
aku baru selesai mengajar anak-anak MI dan langsung pulang ke rumah. tapi saat ingin masuk, ku lihat mobil dokter Aisyah terparkir di halaman rumah.
benar dokter Aisyah sedang mengobrol dengan keluarga Gus hafidz di dalam.
aku ingin masuk, namun ku urungkan. karna aku melihat raut wajah yang sedih dari semua yang ada di dalam, entah apa yang terjadi.
aku pun memutuskan untuk menyimak pembicaraan mereka dari Balik pintu, namun tidak terlalu jelas apa yang sedang di bicarakan.
sekali lagi ku intip dari balik jendela, Ning Farah seperti menangis sambil memeluk dokter Aisyah, begitu pun umma yang juga ikut meneteskan air mata.
'sebenarnya apa yang terjadi?' hati ku semakin gelisah. maka ku putuskan untuk masuk ke dalam. namun belum sempat tangan ini membuka pintu, ku lihat dokter Aisyah sedang berjalan menuju keluar. aku pun langsung melangkah bersembunyi di balik dinding menuju dapur.
tak lama setelah itu, suami ku ikut keluar mencoba menyusul dokter aisyah. aku menatap nya sekilas, namun rasa penasaran membuat ku ikut melangkah mengikuti mereka.
aku memilih berdiam di balik pohon, sambil mendengar kan apa yang sedang mereka bicarakan.
aku tidak menyangka jika kedatangan dokter Aisyah ke sini, hanya untuk pamit pada keluarga.
aku sedih mendengar semua itu, apalagi saat tahu jika dokter Aisyah selama ini mencintai Gus hafidz, suami ku.
aku semakin merasa bersalah, karna seolah menjadi penyebab semua masalah di sini.
Ning Farah yang masih bersikap dingin pada suami ku, dokter Aisyah yang merasa sakit hati sampai harus meninggalkan pondok.
apalagi saat ku lihat tadi tangisan Ning Farah yang sepertinya sangat tidak rela jika harus berpisah dengan dokter Aisyah, semakin membuat besar rasa bersalah ini.
dengan kebingungan dan rasa bersalah yang melanda begitu besar, maka ku putuskan untuk bicara dengan dokter Aisyah tanpa memberi tahu suami ku. mudah-mudahan ini adalah jalan terbaik untuk semua nya.
"maaf nur, ana bukan perempuan yang bisa bahagia di atas penderitaan perempuan lain"
dokter Aisyah menanggapi permohonan ku dengan suara yang begitu tegas.
"tapi dokter, ini ana yang minta. jadi dokter tidak perlu merasa bersalah"
aku mencoba meyakinkan agar dokter Aisyah mau mendengarkan perkataan ku dan tidak meninggalkan pondok ini.
sebenarnya aku mengatakan itu dengan hati yang begitu gemetar, karna tidak ada perempuan yang mau berbagi cinta suami nya.
tapi demi kebahagian keluarga, dan aku juga tidak mau ada perpecahan di antara kami. maka ku putuskan untuk mengambil keputusan ini sendiri.
"maaf nurain, ana tidak bisa memenuhi permohonan anti. pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan. apa menurut anti dengan hafidz menikahi ku semua nya akan berakhir bahagia? tidak nur, akan ada banyak hati yang terluka disini. jadi ana gak bisa memenuhi permintaan anti, dan ana juga berharap anti mengerti keadaan ana. untuk saat ini hanya perlu waktu sendiri"
aku hanya mengangguk dengan terus menangis di balik cadar ku
"kalau tidak ada yang mau di bicarakan lagi, ana mohon pamit. ana do'akan anti bahagia selalu dengan hafidz. dan__sebentar"
__ADS_1
dokter Aisyah berdiri, kemudian masuk setengah badan ke dalam mobil nya
"ini, sebagai hadiah pernikahan anti. Afwan jika ana baru sempat memberikan nya sekarang. ana permisi ya, assalamualaikum"
"waalaikumsalam wr wb"
jawab ku sambil melepas pelukan dokter aisyah, dan setelah itu dokter Aisyah pergi dengan mobilnya, membawa semua kesedihan nya dan meninggalkan semua kenangan nya disini.
sekali lagi maafkan aku dokter Aisyah. semoga suatu hari nanti Allah pertemukan dokter dengan seorang laki-laki yang Sholeh yang mencintai dokter dengan tulus.
~
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam wr wb, baru pulang neng?"
suara bi nani menyambut ku saat ku saat aku masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur
"iya BI"
jawab ku dengan senyum simpul
tak lama setelah itu muncul Ning Farah yang berjalan ke arah meja yang menyimpan air galon. dengan segera aku pun menghampirinya.
"Ning mau buat teh?"
"biar nur buatin, Ning Farah bisa tunggu di dalam nanti ana bawa teh nya ke dalam"
kata ku dengan ramah namun sebenarnya di penuhi rasa gugup. karna sudah hampir seminggu lebih aku disini, Ning Farah masih selalu dingin saat aku mencoba mengajak nya bicara
"enggak perlu, ana punya tangan sendiri. lagian anti di sini sebagai istri nya bang hafidz kan bukan pembantu"
dengan tanpa melihat ke arah ku, Ning Farah berkata dengan ketus dan langsung masuk ke dalam.
"jangan di ambil hati yah neng, Sekarang hati nya lagi tidak baik karna di tinggal neng Aisyah. tapi nanti juga baik lagi ko"
BI Nani mengelus punggung ku mencoba membuat hati ku tenang
"iya BI gak papa ko. nur ke dalam dulu yah"
aku pun melangkah masuk ke dalam ruang tengah
"baru pulang putri umma?"
sapa umma saat aku masuk ke dalam ruang tengah
__ADS_1
"iya umma" kata ku sambil mencium lengan ibu mertuaku yang sudah ku anggap ibu ku sendiri
"ya sudah sekarang makan dulu yah, yang lain udah pada makan tadi. tapi hafidz belum, kaya nya nunggu kamu"
"iya umma, biar nur ke kamar dulu nanti baru makan sama Abang"
aku pun langsung berjalan menuju kamar ku
"dari mana dek, ko baru pulang?"
tanya Gus hafidz dengan tatapan yang tak biasa ke arah ku
"dari MI bang"
kata ku sambil mendekati nya dan mencium lengan nya
"dari MI atau dari depan gerbang pondok pesantren?"
aku melihat ke arah suami ku dengan tatapan heran, kenapa Abang bisa tahu? apa jangan-jangan Abang juga tahu aku habis mengobrol dengan dokter Aisyah?
"iya bang, nur abis dari gerbang pesantren abis bicara dengan dokter Aisyah"
"kenapa kamu tega bicara seperti itu pada Aisyah?"
Gus hafidz menatap ku dengan sorot mata kecewa, dan ini baru pertama kali nya ku lihat Gus hafidz menatap ku seperti itu selama menjadi suami ku.
"Abang nur hanya__"
"apa pernikahan itu sebuah permainan dan Abang mainan nya buat kamu dan Aisyah?"
"Abang, maksud nur bukan seperti itu. nur hanya tidak mau dokter Aisyah pergi meninggalkan pondok ini"
"tapi bukan dengan cara seperti itu. dengan mudah nya kamu bicara seolah Abang ini boneka yang bisa kalian mainkan. Abang punya hati nur, dan di hati Abang cuma ada kamu bukan Aisyah atau yang lain nya"
"maafin nur bang, nur gak bermaksud nyakitin hati Abang. nur hanya gak bisa lihat umma, Babah apalagi Ning Farah yang begitu sayang sama dokter Aisyah haru menangis karna merasa kehilangan dokter Aisyah"
"tapi bukan dengan cara Abang harus menikahi Aisyah kan? apa kamu pikir menikah tanpa ada cinta itu mudah? apa kamu pikir Abang bisa adil? enggak nur, Abang gak sesholeh itu, Abang gak sehebat itu"
ku lihat mata Gus hafidz berkaca-kaca menggambarkan betapa kecewa nya dia terhadap ku.
aku mencoba mendekati nya dan mengambil tangan nya untuk meminta maaf karna sudah membuat hati nya sakit.
Nami dengan segera Gus hafidz menghindar dan berjalan ke luar meninggalkan ku seorang diri.
dengan lunglai tubuh ini terduduk di atas lantai dengan linangan air mata yang tak bisa ku bendung lagi.
__ADS_1
kenapa jadi seperti ini? kenapa aku bicara tanpa berpikir sehingga membuat suami ku kecewa? kenapa aku sebodoh ini? kenapa?