertemuan


__ADS_3

POP Agam


"ka?"


rasa nya aku tidak sabar ingin segera bicara dengan kak Yasmin saat kami sudah sama-sama kembali ke rumah


"apa de?"


jawab kak Yasmin saat sedang asik mengeluarkan buku-buku dari dalam tas nya untuk di bereskan


"aku mau ngomong sama kakak"


"tinggal ngomong, ini kan juga lagi ngomong"


"ka,, kakak ngapain datang ke pondok aku?"


kak Yasmin sejenak menghentikan aktivitas nya dan menatap ku sekilas kemudian kembali fokus pada isi tas nya


"kakak gak pernah ke pondok kamu, lagian kakak juga gak tahu kan alamat nya"


"bohong, kakak bohong. aku tahu kakak ke pondok untuk menemui Gus hafidz kan dan membuat masalah di sana"


"kamu jangan ngarang yah, buat apa kakak membuat masalah di sana"


"buat merusak hubungan Gus hafidz dan istri nya. kak, kakak tahu kan kalau Gus hafidz itu sudah punya istri jadi gak mungkin Gus hafidz menikah dengan kakak, dia bukan jodoh kakak"


"kamu itu kenapa sih? kakak kan tadi udah bilang kalau kakak gak pernah ke sana"


kak Yasmin masih juga gak mengakui nya, padahal aku sudah mendengar sendiri dari mulut nya


"kak, aku pikir perubahan kakak selama ini itu murni dari hati kakak. tapi ternyata itu hanya untuk bisa mendapatkan perhatian dari manusia. bahkan kakak sampai rela pindah kuliah hanya untuk seseorang yang sudah pasti bukan untuk kakak"


"oh ya? lalu untuk apa ada poligami dalam Islam? apa laki-laki yang menikahi lebih dari satu istri mereka itu mengambil jodoh orang heh? bukan kan? itu karna perempuan itu memiliki jodoh yang sama, dan kakak yakin kalau Gus hafidz juga adalah jodoh kakak"


"yaa allah ka, kenapa kakak harus memaksakan kehendak kakak? terus apa dengan kakak datang ke pondok, bicara yang bukan-bukan mereka akan percaya dengan semua itu ka? ka ini dunia nyata bukan film, yang alur nya bisa kita ubah. bahkan masalah yang kakak buat itu sangat mengada-ngada, dan inget kak Gus hafidz bukan laki-laki yang Bodoh, begitu pun nurain, dia bukan perempuan yang mudah terpengaruh oleh sesuatu yang belum tentu kebenarannya"


"benarkah? kenapa kamu seyakin itu? seolah kamu mengenal baik mereka"


"yah, aku sangat mengenal nya. karna Gus hafidz adalah anak dari guru ku, dan nurain, dia adalah teman satu pondok ku, juga seseorang yang__aku suka selama ini"


"APA DE?"

__ADS_1


kak Yasmin begitu kaget saat mendengar apa yang ku katakan barusan.


yah, kak Yasmin memang tidak tahu siapa perempuan yang selama ini aku suka. dia hanya tahu jika cinta ku tak berbalas, dan aku juga tidak ingin memberitahu lebih dalam tentang nurain saat aku tahu bahwa dia bukan jodoh ku


"iya kak, laki-laki yang kakak suka adalah suami dari perempuan yang Agam suka, yang Agam cinta selama tiga tahun lama nya bahkan sampai sekarang Agam masih mencari cara bagaimana agar bisa melupakan dia"


kak Yasmin hanya diam sambil memandang ke arah yang tak tentu dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipi nya.


"ka, cinta itu murni bukan? dia datang dengan sendiri nya, maka biarkan cinta juga yang memilih jalan nya sendiri. jika orang yang kita cinta adalah jodoh kita, maka cinta itu yang akan membawa nya pada kita. tapi jika bukan jodoh kita, maka biarlah cinta itu capek dan menyerah dengan sendiri nya. agam yakin, kalau jodoh kakak nanti itu yang paling baik untuk kakak, yang akan paling kakak cintai dan mencintai kakak, hanya tinggal menunggu waktu. dan dalam penantian itu, jadikan kesempatan untuk kakak memperbaiki diri kakak, agar kakak pantas untuk pasangan kakak. kakak paham kan perkataan Agam?"


dengan pelan aku mencoba menasihati kak Yasmin, aku berharap kak Yasmin bisa mencerna dan memahami semua perkataan aku barusan.


walaupun sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu, sampai kapan hati ini akan kuat dan bisa melupakan nurain.


~


{assalamualaikum, nur ini ana Agam. ana mau bicara dengan anti boleh? ada sesuatu yang ingin ana sampaikan langsung ke anti}


aku mencoba mengirim pesan pada nurain setelah mendapatkan nomor nya dari asyila.


Alhamdulillah centang biru dua, itu berarti pesan ku sudah dibaca oleh nya.


{nur,, apa anti masih marah karna apa yang ana katakan waktu di mall? kalau iya, ana minta maaf bukan maksud ana lancang bicara seperti itu. ana hanya ingin tau perasaan anti pada ana, itu aja tidak lebih}


sekali lagi aku mencoba mengirim pesan pada nurain, berharap dengan begitu dia mau membalas nya


{waalaikumsalam, memang nya apa yang mau anta sampaikan}


sebuah balasan pesan dari nurain masuk, Alhamdulillah ternyata dia masih mau bicara dengan ku


{banyak, kalau bisa ana mau bertemu anti secara langsung. tadi nya ana mau ke rumah anti, tapi ana belum berani karna ini mengenai aib seseorang}


tanpa butuh waktu lama aku langsung membalas pesan dari nya


{maaf, anta kan tahu kalau ana udah punya suami, enggak mungkin ana mau ketemu dengan anta yang bukan mahram ana}


nurain kembali membalas pesan dari ku dengan cepat.


benar juga, tidak mungkin nurain mau menemui ku tanpa di dampingi oleh yang mahram nya


{kalau begitu anti ajak asyila biar tidak ada fitnah}

__ADS_1


satu balasan lagi dari ku


{kenapa bukan suami ana aja yang di ajak?}


balasan WA dari nurain


{ana belum siap kalau harus ketemu dengan dia, anti pasti tahu alasannya. yang jelas ana hanya ingin meluruskan kesalahpahaman diantara kalian, tapi ana hanya bisa menyampaikan nya melalui anti. itupun kalau anti bersedia, tapi kalau enggak, ana gak akan maksa}


{baiklah, dimana anta mau bertemu ana?}


tidak ku sangka jika nurain mau bertemu dengan ku, ada rasa bahagia karna dengan begitu aku bisa melihat wajah nya kembali. dan itu setidak nya mengobati rasa rindu ku terhadap nya.


aku tahu ini sangat salah, tapi hati ini tidak mau mengalah pada logika ku. karna logika dan hati ku masih belum mau berjalan searah.


{kalau bisa besok siang di cafe di dalam toko buku persimpangan, agar tempat nya tidak terlalu mencolok jadi orang tidak akan salah paham dengan bertemu nya kita}


setelah ku kirim satu pesan terakhir mengenai waktu dan tempat, tak ada lagi balasan dari nurain.


ada kesedihan sedikit yang menyelusup hati ku, karna di sini aku sadar bahwa aku tidak mungkin bisa memiliki nya.


kami bertukar pesan, itu pun hanya untuk sesuatu yang begitu penting dan formal, bukan membahas tentang masa depan kita suatu hari nanti. ah,,, angan ku memang kadang di luar logika.


keesokan harinya aku pergi ke cafe toko buku yang sudah dijanjikan. ada rasa deg-degan dan grogi saat aku masih menunggu kehadiran nurain.


dan perasaan ini masih sama seperti saat pertama aku bicara pada nya, saat kami di masukkan dalam satu organisasi yang sama.


hati ku selalu tak menentu jika harus dihadapkan dengan nya, padahal jika kami sudah bicara, topik yang kami bahas hanyalah tentang keorganisasian, tapi entah kenapa aku selalu bahagia sekaligus deg-degan jika mendengar suara nya.


sudah hampir dua puluh menit aku menunggu, tapi belum ada tanda-tanda nurain sudah datang.


ku sapu pandangan sekitar, melihat ke arah pintu cafe berkali-kali, namun nurain masih belum terlihat.


{assalamualaikum, nur jadi datang kan? anti udah sampai mana}


aku putuskan untuk mengirim pesan pada nya


{sudah sampai depan meja anta}


setelah membaca balasan pesan dari nya, aku langsung mengangkat kepalaku untuk melihat nya. namun yang datang ternyata,,,


"GUS HAFIDZ??"

__ADS_1


__ADS_2