
POP Nurain
setelah puas berbelanja, aku, Farah dan umma memutuskan untuk makan terlebih dahulu karna kebetulan Abang juga belum datang untuk menjemput.
"umma kita makan nya di cafe sebrang aja yuk, disana menu nya enak-enak loh. Farah sering makan di sana"
kata Ning Farah saat kami hendak mencari tempat makan yang ada di dalam mall
"kalau umma sih ikut aja. tapi kasian nurain pasti capek kalau harus berjalan dulu ke sebrang"
dengan lembut umma membelai kepala ku
"enggak ko umma, insyaallah nur gak capek. lagian jalan nya gak terlalu jauh ko dari sini"
"ya udah gini aja, barang belanjaan nya kita titip dulu di tempat penitipan barang. abis itu baru kita jalan ke sana, biar teh nur Farah yang gandeng jadi gak bakalan terlalu capek. iya kan"
"oke deh, kalau umma nurut aja deh sama putri-putri umma"
Ning Farah dan umma berjalan menuju tempat penitipan barang untuk menitipkan semua barang belanjaan kita, sedangkan aku hanya duduk sambil menunggu. karna umma melarang ku untuk ikut mengangkat barang.
dalam diam, aku jadi teringat tentang kejadian tadi pagi. entah kenapa aku merasa jika tatapan Gus hafidz pada dokter Aisyah, adalah tatapan nya terhadap ku.
apa aku akan siap jika ternyata apa yang ku rasakan adalah kebenaran? ah,,, rasa nya tidak ada perempuan yang ingin berbagi rasa kepada perempuan lain.
padahal dulu aku pernah meminta pada dokter Aisyah agar mau menikah dengan Gus hafidz. tapi sekarang, membayangkan nya saja hati ini begitu takut.
"nak, ayo kita cari makan dulu"
tiba-tiba tangan lembut umma menyentuh pundak ku
"kamu kenapa sayang? kamu menangis?"
tanya umma saat aku menghapus air mata yang tadi sempat terjatuh dengan tangan ku.
"enggak umma, hanya kelilipan"
aku mencoba menyembunyikan tentang apa yang aku khawatirkan
"atau ada yang teh nur rasakan? semisal sakit atau apa?"
kini Ning Farah yang bertanya dengan nada yang tak kalah khawatir nya dengan umma
"enggak ko Ning, tadi nur cuma kelilipan, beneran"
"ya udah, kalau ada apa-apa kamu harus bilang ya sama umma. jangan di simpan sendiri"
"iya umma"
jawab ku dengan senyum simpul. dan kami pun langsung berjalan menuju sebuah cafe yang di maksudkan oleh Ning Farah.
"yang mana cafe nya rah? jauh gak?"
tanya umma saat kami baru melangkah beberapa langkah
__ADS_1
"yaa Allah umma, baru juga berapa langkah kita. itu udah depan mata kita cafe nya"
kata Ning Farah sambil menunjuk cafe yang tidak jauh dari kita
"tapi, itu kenapa rame gitu yah"
kembali Ning Farah menunjuk sebuah kerumunan yang tak jauh dari cafe itu
"Aisyah"
tiba-tiba seorang perempuan berhijab berlari menuju kerumunan itu
"umma, kita lihat yuk jangan-jangan itu ka aisy"
kata Ning Farah, dan kami pun langsung berjalan menuju kerumunan orang. samar-samar ku lihat seorang perempuan dengan hijab yang panjang, sedang dipeluk oleh seorang laki-laki, mungkin itu suami nya.
kami semakin mendekat namun tidak dapat melihat wajah nya karna yang wanita memakai cadar, sedangkan yang laki-laki membelakangi kami.
'tapi, ko laki-laki nya seperti,,, ah mana mungkin'
aku mencoba menghilangkan pikiranku yang tak baik.
"Abang"
suara Ning Farah membuat laki-laki yang sedang memeluk erat perempuan itu melihat ke arah kami.
aku hanya melihatnya dengan perasaan yang,,,HANCUR
suami ku memeluk seorang perempuan yang tak lain adalah sahabat nya sendiri, perempuan yang selama ini mencintai nya dan itu di saksikan oleh banyak orang termasuk aku.
"Abang,,, kamu tega"
~
POV GUS HAFIDZ
betapa terkejut nya saya saat melihat nurain ada di samping yang tak jauh dari saya.
dia melihat saya yang sedang memeluk Aisyah dengan erat, karna tadi menarik tubuhnya yang hampir tertabrak oleh mini bus.
dengan segera saya melepaskan pelukan saya, dan beralih melihat ke arah nurain yang menatap saya dengan mata yang penuh air mata.
"nur,,,Abang"
tanpa mendengar penjelasan saya, nurain langsung membalikkan badan nya dan berjalan meninggalkan saya.
saya mencoba menyusul nya, namun dia malah berlari kecil seolah tak ingin didekati oleh saya.
"nur,,,dengerin Abang dulu sayang. kamu salah faham, Abang bisa jelasin semua nya"
dalam langkah saya mencoba mengajak nya untuk bicara, agar dia mau menghentikan langkah nya.
"sayang Abang mohon kamu dengerin Abang dulu yah, kamu jangan lari, ingat ada bayi kita dalam tubuh mu"
__ADS_1
kali ini nurain menghentikan langkah nya.
"sayang, Abang,,,"
"Abang tega sama nur,,, baru tadi pagi bilang kalau Abang tidak mempunyai rasa pada dokter Aisyah, tapi sekarang Abang malah berpelukan dengan nya dihadapan umum. apa Abang gak malu heh?"
kata nya sambil mengangkat telapak tangan nya agar saya jangan mendekat kepada nya.
"ini salah faham sayang, Abang tadi ingin menyelamatkan Aisyah yang hampir tertabrak mobil. kamu percaya kan sama Abang?"
kata saya sambil mencoba mendekati nya agar bisa menyentuh nya.
"jangan mendekat bang, nur gak mau dekat-dekat sama Abang. Abang jahat, Abang tega sama kita"
dia menangis sambil memegang erat perut nya yang besar. melihat itu rasa nya hati saya pun terluka, karna telah membuat ibu dari anak saya menangis.
"Abang gak bakal dekat-dekat sama kamu, tapi kita bicarakan ini baik-baik di rumah yah. sekarang kita pulang sayang"
tak ada jawaban dari nya, dia hanya memalingkan tubuh nya dan menghentikan sebuah taksi yang melintas di sebrang jalan.
tanpa mendengar panggilan saya, nurain melangkah ingin menyebrangi jalan, namun saat kaki nya baru melangkah tiba-tiba,,,,
BUKKK
sebuah motor sudah lebih dulu menghantam tubuh nya.
"sayang"
dengan segera saya berlari ke arah nya, mengangkat tubuh nya yang sudah terbaring diatas aspal.
"Abang, sakit"
kata nya sambil memegangi perut nya.
darah segar mengalir dari pelipis, kaki dan tangan nya. umma, Farah, Aisyah dan orang-orang di sekitar langsung berlari ke arah kami.
tanpa pikir panjang saya langsung berlari untuk mengambil mobil dan meminta Farah agar memegangi tubuh nurain terlebih dahulu.
"kita bawa langsung ke rumah sakit fidz"
kata Aisyah yang ikut masuk ke dalam mobil, begitu pun umma dan Farah.
tak ada kata yang keluar dari lisan ku, hanya air mata yang seperti nya tak bisa diajak kompromi.
'yaa Allah, untuk pertama kali nya hamba merasa ketakutan yang luar biasa. hamba takut kehilangan istri dan anak hamba. jangan kau ambil mereka sekarang dari sisi ku, hamba mohon, berikan kesempatan untuk kami merasakan nikmat nya memiliki keluarga kecil di dunia ini. hamba takut sekali yaa Allah'
"nur, anti masih sadar kan? ana mohon agar anti bisa kuat, istighfar ya,,, ana mohon"
kata Aisyah yang sambil mengelus kepala nurain agar kesadaran nya tak hilang.
sesekali saya melihat dari kaca spion, mata nurain masih terbuka, namun nafas nya seolah mulai tak beraturan, bibir nya tak henti-hentinya menyebut asma Allah
"sayang, Abang mohon kamu kuat yah. sebentar lagi kita sampai rumah sakit, kamu sabar yah"
__ADS_1
untuk pertama kali nya, saya berkata disertai dengan Isak tangis di hadapan orang lain. karna hati saya tak bisa bohong, saya sangat takut kehilangan nurain.
'tolong selamatkan istri dan anak hamba yaa Allah'ðŸ˜