Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
kekanak-kanakan


__ADS_3

apa aku terlalu egois jika untuk sekarang tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari suamiku ataupun dokter Aisyah?


entah kenapa hati ku sakit sekali saat mendengar putri ku memanggil perempuan lain dengan sebutan 'mama', apalagi tadi aku lihat Naura sepertinya begitu dekat dan menyayangi dokter Aisyah melebihi siapapun.


apa selama aku koma dokter Aisyah yang merawat putri ku? tapi kenapa harus dokter Aisyah? kenapa bukan umma atau Ning Farah saja? kenapa harus orang lain?


atau memang keluarga ini mengharapkan dokter Aisyah menjadi pengganti ku karna aku yang tak kunjung sadar dari koma ku? lalu Gus hafidz, kenapa dia juga membiarkan dokter Aisyah yang merawat Naura? apa dia juga menyangka jika aku tidak akan bangun lagi dari koma ku? sehingga suami ku sendiri pun seolah sudah menyiapkan ibu pengganti untuk putri kami?


aaahhh,,,, semua pertanyaan dan prasangka itu berkumpul di kepala ku seolah ingin menguasai hati ku yang saat ini sedang emosi.


tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar.


"de,,, ayah boleh masuk?"


kata ayah dari balik pintu kamarku yang sedikit terbuka. aku hanya mengangguk pelan sambil melihat ke arah ayah yang berdiam di ambang pintu.


"ayah boleh duduk dekat kamu?"


sekali lagi ku angguk kan kepala ku sebagai jawaban dari pertanyaan ayah.


"gimana? sekarang udah tenang hati nya?"


kata ayah sambil duduk di samping ku dan merangkul pundak ku penuh kasih sayang.


"Ade,,, dulu kalau ayah sedang bersedih karna suatu hal, ibu selalu bilang sama ayah, kalau ujian terberat dalam hidup ini sebenarnya timbul dari dalam tubuh kita sendiri yaitu hati. kenapa hati? karna hanya hati yang bisa merasakan bahagia, menangis, tertawa dan kadang putus asa. tapi Allah tidak hanya menciptakan hati sebagai tempat penampung semua perasaan, Allah juga menciptakan akal yang mana fungsi nya sebagai pengendali untuk hati kita jika ternyata hati kita salah menduga atau terlalu jauh berprasangka"


aku menatap ayah dengan sedikit bingung, karna belum bisa mencerna maksud dari apa yang dikatakan ayah barusan.


"pak Kiai sudah menjelaskan semua nya pada ayah. beliau bilang waktu Naura yang masih bayi menangis dan tidak mau meminum susu formula, semua panik karna putri mu tak berhenti menangis, tak ada yang bisa menenangkan nya, termasuk hafidz suami mu. tapi setelah Aisyah yang menggendong bayi mungil itu, dengan mudah nya bayi itu terdiam dan Bahakan hingga tertidur pulas dalam dekapan nya. mungkin bayi itu merindukan dekapan seorang ibu, dan itu ia dapatkan dari Aisyah, tentu nya setelah kamu sebagai ibu kandung nya. kita tidak pernah tahu bagaimana insting seorang bayi ketika dia mencari kenyamanan dari seseorang yang menurutnya memiliki naluri keibuan, walaupun kita juga pernah menjadi bayi tapi kita tidak ingat semua itu bukan? berkali-kali nak hafidz melarang bahkan mengusir Aisyah agar tidak ikut serta merawat dan mengasuh Naura, karna menurut nya dengan kehadiran Aisyah hafidz takut jika kamu tersadar akan terluka kembali bila melihat Aisyah yang merawat anak mu,,,"

__ADS_1


"tapi kenapa harus memanggil dokter Aisyah dengan sebutan mama yah? apa tidak bisa memanggil nya dengan sebutan Tante atau yang lain nya"


kata ku memotong perkataan ayah


"yah,,, ayah juga berfikir sama sayang. tapi panggilan itu keluar dari mulut Naura sendiri, berulang kali Aisyah mengajarkan Naura agar memanggil nya Tante, tapi Naura yang baru belajar bicara itu terus memanggil nya dengan sebutan mama bahkan hingga saat ini. dari situ ayah berfikir, mungkin kasih sayang Aisyah pada Naura sama besarnya seperti kamu menyayangi putri mu. sayang, anak kecil itu sama seperti malaikat, masih suci dan polos jadi mereka bisa merasakan mana yang tulus mencintai mereka dan mana yang tidak. yang penting posisi mu tidak digantikan oleh orang lain, kamu masih ibu kandung nya, masih istri dari Gus hafidz athary dan itu tidak akan pernah berubah. anggaplah kehadiran Aisyah waktu itu sebagai wasilah untuk putri mu mendapatkan kasih sayang seorang ibu untuk sementara selama kamu koma. yang penting Naura tahu siapa ibu kandung nya, bahkan saat pertama kali dia bertemu dengan mu dia langsung tahu bahwa kamu lah ibu nya. dan ayah yakin, Naura tahu semua itu dari Aisyah. jadi menurut ayah tidak ada maksud sedikitpun untuk Aisyah memisahkan kamu dengan Naura. kamu paham kan maksud ayah? saat ini lah hati mu diuji nak. ingat jangan hanya menggunakan hati tapi gunakan kan lah akal mu juga, agar kamu bisa menilai semua nya dengan bijak"


ayah mengelus kepala ku dengan lembut


"ya sudah, sekarang sudah malam kamu istirahat yah. ayah juga mau istirahat, capek habis perjalanan tadi kan"


kemudian ayah beranjak setelah mencium kening ku.


"oh iya satu lagi, jangan marah sama suami kamu yah apalagi sampai mendiamkan nya. kasian, dia sudah setia menunggu mu selama beberapa tahun ini yah"


kata ayah sambil membalikkan badan nya melihat ke arah ku, aku hanya mengangguk. dan ayah kembali melanjutkan langkah nya meninggalkan kamar ku.


"apa Abang boleh masuk?"


tanya Gus hafidz sambil membuka pintu kamar, aku hanya melihat ke arah nya sekilas tanpa memberikan jawaban. karna jujur, aku masih kesal sama suami ku. kenapa waktu di Surabaya dia tidak bercerita tentang dokter Aisyah yang begitu dekat dengan Naura.


"kamu masih marah yah sama Abang?"


tanya nya lagi setelah dia duduk di tepi ranjang


aku masih enggan berbicara dengan nya, jadi ku fokuskan pada aktivitas ku untuk mengambil baju ganti di dalam lemari. setelah mengambil nya, aku langsung ke kamar mandi untuk mengganti pakaian ku yang seharian ini belum ku ganti.


"kenapa harus ke kamar mandi ganti baju nya? biasa nya kamu selalu mengganti pakaian di sini sekali pun sedang ada Abang"


aku terdiam beberapa saat, namun aku memutuskan untuk mengganti pakaian di dalam kamar mandi saja.

__ADS_1


sebenarnya aku tidak enak melakukan ini, atau lebih tepat nya tidak tega. karna mungkin Gus hafidz mempunyai hajat padaku, karna semenjak aku sadar dari koma ku, Gus hafidz belum pernah lagi menyentuhku dengan alasan takut tubuh ku belum benar-benar sembuh. padahal aku tahu, dia mencoba sekuat tenaga menahan keinginannya.


tapi jika malam ini aku harus melayani nya sebagai seorang istri, rasa nya tidak nyaman jika hati ku pun masih belum benar-benar kembali tenang.


setelah selesai mengganti baju, aku kembali keluar dan langsung mendaratkan tubuhku di atas ranjang. dan pasti nya dengan membelakangi tubuh suami ku.


aku tahu ini sangat salah, tapi aku hanya lah manusia biasa yang terkadang belum bisa mengontrol emosi ku ketika marah.


"hmm,,, masa iya Abang di kasih punggung"


kata nya, tanpa aku respon sedikit pun.


"sayang,,, kamu beneran udah tidur?"


ku rasakan sentuhan tangan nya melingkar di pinggang ku. dan sesekali menciumi rambut ku seolah ingin memancingku agar memberikan respon atas tingkah nakal nya.


sebenarnya iman ku mulai goyah saat b***r nya menjelajahi l*h*r ku. tapi aku masih sebel pada laki-laki yang berstatus suami ku itu. jadi ku putuskan untuk menutup mataku seolah telah tertidur.


untuk beberapa saat Gus hafidz masih berselancar dengan aksi-aksi sentuhan tangan nya yang nakal dan aku masih kokoh dengan pendirian ku yaitu tidak memberikan respon apapun atas apa yang dilakukan oleh suami ku. hingga kemudian ku rasakan tangan nya mulai berhenti menyentuhku, mungkin dia menyerah.


dan benar saja, saat ku balik kan badan ku menghadap nya. laki-laki yang berbuat nakal itu kini tengah tertidur dengan posisi tangan menyentuh area sen**t*f ku.


aku ingin tertawa melihat nya, karna jujur bagi ku ini lucu. walaupun sebenarnya ini perbuatan yang dilarang dalam agama karna secara tidak langsung aku menolak hajat suami ku.


padahal kalau Gus hafidz meneruskan aktivitas nya, aku akan merespon nya. karna bagaimanapun aku seorang perempuan yang juga mempunyai gairah jika terus menerus dipancing oleh lawan jenis ku.


tapi ya sudah lah, mungkin malam ini bukan waktu nya untuk kami berperan mendapatkan pahala jihad, hehe


'maafkan istri mu yang kekanak-kanakan ini ya suami ku'

__ADS_1


__ADS_2