
"hari ini gladi resik buat wisuda besok kan?" tanya Widia. saat Maryam, asyila, Kania, Hanifah, Selly dan lainnya berkumpul di kamar ku.
ceritanya lagi jenguk aku yang sedang sakit, padahal cuma sakit demam biasa. tapi seperti itu lah teman-teman ku, jika ada yang sakit pasti sigap buat saling menjaga dan menjenguk. ah,,, mendengar Widia berbicara tentang wisuda ko rasa nya aku belum rela, karna di luar nanti aku belum tentu mendapatkan teman sebanyak dan sebaik di sini.
"iya nanti bada asar kata ustadzah dini" Selly yang menjawab
"aduuhhh,,, ko ana ngerasa belum rela ya kita wisuda besok" kata Maryam dengan ekspresi wajah yang sedih
"ko gitu Iam? harusnya seneng dong kita bisa ditahap itu" Widia yang menanggapi
"bukan gitu, abis wisuda nanti pasti kita semua bakalan kembali ke rumah masing-masing. gak ada lagi kumpul bareng, gak ada lagi ngantri mandi sambil luluran bareng, gak ada lagi tukeran sepatu, gak ada lagi sarapan bareng. pokoknya semua bakalan terasa berbeda" Maryam mengatakan nya dengan mata yang mulai berkaca-kaca
"yah,, Iam ana jadi sedih kan denger anti ngomong gitu" Kania yang berada di sebelah Maryam memeluk nya dengan haru begitupun aku dan yang lainnya tak kalah terharu dengan mata yang berkaca-kaca.
"udah ah jangan sedih-sedihan nanti ana sakit nya gak sembuh nih mana besok wisuda lagi. yang jelas ini udah jadi skenario dari Allah, ini sebaik-baiknya takdir Allah. masa iya kita mau di kelas XII sampe tua kan gak seru sekolah sambil bawa-bawa tongkat"
aku mencoba mencairkan suasana agar tidak ada yang namanya sedih menuju perpisahan. dan tentu itu berhasil, kami pun mulai tertawa di sela-sela obrolan kami yang semula sedikit melow.
"istirahat sejenak membahas soal wisuda dan perpisahan. sekarang kita beralih dulu membahas soal gosip yang belum beredar luas di kalangan santri putri" kata selly dengan semangat empat lima.
kebiasaan emang dia suka bawa gosip yang belum kita ketahui di wilayah pondok pesantren ini
"apaan emang?" kata Hanifah sambil menggeser duduk nya mendekati Selly
"tau gak, kata nya yah Agam kemarin abis nembak cewek lho, malah sambil ngedate segala lagi"
Deg
aku yang mendengar itu mendadak kembali teringat kejadian waktu di jatos tempat perbelanjaan kemarin. 'apa yang dimaksud Selly itu waktu Agam sama aku yah? tapi dia tahu dari mana?' hati ku mendadak tak enak
" masa sih? bukan nya Agam sama Yumna yah?" kini Widia yang ikut penasaran dengan berita yang dibawa Selly
"gak tahu, itu kan cuma gosip angin aja. kata nya sih Yumna nya yang suka sama Agam tapi gak tau deh. pokoknya ini gosip dari orang terpercaya yang waktu itu ijin keluar bareng Agam. dia liat sendiri kalau Agam sama seorang perempuan, terus dia juga sedikit nguping pas Agam nyatain cinta gitu di depan umum malah, so sweet kan" Selly menyentuh kedua pipinya dengan tangannya
"ih,,, yaa Allah gentle banget deh agam. udah ganteng aktif organisasi pinter romantis lagi. coba ana yang jadi perempuan nya, tanpa pikir panjang ana udah terima dia yakin" kata Widia lagi
"eh,, tapi iya loh waktu ana sama nurain keluar, kebetulan liat Agam sama bagus lagi nongkrong di cafe. tapi gak liat ada perempuan tuh" Kania seolah mencoba mengingat-ingat waktu aku dan dia ijin keluar
"mungkin perempuan nya udah pergi duluan" kini asyila yang menanggapi, padahal dari tadi dia hanya diam menyimak
"mungkin, tapi tau deh. anti liat gak nur? mungkin lagi kebetulan ke toilet, siapa tahu anti ketemu kan waktu itu anti juga lagi di toilet" Kania mengalihkan pertanyaannya kepada ku
"entah lah" aku mengangkat kedua bahu ku dengan nyengir kuda karna takut salah bicara yang bisa menyudutkan ku
"kaya nya enggak deh, soal nya kata si bagus dia gak liat muka nya itu perempuan karna posisinya membelakangi dia"
"ohh,,, jadi ini dari si bagus?" tanya ku tiba-tiba dengan nada yang cukup keras. sontak semua melihat ke arah ku
__ADS_1
"laahh,, anti kenapa nur? ko kaya yang marah gitu?" tanya Maryam yang mungkin merasa aneh dengan nada bicara ku
"iya, anti kenapa nur?" kini asyila yang ikutan bertanya pada ku
"hehe,, enggak,,,gak papa" haduuhhh,, hampir saja. gara-gara si bagus nih. tapi untung lah dia gak liat muka aku.
~
setelah semua bubar dari kamar ku, kecuali penghuni asli kamarku tentu nya. aku kembali membaringkan tubuh ku di atas kasur busa kecil ku. karna badan ini rasa nya belum benar-benar fit, walau pun demam nya udah mulai mereda.
"nur,, gak papa ditinggal disini? ana sama yang lain mau gladi resik buat besok"
kata asyila yang sudah siap hendak pergi menuju aula pesantren
"iya gak papa, anti pergi latihan aja. lagian ana udah mau sehat ko"
"atau kita panggil Ade kelas aja buat jagain anti nur? lagian anti gak mau ke poskestren sih" kata Widia menyarankan
"gak usah mereka lagi pada ngaji, gak enak. beneran ana gak papa ko udah mau sehat ini"
"ya udah atuh, kita ke aula dulu yah. anti baik-baik di sini"
"udah sana nanti telat"
"ya udah yah kita tinggal nih. assalamualaikum"
aku di dalam kamar sendirian, bingung juga mau ngapain. sebenarnya pengen banget ikut gladi resik tapi tadi temen-temen pada ngelarang takut nya sakit aku malah jadi nambah bukan nya sembuh. terpaksa aku harus nurut, karna ini juga buat kebaikan ku. dari pada gak ikut wisuda mending gak ikut gladi resik nya aja.
setelah diam merenung beberapa saat, maka aku putuskan untuk menulis saja dalam buku penaku. itu adalah buku yang biasa aku menuliskan puisi-puisi ku. karna sebenarnya itu adalah satu hobi ku, yah walaupun aku tidak jago menulis puisi hee
*untuk hatiku yang ada dalam genggaman-Nya
tiga tahun aku habiskan waktu ku untuk mencari ilmu disini
tak ada yang ku harapkan selain ilmu yang berkah dan manfaat aku dapatkan
jika tiba waktu ku melangkah kembali
hingga suatu hari,
kisah itu seolah menarik ku untuk menjadi tokoh di dalam nya
entah dari mana itu dimulai, aku sendiri tidak tahu
pernah aku mengaguminya,
karna begitu banyak yang membicarakan bagaimana Sholeh dan pintar nya dia
__ADS_1
aku selalu tersenyum jika mendengar namanya
tapi aku tahu diri, apalah aku dan apapun dia
hingga panggilan itu, awal mula cerita kami dimulai
awalnya aku senang, aku bahagia
tapi karna sikap nya yang begitu dingin dan angkuh
membuat senyum ku sedikit demi sedikit pudar tak kala mendengar nama nya
suatu hari,
ku temukan sebuah tulisan yang menggambarkan isi hati nya
entah itu benar atau tidak, tapi yang jelas saat itu aku masa bodoh
peristiwa demi peristiwa aku lewati di taman indah ini
tangis ku, bahagia ku,
ku tumpah kan seluruh nya disini karna ini lah rumah ku saat ini
termasuk peristiwa yang menurutku paling menyakitkan dan memalukan
mungkin jika diluar itu biasa,
tapi tidak dengan di sini
karna peristiwa itu, hati ku seolah dingin terhadapnya
karna berawal dari tulisan itu lah aku harus menghadapi hukuman yang memalukan
aku selalu menyalahkannya, bahkan saat dia meminta maaf ku
hati ini masih menyalahkannya
hingga suatu hari aku merasa dia berbeda
tatapan nya yang dingin, kini berubah hangat
sikap nya yang acuh, kini terlihat ramah
entah lah ada apa dengan dia? tapi karna itu pula aku bertanya pada diri ku sendiri
ada apa dengan ku*??
__ADS_1