
"masyaallah,,, ini kodok kenapa pada lepas semua sih?" tiba-tiba Mia salah satu temanku jurusan IPA masuk dengan membawa kantong kresek hitam
"Alhamdulillah ada kamu mi, buruan bantu aku ambilin sebelum pada kabur semua" Tiar menarik tangan Mia agar langsung membantunya
"ka Tiar buruan ih ambil takut aku" kata salah satu santri yang berdiri diatas bak penampungan
"iya ih jiji tau" diikuti suara santri putri yang lainnya
"iya tenang, ini juga kan lagi diambilin kalo masih pada berisik kodok nya dilepasin lagi nih" ancam nya sambil membuka kantong kresek yang berisi kodok-kodok lainnya
"huuuuu" sorak santri putri berbarengan
"Tiar, lagian buat apa sih ini kodok? terus kenapa pada lepas?" tanyaku penasaran setelah kodok itu sudah hampir semua nya ditangkap, karna jujur aku juga geli kalo harus megang hee
"ini tuh buat praktik besok satu kelas, pada gak mau nyari masing-masing sih jadi nya gini kan disatuin terus ini lepas gara-gara si Mia tuh nyimpen nya gak bener " jawab Tiar sambil menunjuk Mia
"laaahhh ko jadi aku sih? tadi kan aku udah bener nyimpennya diember pake tutup" kata Mia gak mau disalahin
"iya ditutupnya pake selembar dus sama aja bohong" lanjut Tiar gak mau kalah
"yang penting kan ditutup ti hihi" lanjut Mia cekikikan
__ADS_1
"ka nurain,,,dipanggil Gus hafidz kata nya disuruh ke rumah ibu" tiba-tiba Azizah Ade kelasku memanggil
"cieeeee,,,, yang dapet panggilan cinta dari rumah pengasuh" teman-temanku yang ada dikamar mandi mulai riuh dengan serempak
"apaan sih kalian sirik aja haha" mataku menatap mereka seolah-seolah ingin membuat mereka iri terhadapku hhee
Gus hafidz adalah anak pertama dari KH abdullah, usia nya beda dua tahun denganku, dia kuliah diturki dan kini kebetulan dia sedang libur semester jadi sementara dia mengajar dipesantren membantu ayahnya. wajah nya bersih, putih, hidungnya mancung seperti kearab-araban dan sorot matanya tajam namun mempesona, itulah yang dikatakan teman-temanku dan aku pun setuju dengan pendapat mereka hee.
namun orangnya dingin, jarang bicara seperti sombong tapi itu tak mengurangi fans-fans nya dipondok ini. yaah,, begitulah santri putri ada yang sana sini ganteng, sana sini keren sana sini pula lah fans nya hehe.
"Gus hafidz? tumben, kira-kira ada apa ya?" tanyaku pada Azizah
"oh iya gapapa sebentar lagi kesana, Syukron ya Azizah"
"iya ka sama-sama" kata nya sambil berlalu
setelah mengganti pakaian sekolah karna tadi belum sempat mengganti nya, aku langsung bergegas ke rumah pengasuh untuk memenuhi panggilan Gus hafidz walaupun agak sedikit ragu karna aku tahu hari ini ibu dan ayah (begitu kami memanggil pimpinan pesantren kami) sedang pergi ke rumah orangtua ibu ditasik. setelah sampai didepan rumah aku hanya terdiam tidak berani masuk karna takut terjadi fitnah jika hanya berduaan didalam rumah pengasuh 'haduuuhhh gimana ini masuk gak ya, kenapa coba tadi aku gak ngajak Maryam atau siapa gitu buat nemenin aku kesini' gerutuku dalam hati sambil terus memukul mukul keningku.
namun tiba-tiba pintu terbuka,
"ah bibi ternyata, kirain siapa yang buka pintu" aku sedikit kaget, karena pintu terbuka dengan tiba-tiba
__ADS_1
"kenapa neng? dikira Gus hafidz ya yang bukain pintu nya?" bi Nani tersenyum seolah meledekku
"enggak ko bi, kirain hantu gitu hehe" jawabku asal sambil masuk ke dalam "kirain bibi masih dikampung bibi, tau nya udah pulang" lanjutku sambil duduk diatas kursi kayu yang ada di dapur
"kenapa emang? ngarep bibi masih dikampung ya biar bisa berduaan dengan Gus hafidz" ledeknya sambil menyiku tanganku
"astaghfirullah,, bibi suudzon nih, justru tadi nur gak berani masuk kalo dirumah cuma ada Gus hafidz aja soal nya kan ibu sama ayah lagi pergi. Oia BI kira-kira ada apa ya Gus hafidz manggil saya?" tanyaku pada bibi
"kurang tau, kan bibi baru nyampe barusan neng. coba langsung tanya aja ke Gus hafidznya" kata bibi sambil menunjuk kebelakang ku, dan ternyata sudah ada Gus hafidz tepat dibelakang ku. sontak aku langsung membalikkan badan dan tersenyum karna malu ternyata orangnya sudah ada dibelakangku.
"bisa ikut ana?" kata nya dengan nada yang datar 'ko aku jadi takut gini ya liat muka nya, senyum dikit ge kalo ada yang senyum pada nya kan sedekah, ini mah acuh aja' batinku sedikit kesal melihat ekspresi Gus hafidz yang acuh tak acuh.
" BI, boleh hafidz minta tolong dibuatkan air putih dua gelas?" tanya nya santun pada BI Nani
"boleh Gus, nanti bibi anterin ke meja"
"baik BI makasih ya" kata nya dengan sedikit tersenyum manis. 'itu dia bisa senyum sama bibi, masa sama aku enggak dasar salju' batinku gak mau berhenti ngoceh. kami pun masuk ke dalam ruang tamu secara beriringan dan duduk di kursi yang telah tersedia diruang tamu.
"Gus, kaya nya kurang nyaman kalo kita hanya berdua disini. takutnya jadi fitnah" kataku sambil terus menundukan pandangan
"jangan GR dulu kita disini gak berdua ko, dan ana juga sangat paham soal itu" jawabnya dingin "asli nyentuh banget ekspresi sama omongannya seolah aku yang berharap bisa berduaan dengan dia' batinku seolah ingin mulai mengamuk didepannya.
__ADS_1