Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Porsi ujian yang berbeda-beda


__ADS_3

apa aku salah jika merasa senang dengan jarang nya dokter Aisyah berkunjung ke rumah umma ataupun Babah?


apa aku salah jika takut putri ku akan kembali lebih dekat dengan dokter Aisyah jika aku bersikap baik seperti dulu pada dokter Aisyah?


jika dipikir kembali, niat ku bukan lah untuk bersikap buruk pada dokter Aisyah, hanya saja aku lebih pendiam dan tidak seramai dulu jika bertemu dengan nya. dan itu di sebabkan oleh rasa cemburu ku pada nya yang selalu bisa lebih dekat dengan orang-orang di sekitarku yang aku sayangi.


mungkin jika kedekatannya dengan keluarga suami ku, aku bisa mengerti. tapi ini dengan putri ku, aku tidak bisa menerima itu. karna aku takut, jika putri ku yang belum mengerti apa-apa itu akan lebih mengenal dokter Aisyah sebagai mama nya dari pada aku ibu kandung nya, walaupun tidak ada ikatan apapun diantara mereka.


kembali, suami ku membahas dokter Aisyah yang hampir dua bulan lama nya tidak pernah lagi berkunjung ke rumah, walaupun sebenarnya aku juga tahu jika hampir setiap hari dia ada disekitar pondok ini, kembali praktek di sini untuk membantu santri-santri seperti dulu.


namun entah kenapa dokter Aisyah tidak pernah sekalipun berkunjung ke rumah. mungkin kah dia mencoba menjaga jarak dengan putri ku? atau mungkin dia sakit hati dengan sikap ku waktu itu? aku tidak tahu pasti alasannya, yang jelas sekarang aku ingin fokus mengurus putri ku, juga suami ku.


{assalamualaikum sobat, kaefa haluk? kangen banget ana sama anti dan asyila. kita ketemu yuk, Alhamdulillah ana sekarang udah pindah ke Bandung, gak jauh dari ponpes mu}


sebuah pesan masuk saat aku sedang asik menemani Naura bermain boneka di teras belakang rumah.


ternyata dari Maryam sahabat ku, tanpa menunggu lama aku langsung menghubungi nya via sambungan TLP.


"Iam, anti serius kan? ga ngerjain?"


tanya ku gak sabaran saat sambungan TLP ku sudah di angkat nya


"yaa allah, orang mah ngucap salam dulu, abis itu nanya kabar, baru deh nanya yang lain-lain"


kata Maryam di sebrang sana


"hehe, iya Afwan deh. abis ana seneng banget denger anti jadi pindah ke sini"


setelah ngobrol ke sana kemari, maka aku pun memutuskan untuk langsung mengunjungi nya hari ini. karna ternyata Maryam pindah ke perumahan yang tidak jauh dari pondok ini.


~"~


"Zainab main sama teh Naura dulu ya sayang"


kata Maryam pada putri nya yang baru berumur kurang lebih dua tahunan, saat aku sudah berada di dalam rumah nya.


"sini nur, kita duduk sini. biarin anak-anak main di dalam situ aman ko"

__ADS_1


setelah memastikan Naura dan Zainab bermain dengan aman, kami pun duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari mereka.


rumah Maryam masih sedikit berantakan karna dia baru pindah kemarin sore, jadi barang-barang nya belum benar-benar tertata rapi.


"ana ganggu gak Iam? kaya nya anti lagi beres-beres?"


tanya ku karna takut mengganggu aktivitas nya


"enggak ko, malah ana seneng anti sama Naura ke sini. dari tadi Zainab rewel banget, boro-boro bisa beres-beres malah sibuk ngajak Zainab main biar gak rewel. tapi sekarang Alhamdulillah kaya nya Zainab udah mulai anteng, mungkin gak ada temen kali ya"


kata Maryam sambil melihat ke arah putri nya sekilas


"kaya nya gitu"


jawab ku tersenyum simpul


"oh iya gimana, anti bener-bener udah sehat kan sekarang? maksudnya gak ada yang dirasa dari efek kecelakaan atau koma nya?"


"Alhamdulillah ana udah bener-bener sehat seperti dulu"


"tapi ko raut wajah anti kaya yang kurang sehat gitu?"


"udah lah nur, ana tuh tahu banget anti di saat bahagia, sedih, sakit, atau kalau lagi ada yang dipikirkan. kenapa? kalau anti mau bisa cerita ko sama ana"


"heumm,,, anti emang gak berubah dari dulu"


kata ku tersenyum kecil


akhirnya aku menceritakan semua yang ku alami dan semua perasaan tidak nyaman ku dengan keberadaan dokter Aisyah, yang terkadang menjadi pemicu pertengkaran kecil antara aku dan Gus hafidz.


bukan maksud ingin mengumbar aib rumahtangga ku, namun aku hanya seorang perempuan yang pasti nya tidak bisa memendam atau menahan semua nya sendiri.


jika bercerita pada ayah atau bang sandi, rasa nya tidak mungkin karna aku tidak ingin membuat mereka khawatir juga tidak mau membuat ayah dan bang sandi menjadi menyalahkan Gus hafidz.


maka aku putuskan untuk menceritakan semua nya pada Maryam sahabat ku, dia selain orang nya dapat di percaya juga bijak dalam memberikan solusi ataupun nasihat. maka insyaallah, aku tidak salah memilih teman curhat seperti dia.


"oooohhh,,, jadi ini masalah karna cemburu tooo"

__ADS_1


respon Maryam malah seolah meledek ku.


"apaan sih jam gak lucu tahu, ana cerita dengan serius respon anti malah gitu"


"hahaha,,, dia marah. emang bener kan, salah nya dimana coba hihihi"


aku hanya memasang wajah cemberut karna kesal dengan respon yang Maryam berikan pada ku.


"iya deh iya Afwan, heumm,,, begini loh sob, setiap orang pasti mempunyai problem dengan sendirinya dan pasti nya akan berbeda-beda walaupun sebagian memiliki masalah yang sama dengan yang kita alami. begitupun dengan solusi nya, setiap orang akan mempunyai dan memilih solusi nya masing-masing, mau ambil yang simpel namun nyaman atau mau ribet dan hasil nya juga mungkin bisa nyaman atau sebaliknya"


"apa sih, jangan muter-muter gitu ngomongnya, ana gak faham loh iam, serius"


"begini BESTie, sebenarnya solusi nya ada pada diri anti sendiri. yaitu tentang perasaan anti, keikhlasan hati anti. kalau anti mau menerima kedekatan dokter Aisyah dengan Naura, menurut ana itu lebih baik karna akan mengurangi beban pikiran anti, juga perasaan nyaman pada Naura. insyaallah dokter Aisyah tidak akan pernah bisa menggantikan posisi anti di hati Naura, apalagi anti sekarang selalu ada di samping nya. tapi kalau anti masih kekeuh dengan sikap anti yang sekarang maka akan banyak yang merasa tidak nyaman, seperti dokter Aisyah akan menjauh dan mungkin akan benar-benar pergi tapi itu akan berdampak pada dua keluarga antar keluarga suami mu dan dokter Aisyah. anti faham kan maksud ana?"


aku hanya diam mencoba menyerap apa yang barusan dikatakan oleh sahabat ku.


"ini hanya tentang bagaimana cara kita berdamai dengan hati kita ukhty"


Maryam tersenyum sambil mencengkram erat tangan ku.


"anti tahu, kenapa ana pindah ke sini?"


tanya Maryam, dan aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"itu karna mertua ana belum bisa sepenuhnya menerima ana"


"ko bisa? kenapa begitu Iam?"


aku sedikit kaget mendengar perkataan Maryam tentang alasan nya pindah ke sini.


"iya nur, karna dari awal pernikahan ku dengan mas Ahmad ternyata ibu nya tidak memberikan restu sama sekali. ibu nya ingin mas Ahmad menikah dengan Azizah anak dari salah satu sodara jauh nya. awal nya ana marah, karna mas Ahmad tidak memberitahukannya dari awal, tapi ana mencoba menerima itu dan berusaha mengambil hati ibu mertua agar bisa menerima ana. tapi ternyata tidak mudah, semua yang ana lakukan selalu salah di mata beliau, hingga akhirnya mas Ahmad mengajak ana buat pindah ke sini. tentunya karna mas Ahmad akan kembali mengajar juga di pondok. jadi setidak nya kepindahan kami tidak terlalu membuat ayah khususnya merasa tidak enak karna sikap ibu pada ana"


aku menatap Maryam dengan dengan sedih, aku tidak menyangka jika ternyata ujian yang dihadapi oleh sahabatku lebih sulit dari pada aku.


"jadi inti nya sob, kita akan diuji melalui jalan yang berbeda-beda untuk melatih kesabaran dan pasti nya untuk lebih meningkatkan iman kita juga, dan pasti nya untuk menguji rasa syukur kita juga. dan kunci nya ada di sini"


lanjut Maryam sambil menyentuh dada ku.

__ADS_1


benar, ujian setiap manusia itu berbeda-beda. tapi kunci dari semuanya itu ada pada hati kita, jika kita mampu berdamai dengan hati maka kita akan mudah menerima dan melewati keadaan yang menurut kita sulit. insyaallah.


__ADS_2