Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Resepsi


__ADS_3

hari yang di nanti telah tiba, yakni hari acara bagi resepsi pernikahan kami yang sempat tertunda cukup lama setelah akad pernikahan kami.


aku dan suami ku di rias layak nya seorang pengantin.


banyak sanak saudara dari keluarga Gus hafidz yang belum aku kenal dan aku lihat sebelumnya nya.


"mana, mau lihat pengantin wanita nya"


ku dengar seseorang di balik pintu sedang bicara


"iya mah, Nisa juga mau ketemu sama istri nya hafidz"


"assalamualaikum"


"waalaikumsalam wr wb"


jawab ku dan penata rias bersamaan.


"kami mau bertemu dengan pengantin wanita nya apa boleh?"


"tentu boleh Bu, kebetulan sudah selesai di rias"


jawab penata rias pada seorang ibu yang belum ku ketahui siapa nama nya.


"assalamualaikum"


sapa Ku pada kedua orang wanita yang berdiri tepat di depan ku. namun mereka tidak langsung menjawab, mereka malah saling menatap satu sama lain seperti sedang merasa bingung saat melihat ku.


"Bu"


kata ku sambil mencium tangan ibu itu lalu bergantian pada seorang wanita yang seumuran dengan dokter Aisyah.


"kamu Aisyah istri nya hafidz?"


tanya ibu itu pada ku


"bukan, saya nurain istri nya Gus hafidz"


"nurain? bukan nya istri nya hafidz nama nya Aisyah? tapi memang sih wajah mu seperti bukan Aisyah. walaupun aku baru ketemu satu dua kali tapi aku ingat betul dengan wajah Aisyah"


kata seorang wanita yang seumuran dengan dokter Aisyah.


"saya memang bukan dokter Aisyah, saya nurain alumni santri di sini yang dinikahi Gus hafidz"


"oh"


Jawab kedua wanita itu namun dengan tatapan yang tidak aku mengerti.


"salam kenal, kami saudara dari Babah nya hafidz"

__ADS_1


mereka tersenyum kepada ku, namun senyuman yang kaku seperti di paksakan


"ya udah kami permisi ke depan ya, assalamualaikum"


"waalaikumsalam wr wb"


"kamu udah siap sayang?"


tiba-tiba Gus hafidz datang dengan memakai jas yang senada dengan warna gaun yang ku pakai.


sejenak aku terpesona pada ketampanan suami ku yang semakin berkarisma saat memakai jas


"kamu cantik sekali, bahkan mungkin bidadari di sana juga cemburu melihat kecantikan kamu"


"Abang nih, kalau muji suka berlebihan malu tahu di dengar sama mbak periasnya"


"kenapa harus malu, emang iya ko istri Abang itu cantik. iya kan mbak?"


"iya Gus, cantik banget malah"


jawab mbak penata tiasa menanggapi perkataan Gus hafidz


"tuh kan, apa Abang bilang"


"Abang juga ganteng, gagah lagi kalo pakai jas kaya gitu"


"ihh,, apaan sih"


"haha,, cemberut dia. tapi Syukron buat pujian nya. ya udah sekarang kamu pakai dulu cadar nya abis itu kita ke aula, acara udah mau di mulai"


aku mengangguk, kemudian Gus hafidz langsung menggandeng tangan ku untuk berjalan menuju aula pesantren tempat acara diselenggarakan.


~


di luar aula sudah banyak sekali tamu yang berdiri menyambut kedatangan ku dan gus hafidz yang diiringi oleh para pagar Ayu dan bandir yang melakukan tarian Islam atau biasa di sebut dengan upacara adat.


sedang kan ayah, Babah, umma dan seluruh keluarga lain nya mengikuti kami di belakang secara beraturan sesuai dengan arahan pembawa acara.


acara satu persatu di bacakan dan dilakukan oleh ku dan Gus hafidz sebagai tokoh utama dalam resepsi ini.


ada haru, lucu, Pokok nya penuh kesan yang sangat berarti dan mendalam khususnya bagi ku, yang merasa sangat terharu saat satu persatu para alim ulama mendoakan keberkahan untuk keharmonisan rumah tangga kami berdua.


"hafidz, selamat yah brother buat pernikahan nya. gw kira Lo jadi nikah sama Aisyah, tau nya bukan. tau gitu gw deketin terus aja dulu siapa tahu jodoh gw ya kan? kalau gw boleh ngasih saran sayang loh lo harus melepas berlian. secara Aisyah itu cantik, baik, pinter, anak seorang pengusaha pula."


Gus hafidz memandang tajam pada seorang laki-laki yang ada di hadapan nya. aku tidak tahu siapa dia, tapi menurutku kata-katanya kurang sopan dan raut muka nya juga seperti mencemooh kepada suami ku


"dan gak enak di lihatin orang, banyak yang ngantri juga di belakang. buruan jalan gantian sama orang"


laki-laki di sebelahnya nya seperti mencoba mengingatkan.

__ADS_1


"iya,,iya sabar, ini juga gw mau jalan. ya udah sekali lagi selamat yah buat kalian berdua"


laki-laki itu pun turun dari pelaminan bersama teman yang di sebelahnya.


"kamu gak usah dengerin apa yang tadi temen Abang bilang. dia memang seperti itu dari dulu"


aku hanya mengangguk sebagai jawaban dari perkataan suami ku.


tamu masih banyak yang lalu lalang menyapa dan menyalami kami, hingga tanpa terasa tubuh ku sangat lelah dan kepala ku mulai pusing. bahkan saat ada yang menyapa ku, aku hanya tersenyum tanpa membalas dengan perkataan atau pun pertanyaan. mungkin karna terlalu lelah.


"nur,,, masyaallah cantik nya sahabat ku"


Maryam sahabat ku, yang kuharap kan sejak pagi sudah hadir di acara ku. tapi dia baru datang bersama suami nya yang juga merupakan ustadz yang mengajar di pondok ini.


"Afwan yah, ana baru datang soal nya tadi macet di jalan"


"iya gak papa, ana ngerti ko"


"ya udah ana ke situ dulu yah, banyak yang antri di belakang. sekali lagi selamat yah, semoga anti dan Gus hafidz segera di anugrahi momongan"


bisik nya padaku lalu langsung berjalan ke bawah, karna antrian tamu masih sangat panjang.


"kamu kenapa sayang? kaya yang lemes gitu?"


tanya Gus hafidz yang sadar akan perubahan dari tubuh ku yang memang tidak sebugar tadi.


"agak capek mungkin bang. tapi nur gak papa ko"


"kamu yakin gak papa? tamu masih banyak yang berdatangan dan mengucapkan selamat pada kita. Abang takut kamu malah jadi sakit, kalau kamu capek lebih baik kamu istirahat biar Abang yang menyambut para tamu"


"enggak ko bang, nur gak papa. gak enak juga masa Abang nyambut tamu nya sendirian kan gak lucu pengantin nya kalau pincang"


kata ku sedikit guyon agar Gus hafidz tidak terlalu hawatir pada kondisi ku.


"kamu itu ya bisa aja"


kata Gus hafidz sambil mengelus kepalaku dengan lembut.


"hafidz lebih baik kamu ajak nurain makan dulu, ini sudah sangat siang, kalian belum makan apa-apa. biar umma dan Babah yang menyambut para tamu"


umma yang dari tadi duduk mendampingi kami, menghampiri untuk mengingatkan agar makan siang terlebih dahulu


"iya umma, kalau gitu hafidz dan nurain ke bawah dulu"


Gus hafidz pun memapah ku yang memang sedikit sulit berjalan karna mengenakan gaun yang cukup rumit, untuk meninggalkan pelaminan sebentar.


namun langkah ini seperti sangat sulit, karna rasa pusing di kepala ku sudah sangat tak tertahan.


dengan pelan aku melangkah kan kaki, namun pandangan ku seolah kabur. lambat laun tubuhku semakin lemas, dan akhirnya gelap pun menghalangi mata ku sehingga membuat tubuh ku kehilangan keseimbangan.

__ADS_1


__ADS_2