
dua belas orang yang dipanggil oleh ustdzah melalui speaker, kini sudah kumpul di ruang mahkamah amni dengan kepala menunduk, termasuk aku. tak ada suara yang keluar dari mulut kami, hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. mungkin sebagian sudah tahu dengan kesalahannya, dan sebagian nya mungkin sedang bertanya-tanya apa kesalahannya, atau mungkin pertanyaan itu hanya berlaku pada ku. karna aku benar-benar buntu, ku putar semua memori yang ada di kepalaku jika aku melupakan sesuatu yang masuk pada kategori pelanggaran tapi semua itu buntu, aku benar-benar tidak tahu apa kesalahan ku. sebenarnya mudah saja aku hanya perlu sedikit bersabar menunggu ustadzah bagian keamanan datang dan bertanya langsung, atau tanpa kutanyakan mereka akan menyebutkan apa kesalahanku. tapi sungguh hati ini tidak bisa tenang, tidak bisa sabar ingin segera tahu apa kesalahanku hingga namaku dipanggil ke sini, aku ingin segera membela diriku jika memang aku tidak bersalah, dan segera keluar dari sini, membebaskan perasaan takut dan Malu ku.
"assalamualaikum wr wb" ustadzah Mila masuk diikuti oleh empat ustadzah lainnya yang juga termasuk bagian keamanan
"waalaikumsalam wr wb" jawab kami dengan masih kepala yang menunduk
__ADS_1
"ukhti Dewi, Yessi, asri, Salamah, Nadia, Nanda, Wulan, Dina, Adiba, Syakira, Selly, dan,,,nurain" kata ustadzah Mila menyebut Nami kami satu persatu. aku baru sadar ternyata Selly dan Syakira juga sama masuk dalam daftar panggila.
"sudah lengkap ustadzah, tinggal kita tunggu pengakuan mereka atas kesalahan nya, sebelum kita sebutkan kesalahan mereka satu persatu" kini ustadzah nisa yang bersuara, mengeluarkan pernyataan yang seolah menyindir kami agar mengakui kesalahan kami.
tapi tak ada satu pun diantara kami yang berani mengakui atau hanya sekedar mengeluarkan suara. kami terlalu takut dan malu, bahkan aku yang tadi nya ingin sekali bertanya mendadak ciut jika sudah berhadapan langsung dengan kelima ustadzah bagian keamanan. ternyata benar kata teman-temanku yang pernah melakukan pelanggaran berat, ini menegangkan seolah kami sedang disidang dihadapan hakim yang hendak menjatuhkan ponis hukuman kepada tersangka.
__ADS_1
"oke, masih pada gak mau buka suara juga. ya udah ana tanya satu-satu. ukhti Dewi anti tahu kenapa anti dipanggil kesini?" tanya ustadzah Nisa pada teman ku Dewi
"ana gak tahu ustadzah" jawab Dewi dengan terus menundukan kepala
"anti? anti? anti?" ustadzah Nisa menunjuk satu persatu kepada kami, namun jawabannya sama. semua hanya bisa menggelengkan kepala, entah memang karna tidak tahu atau tidak tahu kesalahan mana yang harus diakui karna terlalu banyak kesalahan yang dilanggar.
__ADS_1
"wa anti nurain? sama seperti mereka merasa tidak melanggar peraturan pondok?" kini giliran ku yang dicerca dengan pertanyaan, dan aku,,,,hanya menggeleng sama seperti yang lain
"kalau kalian semua tidak ada yang merasa bersalah, terus kenapa dipanggil ke sini,, hah? jawab,, jangan hanya nunduk dan geleng kepala. kalian pikir kita manggil kalian kesini tuh tanpa alasan gitu?" suara ustadzah Mila mulai meninggi seolah kesal dengan jawaban kami semua yang tidak merasa telah melanggar aturan pondok, atau mungkin lebih tepatnya tidak ada yang mau mengakuinya sendiri dan menunggu hingga ustadzah menyebutkan kesalahan setiap masing-masingnya.