Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Assalamualaikum


__ADS_3

setelah selesai belajar bersama Maryam, aku putuskan untuk mampir ke rumah ibu sebentar karna waktu baru menunjukan pukul 10 pagi, jadi aku masih ada waktu untuk sekedar melihat BI Nani yang mungkin butuh bantuan ku.


"assalamu'alaikum BI" aku masuk dengan mengucap salam melalui pintu belakang


"waalaikumsalam,,, eh neng nurain kirain bibi siapa" seperti biasa bibi selalu tersenyum ramah kala bertemu siapapun


"memang nya siapa lagi BI"


"kirain neng Maryam, soal nya dari kemarin yang ke sini cuma neng Maryam"


"tadi nya memang Maryam juga mau ke sini, tapi di panggil sama ustadzah dini jadi gak jadi"


"oh gitu,, tapi ngomong-ngomong neng ke sini ada perlu apa?" tanya bibi tiba-tiba


"ko bibi kaya yang gak seneng gitu nur kesini, kan udah biasa nur ke sini. ya udah nur mau ke asrama lagi aja" jawab ku pura-pura kecewa dengan pertanyaan bibi


"bukan gitu,,, kalo hari-hari biasa neng ke sini kan buat bantu-bantu bibi, atau kebetulan lagi dipanggil sama ibu atau Gus hafidz gitu. ini kan Gus hafidz udah gak ada, ibu juga lagi pergi ke Sumedang nyusul Babah. jadi bibi nanya gitu" jelas bibi cukup panjang


"hehe,, mau bantu bibi aja deh kalo gitu"


"waahhh,, jangan dong kalo itu"


"kenapa gak boleh BI?" aku langsung memasang wajah cemberut


"neng kan kaki nya masih sakit, masa iya mau bantu bibi. lagian kerjaan bibi juga tinggal masak sama gosok baju"


"nah,, itu. nur gosok baju aja, kan gak pake kaki gosoknya. jadi bibi bisa masak dengan tenang"


"ya iya atuh neng masa gosok baju pake kaki,,, hehe itu mah nama nya gesek baju" tiba-tiba BI Nani tertawa renyah mendengar perkataan ku, padahal aku gak bermaksud ngelawak hehe,,, tapi gak papa aku seneng lihat nya.


"hehe,,, Aya-aya wae bibi mah (ada-ada aja bibi mah)" kata ku dengan menggunakan bahasa Sunda


"waahhh,, Eneng ternyata bisa bicara Sunda? baru denger bibi"


"bisa dong BI, kan ayah sama ibu asli orang Sunda"


"Sunda nya dimana emang neng?"

__ADS_1


"Garut,,, hee"


"waaahhh,,, bibi kira neng asli orang Bekasi, abis nya gak pernah denger neng ngomong Sunda selama bibi di sini"


"jarang sih BI,,, soal nya bahasa Sunda nur agak kasar beda sama orang Garut asli yang emang bahasa Sunda nya di kenal halus, jadi suka gak PD kalo mau ngomong bahasa Sunda" jelas ku pada BI Nani kenapa selama ini aku jarang sekali ngomong bahasa daerah asal ku


"iya sih neng, orang Garut Sunda nya galus-halus. bibi aja kadang gak ngerti sebagian bahasa Sunda yang di omongin sama orang Sunda Garut kaya kata Nyonong, di manten, pokok nya itu lah"


"emang itu arti nya apa BI? nur malah baru denger sekarang dari bibi" aku bertanya heran, karna jujur baru kali ini aku denger dua kata itu dalam bahasa Sunda


"apa yah,,, bibi lupa hehe" jawab nya terkekeh


"yeee,, terus itu bibi denger dari siapa?"


"dari Gus hafidz neng, kan banyak temen Gus hafidz yang dari Garut waktu Gus hafidz mondok di kudang Garut"


"ohhh,,, jadi Gus hafidz mondok di Garut ya BI, kirain mondok di sini di pesantren orangtua nya sendiri"


"enggak, kata nya biar dapet ilmu baru sama pengalaman baru" jawab bibi lagi


"ko cuma ohhh,,,mau tahu lebih banyak lagi tentang Gus hafidz gak neng? bibi siap cerita lho"


"eummm,,, enggak deh BI makasih"


"yakiiiiinnnnn??" tanya bibi yang seolah mulai menggoda ku


"BI, setrikaan nya di simpen dimana" aku langsung menghindari pertanyaan BI Nani dengan melangkah masuk ke dalam ruangan kecil yang memang dikhususkan untuk menyetrika pakaian bersih.


untuk saat ini, rasa nya hati ini menolak mendengar nama nya. bukan apa-apa hanya saja masih ada rasa kesal dan kecewa atas kejadian surat itu.


aku duduk dan mulai menggosok baju demi baju dengan setrika, alhamdulillah bibi tidak berlanjut membahas tentang Gus hafidz.


kriiingg


kriiingg


BI Nani berjalan masuk ke ruang tengah untuk mengangkat telepon rumah yang barusan ku dengar berbunyi, entah lah siapa yang menelepon karna aku tidak bisa mendengar suara BI Nani yang sedang mengangkat telepon.

__ADS_1


"neng, ada telephon buat Eneng" kata bi Nani di ambang pintu. mata ku langsung membulat saat mendengar bahwa telepon tersebut ditujukan untuk ku. ko bisa? siapa yang berani menelpon pada ku melalui telepon rumah pengasuh. ya Allah,, aku bisa di hukum lagi kalo gini cara nya.


"dari siapa bi?"


"angkat saja dulu nanti neng juga tahu" BI Nani seolah enggan memberitahu ku siapa yang menelpon


"maaf bi, rasa nya nur gak sopan kalau harus menerima telepon dari rumah pengasuh apalagi saat ibu dan yang lainnya sedang tidak ada. biarin aja telepon nya sampai mati. kalau dari keluarga nur, biar nanti nur telepon balik aja" kata ku dengan sopan, dan kembali melanjutkan menyetrika baju.


BI Nani tidak menjawab, beliau hanya diam dan kembali lagi ke dalam. mungkin ingin menyampaikan apa yang aku katakan barusan pada seseorang yang menelpon di sebrang sana. sebenarnya siapa sih yang berani-beraninya menghubungi ku lewat telpon rumah pengasuh, apa ibu? atau ayah? atau my brother kakak ku?. tapi rasanya gak mungkin juga, karna aku sendiri tidak tahu berapa nomr telepon rumah ini.


tak berapa lama, BI Nani kembali dari dalam dan langsung kembali melanjutkan memasak nya.


Deeerttt


Derrrttt


kini ku dengar giliran ponsel bibi yang bergetar.


"neng tolong ambilkan ponsel bibi donk, di situ di atas meja" kata bi Nani minta tolong kepada ku


"eh,, jangan deh biar sama bibi aja kasian kaki nya masih sakit kalo harus berdiri terus duduk lagi" lanjut bi Nani dengan sambil mengambil ponsel nya sendiri


"assalamualaikum,,, oh iya ini ada lagi di depan bibi malah orang nya,,, mau langsung ngomong sama neng nurain,,,iya,,,bentar,,," kemudian BI Nani berjalan menjauhiku. 'siapa ya ko BI Nani kaya yang lagi ngomongin aku? kira-kira siapa yang menelpon? masyaallah bibi,,, buat orang penasaran aja. ini ada apa sih sebenarnya' hati ini terus bertanya-tanya pada diri sendiri yang jawaban nya pun belum aku ketahui. lagian bibi, kalau memang orang yang menelpon itu mau bicara sama aku kenapa pake acara menjauh segala, hhmmn


"ini neng" tiba-tiba BI Nani sudah ada di dekat ku dengan memberikan ponsel nya pada ku


"siapa bi?" aku tidak langsung mengambil ponsel nya


"udah angkat aja dulu bentar lagi juga neng bakalan tahu" BI Nani masih bersikeras tidak mau menyebutkan siapa orang di balik sambungan telpon ini.


aku masih diam menatap ponsel yang masih ditangan BI Nani.


"udah jangan ragu, neng gak bakalan di hukum karna ini ko. lagian kan bukan neng yang ikut nelpon ke bibi" kata bi Nani seolah mengerti ketakutan yang ku rasakan. karna memang sudah peraturan pondok ini di larang ikut nelpon pada siapa pun selain melalui telpon yang sudah di sediakan oleh pondok.


Dengan sedikit ragu aku mengambil ponsel BI Nani dari tangan nya. ku tatap sebentar layar ponsel itu, ternyata nomer nya tidak memakai nama, tapi ko seperti nya bukan nomer Indonesia. dahi ku sedikit berkerut, tapi,,,


"assalamualaikum nur,,," suara seseorang di sebrang sana.

__ADS_1


__ADS_2