Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
tragedi pagi hari


__ADS_3

"nak, kamu baik-baik disini ya. jangan merepotkan keluarga nurain, dan yang paling penting jangan membuat nurain terlalu capek"


ibu pengasuh melihat ke arah ku dengan tatapan yang tidak aku mengerti. karna aku sendiri sedikit bingung kenapa ibu mengatakan kepada Gus hafidz jangan membuatku terlalu capek.


padahal mungkin untuk sekarang kami hanya akan beristirahat menyambut hari esok tiba.


"nur, umma titip hafidz ya sementara disini. jika dia nakal atau berbuat yang macam-macam jangan segan untuk menjewer telinga nya, umma tidak akan membela nya kalau dia berbuat nakal kepada mu"


kata ibu pengasuh kepada ku dengan nada gurau nya


"iya Bu, insyaallah"


"ko ibu? mulai sekarang panggil umma bukan ibu lagi. karna sekarang nur adalah putri umma"


dengan reflek aku memeluk ibu pengasuh yang kini menjadi ibu ku karna ikatan pernikahan antara aku dan anak nya.


aku menangis dalam pelukannya, sebagai pelampiasan rindu ku pada ibu. Dengan begini setidak nya dapat mengurangi rasa rindu pada ibu.


"kenapa kamu menangis nak?"


umma mengusap kepalaku dengan lembut, dan aku hanya menggelengkan kepala ku sebagai jawaban


"jangan menangis lagi, sekarang ada umma yang akan menyayangi mu seperti ibu mu. sekarang hapus air mata mu yah"


umma menghapus air mata itu dari pipi ku, aku menatap nya dengan penuh kasih sayang.


Syukron ya Rabb, karna engkau menghadirkan seorang ibu yang juga menyayangi ku seperti ibu ku sendiri.


~


setelah semua keluarga Gus hafidz pamit, kini tinggal keluarga yang satu persatu mulai pamit meninggalkan kami.


"de, Abang juga harus pamit kembali menjalankan tugas Abang sebagai abdi negara"


"kenapa gak besok aja Abang berangkat nya?"


aku sedikit merengek agar Abang ku menunda keberangkatan nya sampai besok, karna aku masih ingin berkumpul dengan ayah dan Abang ku


"enggak bisa, Abang hanya di beri cuti sampai hari ke tujuh meninggal nya ibu kita. Ade jangan sedih karna sekarang sudah ada yang menjaga Ade seperti Abang menjaga Ade"


aku melihat ke arah Gus hafidz yang sedang mengobrol dengan ayah. yah,, sekarang Gus hafidz adalah suami ku, dia yang akan menjaga dan membimbingku. semoga aku bisa menjadi istri yang Sholehah yang terbaik untuk nya.


"yuk, antar Abang sampe depan dan jangan menangisi kepergian ibu kita lagi yah. ibu sudah bahagia bersama Allah, kita hanya perlu mendoakannya sekarang bukan menangisi nya"

__ADS_1


aku hanya mengangguk dan berjalan sambil digandeng oleh Abang menghampiri ayah dan Gus hafidz


"sudah mau pulang bang?"


tanya Gus hafidz saat melihat ku dan Abang mendekat


"iya Gus" jawab Abang di sertai senyum simpul


"jangan panggil Gus, hafidz aja bang karna sekarang saya juga adik nya Abang"


"benar juga, maafkan Abang yang seolah lupa kalau sekarang punya adik laki-laki hee"


Abang menepuk pundak gus hafidz


"yah sandi berangkat dulu, maaf karna tidak bisa mengantar ayah ke Surabaya besok"


"tidak apa-apa nak ayah mengerti tugas mu, kamu juga hati-hati yah di jalan. semoga selamat sampai tujuan dan selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi mu"


kemudian ayah memeluk Abang dengan air mata yang mulai keluar dari sudut mata nya


"maaf, jika ayah belum bisa menjadi ayah yang baik buat kamu nak. meski sekarang ini sudah tidak ada di tengah-tengah kita tapi percayalah ibu selalu melihat kita dan ada didekat kita"


ku lihat Abang juga mulai menangis, namun dia buru-buru menghapus air mata nya dan menutupi kesedihannya dihadapan ayah.


"titip Ade Abang yah, jaga dia sebaik mungkin dan sayangi dia seperti Abang menyayangi nya. Abang percaya hafidz adalah orang yang Sholeh dan amanah"


~


malam tiba, aku menunggu ayah dan Gus hafidz pulang dari masjid. hari ini aku tidak masak karna masih ada makanan sisa dari acara. aku hanya menghangatkannya kemudian menata nya di atas meja makan.


sampai waktu Isa tiba ayah dan Gus hafidz masih belum kembali dari masjid, mungkin langsung mengikuti pengajian atau sekedar mengobrol dengan pengurus masjid, itu yang biasa nya dilakukan oleh ayah.


'lebih baik aku sholat isya dulu' batinku.


selesai sholat, ku sempatkan untuk membaca dzikir lalu tadarus Qur'an sebentar. sekilas ku lihat ke arah meja belajar yang ada di depanku.


'ibu,, nur kangen banget sama ibu. ini hari ketujuh wafatnya ibu, apa ibu masih bisa lihat nur sekarang? kemarin tawa ibu masih memecah keheningan rumah ini. suara ibu masih terngiang di telinga ini. tapi sekarang, rasa nya semua menjadi senyap, sunyi dan sepi.


'ibu,, seandainya nur tahu kemarin saat wisuda adalah hari terakhir nur bisa melihat senyum ibu, nur tidak akan melepaskan pelukan ibu saat itu, nur juga akan selalu di samping ibu, pulang bareng ibu, dan mungkin tidur sambil memeluk ibu.


'ibu,, nur rindu ibu,,sangat,,,


mata ini masih belum bisa diajak kompromi jika kembali teringat ibu. hanya gambar wajahnya yang kini bisa ku pandang, ku peluk dan ku cium dengan puas.

__ADS_1


bukan belum ikhlas, hanya saja rindu ini masih betah menempati ruang hati dan mungkin tak akan pernah pergi karna aku akan menyimpannya dengan baik.


menangis sambil memeluk bingkai foto ibu, lama-lama membuat mata ini menjadi lelah dan kantuk pun juga ikut singgah. dengan perlahan mata ini pun mulai tertutup bersama sisa-sisa harapan dan mimpi-mimpi yang belum terwujud


~


Allahuakbar Allahuakbar,,,,


adzan subuh berkumandang, aku yang masih setengah sadar tidak langsung bangun dari tempat tidur ku.


mencoba mengumpulkan tenaga untuk bangun, ku arahkan tubuhku untuk berbalik ke arah belakang punggung ku. namun belum sempat tenaga itu terkumpul, tiba-tiba,,,,


"ayaaaahhhh,,,, uhhh"


BUKK


dengan reflek aku menendang seseorang yang barusan tidur diatas ranjang ku.


"kenapa nak?"


dengan panik ayah membuka pintu kamar dan langsung berlari ke arah ku


"innalilahi nak, kenapa kamu ada di bawah?"


tanya ayah pada seseorang yang barusan ku tendang dengan begitu kencang nya.


"tadi hafidz terjatuh ayah"


'hafidz? jadi barusan yang aku tendang itu Gus hafidz?' batinku yang masih belum sadar sepenuhnya


"de kamu malah bengong, bukannya bantu suami kamu ini lho jatuh pasti sakit"


"astaghfirullahal'adzim maaf yah, kirain yang tidur di samping Ade siapa, Ade juga lupa kalau Ade udah nikah"


dengan polos nya aku berkata yang mungkin membuat Gus hafidz akan tersinggung.


"lupa? ayah gak salah dengar? baru ada lho kejadian orang lupa udah nikah sampe segini nya"


aku hanya menunduk di balik selimut, saat ayah mengatakan keanehannya atas sikap ku yang memang mungkin jarang terjadi.


tapi benar aku lupa banget, kalau aku memang sudah menikah kemarin. bukan karna amnesia tapi mungkin karna besarnya rasa kehilangan dan rindu ku terhadap ibu.


apalagi aku dan Gus hafidz menikah tepat saat di hari ke tujuh meninggal nya ibu, hari dimana suasana berkabung masih menyelimuti rumah ku, khususnya hati ku.

__ADS_1


bahkan mungkin saat kemarin acara itu berlangsung hati ini sebenarnya diantara bahagia dan sedih, namun kesedihan masih mendominasi hati ku, hingga kejadian lupa di pagi ini pun tak bisa terelakkan.


astaghfirullah, entah apa yang dipikirkan oleh Gus hafidz saat ini tentang aku.


__ADS_2