Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Dilematis


__ADS_3

mendengar pengakuan dari Maryam tentang kenapa surat itu bisa ada dalam lemariku, membuatku sangat terkejut ternyata Maryam yang menyimpannya kembali. aku bingung dan semakin bingung harus bagaimana. karna jujur aku kaget sekaligus marah, marah pada diriku yang teledor, marah pada keadaan, kenapa harus disaat aku sedang menghadapi ujian sekolah masalah ini hadir. aku memilih untuk menenangkan diriku sendiri agar bisa berpikir jernih walaupun Maryam menangis dan meminta maaf, namun aku hanya diam dan memilih meninggalkan nya sendirian di musholla. Afwan Iam ana butuh waktu sendiri, ana butuh waktu untuk memahami ini, dan mencoba mengambil hikmah nya nanti dari kejadian ini.


malam tiba, kami yang dua belas orang kemarin dipanggil ke mahkamah amni, kembali dipanggil oleh ustadzah untuk menghadap ibu pengasuh dirumah nya. hati ku kembali takut dan gemetar, apa yang harus ku jawab nanti di hadapan beliau. apakah aku harus menjawab nya dengan jujur atau aku hanya diam tanpa membantah atau pun membenarkan nya. yaa Allah,, aku sungguh dilematis.


"nur,, sekarang anti mau ke rumah ibu ya? mudah-mudahan hukumannya gak berat ya, dan ana juga berharap anti gak bersalah walaupun ana belum tahu kesalahan apa yang membuat anti dipanggil oleh bagian keamanan" Widia mendekatiku saat aku tengah duduk sendiri di depan lemariku, aku hanya menjawab nya dengan sedikit senyum dan anggukan.


namun yang jadi pusat perhatian ku adalah asyila, dia tak ada sedikitpun menyapa atau bicara padaku hari ini. bahkan sekarang pun ku perhatikan dia seperti asik dengan buku ditangannya. entah lah apa yang membuatnya menjadi seperti itu. tapi apapun itu, mungkin untuk saat ini aku harus lebih pokus pada diri ku sendiri.


"Wid,,, ana ke rumah pengasuh dulu ya, Syukron buat support nya"


"iya nur, sabar ya"


aku pun langsung ke luar tanpa pamit pada asyila karna takut mengganggu konsentrasi nya.


di rumah pengasuh, kami yang dua belas orang sudah lengkap berkumpul, tinggal menunggu para ustadzah dan ibu pengasuh. lagi,,, hati ini gemetar dan takut jika nanti sudah berhadapan langsung dengan ibu pengasuh.


"nur,, anti sakit?" Selly, bertanya sambil meletakan telapak tangannya di keningku


"eh,,enggak sel ana gak sakit ko"

__ADS_1


"tapi wajah anti merah, seperti nya anti juga agak demam"


"enggak,, ana gak sakit beneran" sanggahku lagi, karna aku memang merasa baik-baik saja hanya hati ku yang sedang kurang baik.


ibu pengasuh datang di sertai para ustadzah yang membuntut dibelakang beliau. kami semua bergantian bersalaman kepada beliau, termasuk aku. namun aku terus menunduk tanpa bisa melihat wajah beliau meski hanya sekilas. karna aku belum sanggup, aku terlalu malu dan aku juga takut ada kekecewaan pada beliau terhadapku.


"assalamualaikum wr wb" sapa beliau pada kami


"waalaikumsalam wr wb" jawab kami serentak


"gimana kabar kalian semua,,, sehat?" tanya beliau membuka pembicaraan


"Alhamdulillah kalo pada sehat semua" kata nya lagi disertai dengan senyum yang begitu lembut. yah,,, itu lah beliau, ibu pengasuh kami ibu pengasuh tercinta kami. yang selalu tersenyum lembut kepada para santri nya tanpa pandang bulu dan dalam keadaan apa pun.


"kalian tahu, kenapa kalian dipanggil ke sini?" tanya beliau kembali, kami semua hanya bisa menunduk malu tanpa menjawab pertanyaan beliau.


"coba ibu mau dengar langsung pengakuan dari kalian masing-masing, dan tentu nya atas kesadaran dari diri kalian" kemudian beliau terdiam dan menatap kami satu persatu. tiba-tiba Selly mengacung kan tangan, dia mulai bicara dengan nada yang gemetar seakan berusaha menahan bulir air mata nya agar tidak keluar.


"ibu,, selly salah, Selly mau minta maaf karna sudah melanggar peraturan pondok. Selly udah,,,,berbalas risalah dengan,,, dengan salah satu santri putra disini,,, sekali lagi Selly minta maaf karna belum bisa menjadi santri ibu yang baik,,, Selly maaf karna sudah mengecewakan ibu" Selly mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada ibu pengasuh secara langsung, yang kemudian disusul oleh yang lainnya. mereka satu persatu mengakui kesalahannya dan meminta maaf secara langsung kepada ibu pengasuh.

__ADS_1


kini tinggal aku yang hanya diam mematung tanpa kata, aku berusaha menahan air mataku agar tidak keluar dari sudut mata ini. aku tahu ibu pengasuh dan para ustadzah sedang menunggu pengakuan atas kesalahanku dari mulutku secara langsung, tapi aku bisa apa? aku harus mengatakan apa? aku tidak mungkin berbohong atau pun mengatakan kebenaran nya dihadapan para ustadzah, teman dan adik kelasku.


"nur,,, sebagai mana yang lainnya sudah mengakui kesalahan mereka dengan kesadarannya. apa ibu juga boleh tahu palanggaran apa yang sudah nur lakukan?" kini semua mata tertuju pada ku, menantikan jawaban dan pengakuan ku secara langsung. aku diam mencoba mencari kata yang tepat agar tidak salah bicara. tapi sulit, aku bingung harus jawab apa. ya Allah,,,


"nur,, ibu bertanya pada anti. ustadzah mohon agar anti menjawab dengan sejujur-jujur nya" kini ustadzah Faridah yang berkata mencoba membujukku untuk bicara


"nur, dari kemarin malam ustadzah menanyakan hal yang sama tapi anti tidak bicara sama sekali, anti hanya diam dan menangis. kita semua menantikan kejujuran dari anti, bukan hanya tangisan" ustadzah Mila pun ikut berbicara


"ibu dari kemarin malam, nurain tidak mau bicara. dia tidak mengakui ataupun membantahnya, jadi kami berlima bingung dengan siapa dia sudah melakukan pelanggaran itu, padahal kami sudah menemukan bukti nya tapi nurain sama sekali tidak mau mengaku" kini ustadzah Nia yang bicara pada ibu pengasuh menjelaskan tentang aku yang tidak mau bicara dan mengakui kesalahanku walaupun dari malam kemarin para ustadzah sudah mendesak ku.


aku masih menunduk dalam diam ku, biarlah mereka yang ada disini mau menilaiku seperti apa, yang jelas aku sudah memutuskan bahwa aku tidak akan bicara tentang dari siapa surat itu aku terima, di hadapan para ustadzah dan teman-temanku.


"nur,, coba lihat ibu" kata beliau dengan lemah lembut


DEG


hati ku semakin gelisah, mata ku sudah tak bisa diajak kerjasama lagi. air mata itu sudah tidak bisa aku untuk ku bendung. aku menangis di hadapan beliau, aku malu, aku takut, aku bingung,,,


"nur,, ibu tidak akan marah sama nur atau pun dengan yang lainnya. asal nur mau bicara dan mengakui dengan sejujur-jujurnya atas pelanggaran yang sudah nur lakukan dipondok ini" ibu pengasuh, kini mencoba membujukku agar aku mau buka suara, tapi lagi kata-kata ini seolah tersekat di tenggorokanku, aku tidak bisa mengatakannya kepada beliau. aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dengan air mata yang terus ku usap dengan tangan ku agar tidak terus-menerus keluar. maaf ibu,, nur sudah buat ibu kecewa

__ADS_1


__ADS_2