
POV Aisyah
selesai makan aku kembali ke kamar, kebetulan hari ini tidak ada jadwal praktek jadi aku habiskan waktu di rumah saja. ku buka ponsel ku sembari merebahkan tubuh di atas ranjang berharap ada balasan pesan masuk dari seseorang yang selalu ku tunggu kabar nya. ternyata masih belum ada balasan pesan dari nya, padahal hampir setiap hari aku mengirimi nya pesan via WA tapi masih belum di R juga oleh nya. kesel banget sebenar nya seolah aku ini tidak penting bagi nya. ku lempar pelan ponselku di atas kasur lalu ku tenggelamkan wajah ku ke dalam bantal 'dasar nyebelin kamu fidz' kata ku dalam hati kesal sendiri.
drrrttt
drrrttt
akhirnya dia balas juga WA dari ku, aku langsung mengambil ponsel yang tergeletak tadi, ku buka dengan perasaan penuh harap. ternyata,,,
{assalamualaikum de aish, hari ini kira-kira sibuk tidak ya? kalo enggak, ka Alfan mau minta tolong buat de aish datang ke tempat rumah belajar anak-anak boleh?}
Pesan masuk dari seseorang yang sudah sangat aku kenal. Alfan nama nya, dia adalah kakak senior ku waktu di kampus, propesi nya selain dokter dia juga mendirikan rumah belajar bagi anak yatim-piatu dan pakir miskin. sebenarnya aku kagum kepada nya karna di usia nya yang masih muda dia bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat untuk orang lain, dan itu dia lakukan tanpa pamrih.
semenjak kuliah dia selalu mendekati mu hingga akhirnya kami pun dekat, sebenarnya aku tahu bahwa dia memiliki perasaan yang khusus terhadapku, itu aku ketahui dari sepupu nya yang kebetulan satu kelas denganku pada saat itu. namun aku memilih untuk pura-pura tidak mengetahui nya, karna aku takut, aku justru akan menyakiti nya sebab tidak bisa membalas perasaan nya terhadap ku. karna ruang hati ini sudah dipenuhi oleh dia, oleh hafidz sahabat kecil ku dan guru kecil ku dan itu masih sama hingga saat ini.
{waalaikumsalam wr wb, insyaallah ka nanti aish usahakan. tapi kalo sekiranya Aish tidak bisa hadir biar Yasmin yang menggantikannya}
{iya tidak apa-apa. tapi Kaka harap aish bisa hadir}
aku hanya membaca pesan dari nya tanpa membalas nya, karna jawaban ku tadi ku rasa sudah cukup.
'kamu kemana sih fidz, lagi apa? sebegitu sibuk nya kah sampai belum ada satu pun pesan dari ku yang kamu balas' batinku. rasa nya aku sudah tidak sabar menunggu balasan dari nya, lebih baik aku hubungi langsung siapa tahu dia mau mengangkat telpon ku. bismillah,,,
"assalamualaikum hafidz" kata ku saat telpon yang dari tadi ku sambungkan akhirnya diangkat juga
"waalaikumsalam wr wb" jawabnya singkat
"kaefa haluk?" tanya ku lagi
"Alhamdulillah" jawab nya kembali dengan singkat
__ADS_1
"apa, ana ganggu waktu anta?"
"enggak, kenapa ish telpon ana? ada yang penting?" tanya nya seperti tidak ada kerinduan terhadap ku, entah lah semakin ke sini aku merasa hafidz semakin menjaga jarak dari ku. sekali lagi aku mencoba berbicara seperti biasa kepada nya. sebenarnya ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada nya, tapi aku malu untuk menanyakan nya. aku terdiam beberapa saat, dan akhirnya aku beranikan diri untuk menanyakan nya sekarang, yah walaupun hanya melalui sambungan telpon. ku rasa ini lebih baik agar hafidz juga tidak bisa melihat rona wajah ku yang benar-benar gugup.
"apa anta tidak ada rencana untuk,,,eummm,,, menikah dulu gitu?" tanyaku dengan nada yang benar-benar gugup.
"kalo untuk itu saya belum tahu sih" jawabnya disertai tawa kecil, entah lah apa maksud nya di balik tawa itu mungkin dia menganggap pertanyaan ku lucu atau konyol aku juga tidak tahu, tapi setidaknya dengan tawa itu membuat gugup ku sedikit menghilang. kami larut dalam obrolan biasa saja, tak ada yang istimewa walau pun sebenarnya yang aku harap kan adalah sedikit kode dari nya, bahwa dia menyimpan harapan bersama ku. tapi sepertinya aku harus lebih sabar untuk menunggu nya.
~
di rumah belajar, aku mencoba fokus pada anak-anak yang kini ada di depan ku.
"ka aish,,, kira-kira bagus nya warna buat langit nya biru cerah apa biru mendung ya" tanya salsa, salah seorang anak yang ikut belajar di rumah belajar.
"kira-kira tema yang mau salsa buat apa? suasana ceria atau hujan atau apa?" tanya ku balik pada salsa
"eumm,, apa ya" salsa menggaruk kepala nya seolah sedang bingung dengan apa yang di gambar nya
"ah iya mending itu aja ya, makasih ka Alfan" salsa pun tersenyum senang sambil kembali ke tempat duduk nya
"Kakak kira aish gak bakalan Dateng, tahu nya udah duluan aja dari kakak" kata nya sambil tersenyum ramah kepada ku
"iya ka, kebetulan aish lagi gak sibuk aja hari ini" jawab ku apa ada nya, sebenarnya sih selain tidak sibuk aku memang sengaja lebih awal ke sini sekedar untuk membuat hati ku lebih tenang saja, karna pembicaraan ku dan hafidz tadi tidak mendapatkan jawaban apapun yang aku inginkan.
"aish, bisa Kaka bicara sebentar sama aish? tapi tidak di sini nanti setelah belajar anak-anak selesai kalo boleh Kaka ingin mengajak aish ke suatu tempat"
"ke mana ka? maaf sebelum nya bukan aish menolak hanya saja,,," aku menggantung perkataan ku karna takut akan menyinggung nya
"iya Kaka paham, kakak hanya mau ajak aish makan ko di tempat terbuka dan pasti nya banyak orang lalu lalang" kata nya selah mengerti ketakutan ku yang akan menimbulkan fitnah jika harus mengobrol di tempat yang sepi
"tapi aish bawa mobil sendiri ya"
__ADS_1
"iya, aish bawa mobil aish dan Kakak bawa mobil kakak jadi kita tidak akan berkholwat didalam mobil"
"baik ka, nanti biar aish ngikutin mobil kakak dari belakang"
ka Alfan hanya tersenyum mengangguk sebagai jawaban setuju atas permintaanku.
~
di sebuah resto aku dan ka Alfan duduk dengan saling menjaga jarak. kami memesan minuman dan sedikit cemilan untuk mengisi perut kami yang tidak terlalu lapar.
sebenarnya aku tidak nyaman duduk disini dengan seseorang yang bukan mahram ku, bahkan dengan hafidz pun jika pergi makan keluar kami selalu rame-rame tak pernah berdua kecuali jika kami sedang di rumah itu pun masih di saksikan oleh keluarga kami. tapi apa daya, aku tidak enak jika terus menolak ajakan ka Alfan, karna sebenarnya ajakan ini adalah untuk kesekian kali nya terhadapku jadi aku merasa tidak enak jika harus menolak nya kembali.
"aish,, terimakasih karna sudah mau menerima ajakan kakak kali ini" kata nya sambil memandang ku dengan tatapan yang aku tahu makna di balik nya.
yah,,, tatapan itu adalah tatapan cinta, tatapan penuh harap namun sekali lagi aku tidak bisa membalas tatapan itu, yang ku lakukan hanya bisa memalingkan wajah ku dari nya. Alhamdulillah aku mengenakan cadar sehingga tidak terlalu kontras jika aku berusaha menghindari tatapan nya terhadap ku.
"iya ka sama-sama. kalo boleh tahu apa yang mau kakak bicarakan pada aish?" tanya ku to the point agar tidak terlalu berlama-lama berdua walaupun di tempat terbuka, tapi aku merasa tidak nyaman.
"aish,,, sebenarnya,,, kakak mau memberikan ini kepada aish" dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru gelap dari saku jas nya.
"apa ini ka?" tanya ku dengan nada polos
"kamu buka saja dulu" ka Alfan meletakkan kotak kecil itu di depan ku. dengan ragu aku mengambil kotak itu, dengan perlahan aku membuka nya dan,,, sebuah cincin bermata putih tersimpan cantik di dalam kotak itu. tak bisa ku pungkiri aku terpesona dengan keindahan cincin itu tapi,,, apa maksud nya ka Alfan dengan memperlihatkan cincin ini kepada ku. aku mengalihkan pandangan ku pada ka Alfan meminta jawaban tentang maksud dari semua ini.
tanpa aba-aba ka Alfan berdiri dari duduk nya kemudian bersimpuh tepat dihadapan ku.
"aish,,, butuh waktu yang lama untuk ku mengumpulkan keberanian hingga hari ini, aku bukan lelaki sempurna yang bisa menjanjikan banyak kesempurnaan atas hidup mu, tapi disini aku mengumpulkan keberanian untuk mengatakan bahwa aku berjanji untuk selalu menjaga mu karna Nya, membuatmu tersenyum di setiap waktu bersama ku, dan yang pasti aku akan selalu berusaha untuk kita selalu bisa melangkah bersama berdampingan dalam mencari ridho Nya.
aish,,, maaf jika hari ini aku lancang berbuat seperti ini tanpa ijin mu, tapi dengan ini aku mencoba untuk membuktikan bahwa hati ini sungguh telah memilih mu, bahwa hati ini hanya bisa melihat ke arah mu. jika kamu menerima pinangan ku maka letakan lah cincin itu di dada mu di balik kedua telapak tangan mu, tapi jika aku bukan pilihan mu maka kamu boleh meletakan cincin itu kembali di atas meja ini" sontak semua mata pengunjung resto ini tertuju pada ku, aku kaget asa apa yang ka Alfan lakukan, sungguh aku tidak pernah menyangka bahwa dia seberani ini.
Tuhan apa ini,,, seandainya jika yang ada dihadapan ku hafidz maka tanpa perlu berpikir aku langsung menerima nya, tapi ini,,, apa yang harus aku lakukan??? jawaban apa yang harus aku berikan
__ADS_1