
"Alhamdulillah semua hasil periksaan baik, semua otot tubuh nya sudah benar-benar kembali berfungsi, selamat yah nona nurain atas kesembuhan nya. saya ikut bahagia dan mendo'akan agar nona dan keluarga selalu dalam keadaan sehat wal'afiyat"
kata dokter yang selama ini membantu ku dalam pengobatan dan terapi tubuh ku yang belum benar-benar sembuh secara keseluruhan.
tanpa ku duga Gus hafidz langsung melakukan sujud syukur mendengar apa yang dokter Zira katakan.
bahkan tanpa malu dia memeluk dan menciumi ku berulang kali serta mengucapkan terimakasih berkali-kali pada dokter Zira.
"ini pertama kali nya saya melihat seorang suami yang begitu mencintai istri nya, tidak sedikit pasangan yang meninggalkan pasangannya dengan berbagai macam alasan, apalagi jika pasangan nya itu mengalami koma selama bertahun-tahun. sungguh saya sangat salut dengan kesetiaan pak hafidz pada nona nurain. saya do'akan kalian selalu bahagia dan di karuniai banyak anak"
dokter Zira melontarkan pujian itu pada suamiku dan itu memang pantas ia dapatkan, karna aku sendiri pun mengira jika Gus hafidz sudah berpaling dari ku saat aku terbangun di rumah ayah, tapi ternyata aku salah. dia masih setia menunggu ku.
"jadi besok kita? sudah bisa ke Bandung kan?"
tanya ku saat kami sudah berada dalam mobil untuk kembali pulang ke rumah ayah.
"kayanya istri Abang udah gak sabar mau pulang"
"iya, nur udah kangen banget sama umma, Babah,Ning Farah, bibi dan Gus Lutfi pasti nya."
"iya sayang kita akan ke Bandung tapi lusa yah, karna kan kita harus pesan tiket dan persiapan lain nya, terutama tubuh kamu harus benar-benar fit"
"iya deh, nur ikut apa kata suami aja"
setelah sampai rumah kami langsung masuk karna pintu depan juga sedang terbuka.
"assalamualaikum"
kami masuk ke dalam mencari ayah dan Naura, tapi sepertinya tidak ada di dalam rumah.
"masyaallah ternyata kalian di sini"
kata ku saat melihat ayah dan Naura sedang berada di kamar ayah, tapi,,,
"ayah ko berkemas? memang nya ayah mau kemana?"
tanya ku penasaran
"kata Abah Tsani kita mau pindah umi"
Naura yang menjawab dengan suara cadel nya sambil beralih ke pangkuanku sedangkan ayah hanya tersenyum sambil melipat pakaian yang akan di masukan ke dalam koper milik beliau.
"gimana yah udah siap?"
tanya Gus hafidz yang baru datang dari balik pintu.
"memang nya mau kemana bang?"
tanya ku penasaran, karna memang sebelumnya Gus hafidz tidak memberitahu kan apa-apa pada ku.
"Abang hanya mau ngajak kamu, ayah dan Naura makan-makan diluar sebelum lusa kita ke Bandung"
__ADS_1
"dengan membawa baju satu koper?"
tanya ku melihat ayah dan Gus hafidz bergantian.
"enggak lah sayang, ini bukan untuk di bawa sekarang tapi untuk nanti kita sama-sama ke Bandung"
"loh? memang nya ayah ambil cuti?"
"nanti saja yah di bahas nya sayang setelah kita kembali dari bersenang-senang. sekarang kita berangkat keburu sore"
Gus hafidz menarik tangan ku lembut, pun aku menarik tangan mungil putri ku yang sudah turun dari pangkuan ku.
"kita mau piknik Abi?"
tanya Naura girang
"iya sayang"
ayah yang menjawab sambil menggendong Naura dari belakang. yah semenjak Naura ke sini, ayah selalu mengajak nya bermain karna merasa merasa begitu merindukan cucu nya.
ayah selalu berkata jika ayah ingin mengganti waktu-waktu yang sudah terlewatkan tanpa melihat tumbuh kembang nya Naura. dan Alhamdulillah Naura pun begitu mudah untuk bisa dekat dengan ayah.
~
"gimana sayang udah siap semua nya?"
tanya Gus hafidz saat aku sedang menyiapkan pakaian dan keperluan lain nya untuk keberangkatan siang ini ke Bandung.
tadi nya aku mau packing pas malam tapi suami ku melarang nya karna takut aku kecapean. apalagi kami pulang cukup malam dari bepergian tamasya kemarin.
kata ku sambil melihat kembali semua barang yang sudah aku kumpulkan dalam satu koper
"ya sudah kamu jangan terlalu capek, biar Abang yang lanjutkan beres-beres nya"
"Naura mana bang?"
"sama ayah ke warung depan, kata nya mau beli ice-cream karna sudah satu Minggu lebih dia gak makan ice-cream jadi nya nagih deh"
benar, Naura terbiasa diajarkan untuk disiplin begitu pun dengan asupan makanannya. aku semakin kagum pada suami ku, karna dia bisa mengurus dan mendidik putri kami dengan sangat baik, bahkan di saat aku tidak ada di samping nya. pasti ini sangat sulit bagi nya.
"umi,,,, Abi,,, liat Naura beli ice-cream banyak. ini buat umi satu, Abi satu, Abah satu"
tiba-tiba Naura masuk dengan membawa kantong kresek yang isi nya pasti ice-cream yang baru di beli nya, kemudian dia mengeluarkan ice-cream itu dan membagikan nya pada kami satu persatu.
"Abah Tsani gak usah di kasih, buat Naura saja yah"
kata ayah kembali memberikan ice-cream nya pada Naura
"kan Naura udah punya satu, jadi ini buat Abah Tsani. lagian Naura gak boleh makan ice-cream banyak-banyak nanti sakit perut"
mendengar perkataan putri ku, aku melihat ke arah suami ku
__ADS_1
"kamu memang ayah yang paling baik"
kata ku dengan suara yang pelan
"dan kamu ibu yang paling baik"
balas nya sambil mencubit hidung ku.
jam 4 sore kami sudah perjalanan menuju pondok, Alhamdulillah perjalan kami lancar jadi tidak terlalu memakan banyak waktu. apalagi jarak antara Surabaya dan bandara Soekarno dapat di tempuh hanya dengan satu jam saja dengan pesawat, hanya dari bandara menuju Bandung yang cukup memakan waktu lama.
rasa nya aku masih tidak percaya, sebentar lagi akan kembali menginjakan kaki ku di pondok tercinta, di rumah suami ku. terlebih rasa rindu ku yang sudah sangat dalam pada umma, Babah, Farah dan semua keluarga yang ada di rumah suami ku.
memasuki gerbang pondok pesantren ku lihat semua santri baik laki maupun perempuan sudah berjajar menyambut kedatangan kami, bahkan mereka membawa tulisan 'ahlan wasahlah yaa ustadzatii'
mata ini berurain air mata saat melihat betapa tulus nya mereka pada ku. Gus hafidz hanya tersenyum pada ku sambil mengelus lembut pipi ku, sedangkan Naura tertidur dipangkuan ayah.
mobil di parkiran oleh ustadz Ilham yang tadi menjemput kami di bandara. ku lihat umma, Babah, Ning Farah, Gus Lutfi dan bi Nani sudah berdiri di depan rumah, bahkan asyila, Maryam dan juga ustadz Ahmad ada di sini menyebut kedatangan ku.
ku tatap mereka satu persatu dengan penuh haru stelah sekian tahun tak bisa ku lihat. aku berjalan dengan di gandeng oleh suami ku, dan ayah mengikuti ku dari belakang dengan menggendong Naura.
"masyaallah putri umma,,,hiks"
umma langsung memeluk disertai Isak tangis yang pecah, begitu pun aku yang juga ikut menangis membalas pelukan ibu mertua yang sudah ku anggap ibu ku sendiri.
"maafkan nur yang sudah merepotkan umma dan keluarga,,,,, hiks"
umma hanya menggeleng dan mengelus lembut kepalaku disertai air mata yang terus mengalir.
satu persatu bergantian memeluk ku untuk saling melepas rindu, tak ada yang tidak menangis, bahkan Gus Lutfi yang selalu ku anggap adik kecilku pun ikut menangis haru penuh kebahagiaan, karna rindu yang sudah lama tak bersua kini seolah gugur setelah mendapatkan penawar nya.
setelah saling melepas rindu, kami pun masuk ke dalam dan berkumpul di ruang tengah. rasa nya aku sangat bahagia, bisa kembali berkumpul bersama keluarga Bahakan sahabat ku pun ikut hadir di sini.
"loh putri Abi malah bangun?"
kata suami ku saat melihat Ning Farah sedang menggendong Naura dari arah kamar.
"iya bang, tadi pas mau di tidurin di atas tempat tidur eh malah bangun, kata nya laper"
sontak kami semua tertawa mendengar apa yang dikatakan Ning Farah tentang alasan kenapa Naura bisa bangun dari tidurnya.
"sini umi gendong, kamu lapar yah nak"
aku mengambil Naura dari gendongan Ning Farah
"assalamualaikum"
ku dengar seseorang yang tak asing masuk sambil mengucap salam.
"mamah,,,,"
dengan spontan Naura turun dan melepaskan gendonganku, dia berlari menuju seorang perempuan bercadar yang baru datang.
__ADS_1
aku hanya diam terpaku melihat Naura berlari menuju dokter Aisyah dan langsung memeluk nya sambil terus mencium nya, seperti seorang putri yang begitu merindukan ibu nya. dan dia memanggil nya dengan sebutan 'mamah'??
ya Allah, apa Gus hafidz dan dokter Aisyah,,,,