
POP Asyila
pagi ini rasa nya aku tidak semangat melakukan aktivitas apapun, namun saat melihat baju ku yang kotor semakin menumpuk aku paksakan diri untuk mencuci nya, biasa nya suka ada bibi laundry ke sini tapi sudah tiga hari ini beliau sakit jadi aku terpaksa mencuci baju ku sendiri.
setelah selesai mencuci aku hendak ke kamar ku lagi, tapi dari kejauhan ku lihat Maryam sedang berdiri di ambang pintu kamarku. aku yakin dia mau menemui nurain dan tentu nya aku juga untuk mengajak kami sarapan pagi. karna sudah kebiasaan nya kalo sarapan pagi selalu ngajak kami berdua. hanya dua hari kemarin dia tidak ke kamar ku untuk mengajakku atau pun Maryam sarapan pagi, entah lah mungkin dia sedang sibuk.
ku urungkan niat ku masuk ke dalam kamar, lebih baik aku tunggu dulu di kamar mandi sampai Maryam dan nurain pergi duluan. bukan apa-apa hanya saja hati ini masih dikuasai rasa kurang nyaman, sejak waktu itu. jadi aku memilih untuk menghindari nurain ataupun Maryam. karna aku belum siap untuk di tanya-tanya tentang kenapa dengan sikap ku.
"syil, tadi Maryam kesini nyariin anti sama nurain" kata Widia saat aku sudah kembali ke kamar ku, pasti nya setelah ku pastikan Maryam dan asyila keluar.
"iya Wid, biarin aja" jawab ku pada Widia
__ADS_1
"tumben, biasa kan kalo pagi-pagi begini kalian bertiga suka berangkat bareng ke dapur buat sarapan?"
"enggak papa, lagi males aja"
"jangan males lah sama sarapan nanti sakit, mending sekarang susul gih biar bareng-bareng sarapan nya, yang lain mah udah pada beres ini kalian kebiasaan suka paling Ahir kalo sarapan" Widia mencoba menasehati ku
"iya lah nanti aja Wid" jawab ku malas, karna jujur Widia jadi agak sedikit cerewet akhir-akhir ini padahal gak biasa nya dia begitu
"syil belum sarapan? yuk bareng sama ana, kebetulan ana juga belum biar ana ada temen" tiba-tiba Hanifah yang mendengar pembicaraan aku dan Widia mengajakku untuk sarapan bersama.
sesampainya di dapur ku lihat tak ada siapa pun, hanya ada bibi-bibi yang biasa masak didapur. 'bukannya Maryam dan nurain juga baru sarapan kata Widia, tapi ko gak ada, masa iya udah beres sarapannya. biasa nya setelah sarapan kami tidak langsung kembali ke asrama jika jadwal masuk sekolah siang. kami akan menghabiskan waktu disini untuk sekedar bercerita, bercanda atau terkadang membantu bibi-bibi apapun yang kami bisa' ucapku dalam hati. ah,, aku jadi rindu kebersamaan bareng mereka.
__ADS_1
selang beberapa menit Maryam dan nurain masuk ke dapur, aku sedikit kaget karna ternyata mereka baru ke sini, aku kira mereka sudah sarapannya ternyata malah baru ke sini. aku diam pura-pura tidak melihat mereka, hingga akhir nya mereka menyapa ku. ku lihat nurain tersenyum menatapku, namun aku justru malah memalingkan wajahku dari nya tanpa membalas senyuman nya. aku pokus pada Maryam saat dia meminta maaf karna lupa tidak mengajak ku ke sini dengan alasan aku masih di kamar mandi.
ada rasa kesal pada Maryam sebenarnya karena lupa mengajakku, tapi aku tidak bisa mengungkapkannya, karna jujur mungkin ini juga yang di rasakan nurain terhadapku. tapi harus bagaimana lagi, hati ini rasa nya masih belum bisa menerima.
aku memilih untuk kembali ke asrama duluan dan menolak ajakan nurain dan Maryam untuk tinggal di dapur beberapa menit saja sekedar untuk bercerita seperti dulu. ku lihat Hanifah seolah merasa tidak enak terhadap Maryam dan nurain, namun aku tidak menghiraukan itu, aku berjalan meninggalkan Hanifah. ada perasaan bersalah, namun ada juga perasaan kesal, karna hati ini masih terlalu ego. biarlah,,,
"kenapa syil? lagi ada masalah ya sama kalian?" Widia mendekati ku, bertanya dengan sedikit berbisik. saat aku sudah di dalam kamar dan meletakkan hijab ku dengan sembarang.
"enggak ko" jawab ku lagi dengan singkat dan melirik nya sekilas
" tapi kaya nya ekspresi wajah anti mengatakan sebaliknya. ana gak bermaksud ikut campur urusan kalian, khususnya anti" aku menatap heran Widia yang seolah tahu kalo aku memiliki masalah, lebih tepatnya masalah yang ku buat sendiri dan dengan diri sendiri.
__ADS_1
"kalo memang ada masalah baik nya diselesaikan, dibicarakan secara baik-baik apapun masalah nya. jangan sampai saling menghindar kaya gini, apalagi sebentar lagi kita mau lulus kan gak enak ninggalin pondok dengan membawa masalah yang belum beres ke rumah, apalagi masalah itu dengan sahabat sendiri. maaf kalo ana juga sok tahu, karna ana perhatiin Sekarang kalian jadi jarang bareng-bareng apalagi anti seolah menghindar. jujur ana iri sebenarnya sama persahabatan kalian, apa-apa selalu bareng, saling support, saling menghibur saat ada salah satu di antara kalian yang sedih, saling jaga, saling mengerti pokok nya saling sayang. bahkan kalo boleh, kalo bisa ana tuh mau jadi salah satu diantara kalian. kenapa? karna punya sahabat yang sepemikiran, sejalan sama kita tuh susah. gak sedikit orang yang ngaku nya sahabatan tapi malah saling ngomongin di belakang, saling menjerumuskan satu sama lain. tapi ana perhatikan kalian tuh beda. selama ana mondok di sini bareng kalian, ana belum pernah tuh denger nurain ngomongin anti, Maryam ngomongin nurain, atau sebaliknya anti yang ngomongin mereka. itu maka nya ana iri tapi juga salut sama persahabatan kalian. sekali lagi Afwan kalo ana kesannya ikut campur, ana hanya gak mau persahabatan kalian rusak karna ada nya masalah yang mungkin itu bisa diselesaikan secara baik-baik.ana yakin tidak mungkin ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, karna Allah menguji hamba nya dengan masalah pasti di barengi dengan solusi nya. tinggal kita nya yang harus sabar menemukan solusi itu sendiri" lanjutnya.
aku menatap kembali Widia yang tersenyum lembut pada ku, ku cerna setiap kata-kata nya barusan. sungguh aku merasa tertampar dengan nasehat nya, aku malu pada diri sendiri yang begitu mudah nya dikuasai oleh perasaan ego ku. tapi apa yang harus aku lakukan sekarang, satu sisi aku ingin meminta maaf dan kembali seperti dulu bersama nurain dan Maryam. tapi di sisi lain hati ini tak bisa menahan sakit saat orang di sekitar membicarakan nurain dan Gus hafidz yang seolah menyetujui jika mereka berjodo, aku tahu nurain selalu mengabaikan tentang hal itu karna mungkin dia tidak menyukai Gus hafidz, atau mungkin belum lebih tepat nya. dan aku takut akan hal itu.