
AUTHOR
"kamu sedang apa sayang? lama banget ambil spidol nya"
nurain buru-buru menutup buku Bercadar itu dan langsung memasukkan nya ke dalam laci meja.
Gus hafidz hanya tersenyum melihat tingkah istri nya, karna sedari tadi sebenarnya dia sudah melihat apa yang di lakukan oleh nurain selama beberapa saat di dalam ruangan nya.
"enggak bang, nur hanya lupa nyimpen spidol nya. jadi agak lama nyari nya"
benar, nurain tidak ingin suami nya tahu jika ia diam-diam membuka dan membaca buku milik dokter Aisyah.
nurain belum siap untuk bercerita pada suami nya, dia ingin benar-benar merenungkan semua nya sendiri dulu, agar tidak salah dalam mengambil sikap.
bahkan jika harus berdamai dengan Aisyah, nurain ingin terlebih dahulu berdamai dengan hati nya agar dia bisa sepenuhnya menerima semua keadaan dalam hidup nya.
~~
di tempat lain, Aisyah sedang sibuk mencari buku nya yang hilang namun sepertinya dia baru menyadarinya.
ia sibuk mencari buku itu di setiap sudut kamar nya, namun masih belum bisa menemukannya.
'kemana buku itu? apa di klintren? atau di rumah ibu? atau di rumah Nilam? atau,,,'
"atau di sini!!!"
tiba-tiba sebuah pelukan dari belakang tubuhnya berhasil menghentikan kegiatan nya yang sibuk membuka setiap laci lemari kamar nya.
"kakak,,"
Aisyah menyentuh tangan kekar itu tanpa melihat ke arah sang pemilik tangan.
"kamu lagi sibuk nyari apa sih,,, sampe seisi kamar di berantakin semua"
tanya Alfan masih dengan posisi nya memeluk Aisyah.
"bukan apa-apa, hanya buku"
"oh,,, kirain nyari hati kakak"
"ihh,, apa sih gak jelas banget. lagian ngapain Aisyah nyari hati kakak yang jelas-jelas udah tahu letak nya di mana"
"pinter banget sih istri kakak"
"iya dong,,, tapi ngomong-ngomong boleh dilepas dulu pelukannya?"
Alfan hanya menggeleng dan semakin erat memeluk istri nya
"kak,,,"
"sebentar lagi,,, kakak hanya rindu dengan istri kakak. jadi tolong jangan diganggu dulu yah"
sedikit guyonan, namun mampu membuat Aisyah tersipu dengan semua sikap romantis suami nya.
sesederhana itu kebahagian seorang perempuan. bukan hanya dengan kemewahan, namun sedikit sikap romantis dan pengertian dari seorang suami justru lebih membuat berarti dan berharga.
itu yang kini Aisyah rasakan, meski Alfan belum bisa memberikan kehidupan yang mewah, seperti yang selalu diberikan orangtuanya karna bisnisnya yang sedang goyah, namun Aisyah selalu bersyukur dan bahagia dengan semua sikap baik dan perhatian yang diberikan suami nya untuk dirinya.
"kita jadi kan makan di luar?"
__ADS_1
tanya Alfan setelah melepaskan pelukan nya pada Aisyah
"emang kita ada rencana makan di luar gitu?"
Aisyah balik bertanya
"ada"
jawab Alfan langsung
"kapan? ko aisy gak ingat"
"barusan"
"dihhh,,, kirain"
"hahaha,,, kamu kalau labi bingung gitu muka nya lucu tahu, jadi pengen gigit kakak jadi nya"
dengan jahil nya Alfan mencubit gemas pipi Aisyah yang lembut dan putih bersih.
"apa sih kakak, sakit tahu"
"aduh,,, kekencangan yah kakak pegang pipi nya. kalau gitu biar gak sakit kakak,,,, muach"
pipi Aisyah langsung merah merona saat Alfan dengan spontan mencium pipi nya. karna bagi nya hal itu masih belum biasa, walaupun mereka sudah menikah hampir empat bulan. karna Alfan selalu sibuk bulak balik ke luar negri untuk mengurus semua usaha nya agar bisa kembali seperti dulu.
sedangkan Aisyah, masih belum bisa menemani Alfan ke sana kemari karna memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggal juga.
"kamu kenapa melamun? ada yang dipikirkan?"
tanya Alfan saat mereka sudah sampai di sebuah restoran dan sedang menunggu pesanan mereka datang.
"pasti ini tentang Naura yah? apa perlu kakak yang bicara pada istri nya hafidz? agar de aisy bisa kembali dekat dengan putri mereka"
"enggak perlu KA, lagian aisy juga bukan siapa-siapa bagi mereka kan"
"tapi kan, bagaimana pun kamu adalah ibu asuh nya Naura. bahkan kamu juga menyayangi dia seperti putri kamu sendiri kan"
"iya, tapi hanya ibu asuh tidak lebih"
ada sedikit getaran dari suara lembut Aisyah, yang mana itu menandakan bahwa Aisyah benar-benar merasakan kerinduan teramat dalam pada Naura, putri nurain.
"ya sudah sekarang kita makan dulu yah sayang, nanti kita bahas lagi soal itu"
Alfan pun memilih untuk tidak berkomentar lagi tentang pembahasan yang menyangkut Naura. karna ia tahu jika istri nya begitu merindukan sosok putri mungil yang selalu di ceritakan nya dengan begitu antusias dan bahagia.
Aisyah selalu berkata, betapa lucu dan cantik nya putri hafidz. apalagi saat Aisyah mengajarkan untuk memanggil nya Tante, namun Naura malah memanggil nya dengan sebutan mama. sungguh itu sangat membuat Aisyah bahagia, sampai-sampai dia berulang kali menceritakan itu pada Alfan.
tapi kini cerita-cerita tentang kelucuan Naura seolah hilang dari bibir Aisyah, dan Alfan mengerti dengan keadaan yang terjadi sekarang.
~~
menjelang sore Alfan dan Aisyah tengah bersiap untuk meninggalkan restoran. namun saat hendak keluar, tanpa di sengaja mereka berpapasan dengan hafidz, nurain dan juga Naura.
untuk beberapa saat hanya ada keterdiaman diantara mereka, entah apa yang tengah ada dalam pikiran mereka masing-masing. sehingga tak ada satu pun diantara mereka yang memulai untuk mengeluarkan suara.
"Mama aisy"
suara Naura kecil akhirnya membuat empat orang dewasa itu tersadar dari kebisuan mereka.
__ADS_1
"assalamualaikum Naura cantik"
Alfan yang lebih dulu mencoba untuk mencairkan suasana yang sedikit canggung itu.
"om siapa?"
tanya Naura polos
Alfan pun membungkukkan tubuh nya agar bisa berjajar dengan tubuh mungil Naura.
sedangkan Aisyah, nurain, dan hafidz hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing.
"pasti Naura udah lupa yah sama om Alfan, karna jarang bertemu. gak papa, nanti kita juga akan sering ketemu insyaallah bahkan mungkin om Alfan akan ajak Naura main lagi seperti dulu"
nurain langsung mengalihkan pandangan nya pada Alfan kemudian pada Aisyah.
entah apa maksud Alfan berkata seperti itu pada Naura. tapi yang jelas, nurain merasa sedikit tersindir dengan perkataannya Alfan.
"bagaiman kabar nya hafidz? saya senang akhirnya kalian bisa berkumpul dengan seutuh nya"
"Alhamdulillah berkat do'a dari semua, istri saya bisa sembuh dan kembali berkumpul dengan keluarga besar kami"
"Alhamdulillah, saya ikut senang melihat nya. eum,, kalau begitu kami duluan yah, karna kebetulan kami sudah selesai makan"
"iya pak Alfan, silahkan"
"assalamualaikum"
saat aisyah dan Alfan hendak keluar, naura memanggil kembali nama Aisyah.
anak kecil itu, seolah merasakan kerinduan yang sama dengan ibu asuh nya.
"mama aisy,,, naula KA,,,"
"sayang umi, kita masuk yuk. kata nya tadi sudah lapar"
tanpa melihat ke arah Aisyah, nurain langsung menggendong tubuh putri nya dan berjalan meninggalkan Aisyah yang masih memandang Naura dengan butir air mata yang mulai terjatuh. tentu nya Alfan melihat semua itu.
"tunggu, bukan kah seorang muslimah yang baik itu adalah dia yang senang menebar senyum dan bertutur sapa dengan muslimah lain nya? apalagi jika mereka saling mengenal satu sama lain"
"maksud anda?"
tanya nurain dengan sedikit sinis.
"anda pasti lebih faham apa maksud saya"
dengan cepat Aisyah menyentuh lengan Alfan agar tidak membuat suasana menjadi lebih canggung, dan Alfan paham itu.
"maaf pak Alfan, sebaiknya anda tidak perlu berlebihan seperti itu. dan saya mohon untuk anda bisa memahami keadaanya. istri saya tidak bermaksud kurang sopan, hanya saja,,"
"yah,,, kami mengerti hafidz. mohon maaf jika kata-kata saya sedikit menyinggung anda dan istri anda"
setelah sedikit berbicara antara hafidz dan Alfan, mereka pun kembali pada aktivitas mereka masing-masing.
Alfan dan Aisyah yang sudah lebih dulu pulang, sedangkan nurain dan hafid, kembali melanjutkan niat mereka untuk makan di restoran itu.
namun bagaimana pun, dengan kejadian barusan, membuat suasana sedikit berubah. Naura yang tadi nya begitu antusias makan diluar bersama umi dan Abi nya, kini anak kecil itu seolah kehilangan selera dan semangat ny untuk makan.
bahkan nurain dan hafidz mencoba menghibur dan membujuk putri mereka agar kembali ceria seperti saat berangkat dari rumah tadi.
__ADS_1
tapi bagaimana pun, Naura hanyalah anak kecil yang belum bisa memahami keadaan orang dewasa. yang dia tahu, dia hanya rindu pada ibu asuh nya, dia ingin kembali bermain dan bercerita seperti dulu.