Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
melelahkan namun spesial


__ADS_3

"kenapa sayang, liatin Abang terus dari tadi? Abang ganteng yah, maka nya gak bisa berhenti liatin muka Abang"


"iya, Abang ganteng__ganteng banget"


"wah tumben-tumbenan nih istri cantik Abang muji Abang"


"Syukron yah bang"


kata ku sambil terus memandang wajah suami ku yang sedang fokus menyetir namun sesekali melihat ke arah ku.


"untuk?"


"untuk semua kebaikan Abang"


"terimakasih kembali"


"untuk?"


"untuk kamu mau jadi istri Abang yang Sholehah"


"ah,, Abang bisa aja"


"kenapa, pipi nya merah gitu? malu yah"


"enggak juga, udah ah fokus nyetir aja"


ku sentuh wajah suami ku untuk mengarahkan pandangan nya ke depan


"Abang ih, apa sih jadi ngeliatin nur gitu"


"kenapa emang gak boleh liatin istri sendiri?"


"bukan gitu, tapi kan nur jadi malu"


"siapa suruh kamu cantik, maka nya pandangan Abang gak bisa lepas dari kamu"


"iihhh,,, gombal banget. udah fokus aja nyetir nanti nabrak lagi"


"hehe iya iya, ini Abang fokus"


"tapi ngomong-ngomong kita mau kemana? kenapa kita gak nginep aja di rumah nur?"


"pokok nya ada deh, nanti juga kamu tahu"


"ko berhenti di sini bang? mau ngapain?"


tanya ku saat kami berhenti di sebuah toko baju yang cukup besar yang ada di kota Garut, kota kelahiran ku.


"kira-kira kita mau ngapain kalau berhenti di toko baju?"


"Abang mau beli baju?"


"bukan Abang tapi kita"


kata nya sambil menggenggam tanganku dan langsung melangkah menuju pintu toko yang ada di depan kami.


"Aya nu tiasa di bantos pak? (ada yang bisa di bantu pak?)"


seorang pelayan yang menjaga pintu toko menyambut kami dengan ramah dan sopan


"kintenna didieu Aya acuk Samian teu? (kira-kira di sini jual baju coople gak?)"


"oh, Aya. Palih dieu pak (oh, ada sebelah sini pak)"


pelayan itu membawa kami masuk ke ruangan lain yang memajang banyak pakaian coople untuk pasangan mau pun keluarga


"kamu suka yang mana sayang, kamu yang pil___ ko kamu malah liatin Abang gitu? kenapa?"


aku hanya tertawa tanpa menjawab pertanyaan dari suami ku


"ko malah ketawa?"


tanya Gus hafidz yang mungkin merasa aneh kepada ku


"abis Abang lucu kalau ngomong Sunda, kaya nya kurang pantes, nada nya kurang cocok"


"jadi kamu ngetawain Abang Hem?"


"bukan"


"berani ngetawain Abang"


Gus hafidz menggelitik pinggang ku sehingga membuatku tak bisa menahan tawa


"ampun,,,ampun bang malu, udah yah. orang-orang jadi pada ngeliatin kan"


"abis kamu sih godain Abang terus"


"hehe,, iya maaf"


"ya udah sekarang kita pilih baju yang mau di beli, nanti keburu sore"


"hoke sayang"


"apa? Abang gak denger. coba bilang sekali lagi"


"au ah, nur mau milih baju itu aja"


aku pun melangkah menuju baju yang ku tunjuk untuk menghindari godaan dari Gus hafidz.


begitulah, setelah kami menikah banyak sifat dan sikap Gus hafidz yang baru aku ketahui.

__ADS_1


salah satu nya, ternyata Gus hafidz adalah orang yang humoris di balik sikap nya yang dingin dan acuh pada orang lain.


tapi dengan istri dan keluarga nya, dia begitu hangat dan pengertian.


~


"Abang nur mau di bawa kemana? ko mata nya pake di tutup segala?"


tanya ku penasaran saat Gus hafidz memapah langkahku karna mata ku harus di tutup nya


"sabar dulu nanti juga tahu"


"iya tapi kenapa harus di tutup segala?"


"kan biar romantis kaya di TV-TV gitu hehe"


"hmmm,, bisa aja"


"yah bisa dong, apa sih yang enggak buat istri"


"udah ah Gombal Mulu"


"sampe Abang selesai baca bismillah baru di buka yah. bis-mil-lah"


Gus hafidz membuka kain yang yang dari tadi menutupi mata ku, dan,,,


"masyaallah Abang,,, ini di mana indah banget?"


aku terpesona dengan pemandangan yang ada di depanku.


sebuah rumah sederhana yang terletak di tengah hamparan sawah yang hijau, dengan kolam yang cukup besar yang menghadap tepat ke arah gunung.


"kamu suka sayang?"


tanya Gus hafidz sambil memeluk pinggang ku dari belakang.


"suka__suka banget"


"ini hadiah pernikahan kita dari Abang buat kamu"


"ini buat aku?"


tanya ku yang masih tak percaya dengan apa yang barusan ku dengar dari mulut suami ku


"iya ini buat kamu, Abang tahu kamu memimpikan sebuah rumah sederhana di tengah hamparan sawah yang hijau kan?"


"ko Abang tahu? memang nya nur pernah bilang sama Abang?"


Gus hafidz menggelengkan kepalanya


"terus tahu dari siapa?"


"gambar?"


tanya ku penasaran


"iya, Abang pernah nemuin buku kamu yang tertinggal di kelas dulu. pas Abang buka da kertas yang isi nya gambar sebuah rumah dengan hamparan sawah di sekeliling nya, di situ tertulis 'impianku'"


"oh itu, sebenarnya itu bukan gambar ku tapi gambar temen ku asyila. aku sengaja menyimpan nya karna gambar yang di buat nya selalu bagus"


"jadi Abang salah mengira donk?"


"enggak juga, mempunyai rumah di tempat seperti ini memang impian nur hanya seja kebetulan sama dengan Asyila"


"ya udah lah, yang penting istri Abang bahagia Abang akan lebih bahagia"


"muach,, Syukron yah Abang sayang"


"nyium nya jangan sambil pake cadar dong, gak berasa"


"apaan sih, lagian ini di luar masa buka cadar"


"terus kenapa dong barusan cium Abang? kan ini di luar?"


"hehe, iya lupa"


"ya udah kita masuk yuk ke dalam"


Gus hafidz menggandeng tangan ku saat kami kami masuk ke dalam rumah.


~


"assalamualaikum nur, gimana kabar nya?"


tanya Maryam saat kami sedang melakukan Video call


"waalaikumsalam, Alhamdulillah sehat. anti gimana kabar nya? sehat kan? gimana di Bali menyenangkan?"


"Alhamdulillah sangat menyenangkan, apalagi pergi nya bareng suami tercinta"


"masyaallah pengantin baru, ikut bahagia deh ana"


"harus dong, ngomong-ngomong anti agi dimana? kaya nya itu bukan di pondok atau di rumah anti deh?"


"coba tebak ana dimana?"


aku mengalihkan camera ke setiap sudut ruangan dan halaman serta kolam yang ada di depan ku


"masyaallah bagus banget,,, kalian lagi honeymoon yah"


"lagi apa sayang"

__ADS_1


tiba-tiba Gus hafidz mencium dan merangkul ku saat camera VC ku masih menyala bersama Maryam


"Abang"


aku memberikan kode pada Gus hafidz untuk melihat ke arah hp yang sedang ku simpan di atas meja


"oh, Agi VC an maaf Abang gak tahu. silahkan kalian lanjutkan ngobrol nya"


dengan muka merah karna malu Gus hafidz langsung masuk ke dalam meninggalkan aku dan Maryam yang sedang menutup mata nya seolah tidak melihat apa yang dilakukan Gus hafidz kepada ku barusan


"ana gak liat ko beneran, anak masih kecil belum ngerti"


kata Maryam saat aku kembali pokus pada Maryam di sebrang sana


"yaa Allah Afwan ya iam"


"ko minta maaf? gak papa kalo udah sah ini kan? ana gak nyangka kalau Gus hafidz seromantis itu, padahal dia tuh dulu dingin banget kaya es"


"kata nya tadi gak liat"


"hehe,,, liat dikit"


"huuu,, dasar"


"biarin atuh, jarang-jarang liat pemandangan seperti itu"


"tapi ngerasain sering kan hehe"


"wah parah, udah nikah pikiran anti jadi ngeres gitu"


"diihhh,, bukan ngeres tapi bicara berdasarkan fakta"


"iya fakta ngeres"


"hehe,, ngomong-ngomong anti kapan pulang?"


"tiga atau empat harian lagi"


"bagus deh kalau gitu, berarti anti bisa hadir di acara resepsi pernikahan ana"


"pasti nya dong, masa gak hadir di acara spesial bestie sendiri"


"nanti kalau acara ana udah beres, kita jenguk asyila yuk. ana kangen sama dia"


"ayok, ana juga sama kangen banget sama dia. apalagi semenjak dia mondok lagi, kita gak bisa menghubunginya kecuali langsung nyamperin ke tempatnya"


"ana gak nyangka kalau asyila bakalan mondok di salafiyah, padahal kan yang punya cita-cita ke situ dulu ana"


"begitulah takdir Allah nur, gak ada yang tahu. tapi ana seneng asyila mondok lagi, setidak nya dia dia mendalami ilmu agama yang insyaallah akan semakin membuat nya lebih baik. dari pada di luar, ana takut asyila terbawa pergaulan, karna dia orang nya mudah terpengaruh"


"iya sih anti bener. iam udah dulu yah, ana gak enak ninggalin Gus hafidz sendirian di dalam"


"ciee,,, gak enak apa gak sabar mau berduaan?"


"apaan sih, itu mah anti kali. udah dulu yah, assalamualaikum"


aku pun menutup sambungan VC dan langsung masuk ke dalam menemui Gus hafidz.


~


saat pagi tiba, ku lihat Gus hafidz sudah rapi dengan menggunakan setelan baju olah raga.


"ko masih belum ganti baju sayang?"


"memang nya kita mau kemana?"


"kita mau sepedaan, abis itu kita nyari sarapan sambil menikmati pemandangan di sini"


"asik, bentar ya nur ganti baju dulu"


setelah siap, kami langsung menjalan kan sepeda kami menyusun jalanan yang dikelilingi oleh pemandangan hijau yang begitu sejuk.


banyak petani yang sedang sibuk melakukan kegiatannya di tengah sawah, burung yang berseliweran terbang ke sana kemari semakin membuat pemandangan menjadi lebih sempurna


'ah, sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini'


setelah selesai sarapan dan sepedaan, Gus hafidz membawa ku ke sebuah tempat dimana penuh dengan kolam ikan.


di sana ada dua orang anak kecil, dan seorang laki-laki dan perempuan yang sepertinya mereka adalah orangtua dari kedua anak itu


"mang, hafidz boleh yah ikut bantuin ngambil ikan di kolam"


"eleuh, jangan atuh. kotor, bau lagi lumpur nya"


"enggak ko malah hafidz seneng, istri hafidz juga suka kata nya menangkap ikan di lumpur"


"mereka siapa bang?"


"yuk Abang kenalin kamu sama mereka"


aku pun di kenalkan oleh Gus hafidz pada mereka yang tak lain adalah adik dan Adik ipar nya BI Nani. yang mana mereka di sini juga bekerja untuk menjaga ladang dan kolam ikan milik orangtua Gus hafidz.


pantas aja Gus hafidz sudah tau dengan baik jalanan di daerah sini.


tapi aku senang, disini aku bisa menjadi diri ku sendiri.


menangkap ikan di kolam sambil bermain lumpur dengan Gus hafidz, berjalan menyusuri sawah sambil mencari Tutut (hewan yang ada di sawah, yang bisa di masak), main sepeda, bakar ikan, berkebun, dan banyak lagi kegiatan yang kami habiskan seharian ini.


aku sangat bahagia, walaupun melelahkan tapi ini sangat menyenangkan. dan ini berkat suami ku.


satu lagi yang aku ketahui dari Gus hafidz. yaitu sifat nya yang sederhana dan tidak merasa gengsi. walaupun dia terlahir dari keluarga yang cukup berada, tali itu tidak menjadikan nya sombong dan tinggi hati.

__ADS_1


__ADS_2